Pagi ini [Kamis 24/1], Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) kembali menikmati kebebasanya, setelah setahun lebih terpenjara di Mako Brimob karena tersandung kasus penistaan agama. Sejak kemarin, berita bebasanya Ahok sudah ramai di media-media, baik media konvensional maupun media sosial internet. Demikian juga dengan sambutan para pendukungnya yang sering kita kenal dengan Ahoker, sejak kemarin sudah mulai menginap di Mako Brimob hingga pagi tadi menanti kedatangan Sang Tjahaya Purnama.

Berkaitan dengan berita bebasnya Ahok, ada sebuah foto yang menarik perhatian kami pagi ini.

Tentu juga menarik perhatian media-media lainnya. Dari amatan Tim Sora Sirulo, ada beberapa media nasional yang juga memasang foto tersebut.

Adalah foto dimana 3 perempuan membentangkan spanduk dengan bertuliskan, “Tidak Ada Pejuang Yang Tidak Terluka. Wellcome In Paradise “Ahok”. With Love Wonder Nande.” Di bagian bawah tertulis, “Gurukinayan Family. 24 Januari 2019.”

Mengapa foto ini menarik bagi kami, dan, tentu kami sangat yakin kalau ketertarikan kami ini berbeda dengan ketertarikan media lain terhadap foto ini.

Gadis-gadis Suku Karo dengan busana UIS dan bukan ULOS.

Saya jadi ingat percakapan beberapa hari lalu dengan antropolog Juara R. Ginting via telepon seluler. Kami bercerita panjang lebar tentang “bahasa rahasia Suku Karo” yang hanya dipahami oleh kalangan Suku Karo, dan mungkin ada beberapa orang di luar (non-) Suku Karo yang sudah memahaminya.

Banyak media yang memasang foto itu karena menurut mereka itu menarik. Memang kita akui sangat menarik! Tetapi saya berkeyakinan, mereka tidak begitu paham (tahu) maksud dari beberapa kata-kata yang tertulis di spanduk itu. Atau pun tidak tahu, mereka ini siapa.

Itulah yang saya maksud di atas soal “bahasa rahasia Suku Karo” tadi.


Setiap Orang Karo pasti dapat menduga (walau tidak mengenal), kalau ketiga perempuan itu, kalau bukan Orang Karo (etnis Karo), asal dari Tanah Karo, atau setidaknya memiliki kedekatan dengan Suku Karo dan Tanah Karo.

Darimana orang Karo tahu?

Pertama. Dari penampilan mereka yang memakai syal “uis gara” (kain tenun tradisional Karo), kalau tidak salah itu jenis “uwis nipes” yang biasa dipakai oleh perempuan Suku Karo. Itu bukan ulos sebagaimana diberitakan oleh salah satu media nasional yang menganggap semua dari Sumatera Utara yang bukan Melayu pastilah Batak.

Ke dua. Kata “nandé” (Cakap Karo) yang jika kita terjemahkan secara harafiah ke Bahasa Indonesia artinya “ibu”. Bisa kita menduga ketiga perempuan ini adalah “pernandén” atau kaum ibu atau biasa wargaNET pakai kata “emak-emak”. Dan itu bukan inang-inang (ibu-ibu dalam Bahasa Batak) sebagaimana wargaNet menyebut ibu-ibu pengungsi Sinabung yang menyatakan dukungannya kepada Jokowi, padahal mereka adalah nande-nande dari Suku Karo.

Ke tiga. Ada tertulis “Gurukinayan […]” Gurukinayan merupakan salah satu dari sub-merga Suku Karo, yang terintegrasi ke merga Sembiring. Biasa ditulis lengkap dengan Sembiring Gurukinayan. Maka dapat kita menduga, mereka ini mungkin beru Gurukinayan, atau mungkin yang punya kedekatan atau anggota keluarga Gurukinayan.

Gurukinayan adalah juga nama kampung di kaki Gunung Sinabung (Dataran Tinggi Karo). Kampung ini sekarang telah hampir rata dengan tanah setelah awan panas Sinabung melahapnya (lihat video di bawah ini). Merga atau clan Gurukinayan berasal dari kampung ini.


Jika kam rajin mengikuti berita-berita nasional dari Kabupaten Karo yang berkaitan dengan erupsi Gunung Sinabung, tentu kata Gurukinayan ini tidak asing bagindu. Karena desa ini merupakan salah satu desa terdampak erupsi Sinabung terparah, sehingga warganya turut direlokasi.

Jadi, dari 3 hal tersebut di atas saja, setiap Orang Karo pasti sanggup mengidentifikasi ketiga perempuan itu. Apakah mereka berdarah Suku Karo, atau asal dari Tanah Karo, ataupun memiliki hubungan dekat dengan Orang Karo. Apalagi memang salah satu dari ketiga perempuan itu cukup dikenal di kalangan Suku Karo, terkhususnya masyarat Karo Kristen.

1 COMMENT

  1. Artikel pencerahan yang mantap.

    “Tidak Ada Pejuang Yang Tidak Terluka. With Love Wonder Nande.”

    Wow, pernyataan dan expresi indah.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.