Kolom Boen Syafi’i: SELAMAT HARLAH MUSLIMAT NU YANG KE 73

0
173

“Yo iki le pimpinanku, orangnya baik dan ora sombong,” kata ibu mertua saya sambil menunjukan foto Ibu Khofifah Indar Parawangsa di gantungan kalendernya. Ternyata apa yang diucapkan oleh ibu mertua juga sama persis seperti apa yang diucapkan oleh emak saya. Suka tidak suka, pengaruh Ibu Khofifah di Muslimat NU saat ini sangat kuat dan mengakar bagi anggotanya.

Ibu kelahiran Surabaya 53 tahun silam ini dulunya pernah lama ngikut Gus Dur untuk menjadi ajudannya.

Sampai saat ini, beliau adalah pengendali utama Muslimat NU, sebuah sayap organisasi perempuan milik Nahdlatul Ulama. Bagi anggotanya, Ibu Khofifah itu ya Muslimat dan Muslimat NU itu ya Ibu Khofifah itu sendiri. Maka tidak mengherankan jika beliau berhasil terpilih sebagai Gubernur di Jawa Timur saat ini, oleh karena besarnya cinta anggotanya terhadap beliau.

Ibu Khofifah sendiri pernah menjadi Timses Pak Jokowi di Pilpres 2014 silam. Hingga kini pun beliau tetap konsisten mendukung Si Tukang Kayu bertampang ndeso nan sederhana ini.

Ah, NU tanpa Muslimat, pasti akan lemah tak berdaya? Dari para Muslimat NU lah segala cobaan dan rintangan yang menerpa Ormas NU dapat dilalui dengan mudahya. Insya ALLOH jika Ibu Khofifah mendukung Pak Jokowi, maka jutaan anggotanya akan tetap sami’na wa atho’na terhadap pimpinannya.

Kenapa harus Jokowi, bukanya si Prabowo? Karena, Jokowi mempunyai Istri Muslimat NU yang bernama Ibu Iriana. Lha, kalau Prabowo? Mosok seng ikut Muslimat itu kuda betinanya?

Ngawur wae koen iku Mblo Mblo.

Salam Jemblem..

Lantunan shalawat menghiasi langit di minggu pagiku. Udara basah oleh embun semalam. Seorang ibu memunguti satu persatu daun yang jatuh. Membersihkan halaman rumahnya yang rindang. Pada setiap daun yang dipungut, ia melantunkan sebaris shalawat. Pagi ini, ia gembira. Ia mendapatkan dua keranjang besar shalawat. Mungkin karena hujan semalam membantu meluruhkan daun-daun itu. Setiap pagi, ibu itu membersihkan halaman rumahnya. Memunguti daun satu-satu dengan tangannya. Ia hanya berharap, kulit tangan yang mulai keriput akan disambut uluran tangan Fatimah Azzahra. Membimbingnya bertemu kanjeng Nabi. "Ya, Nabi. Inilah perempuan yang setiap pagi mengumpulkan berkeranjang-keranjang shalawat bagimu…"Daun-daun di pepohonan berebut menjatuhkan diri. Berserakan di halaman. Mereka ingin menjadi bagian dari ungkapan cinta."Ayo, bu. Antarkan aku ke hadapan Rasulullah. Letakkan aku di ujung kakinya. Agar aku bisa menyentuh kulit mulia itu. Ayo, bu. Antarkan aku dengan senandungmu…"Sebab cinta harus diucapkan. Sebab pujian harus disampaikan. Pada Kanjeng Nabi dan Keluarga sucinya.Allahumasholiy ala Muhammad waali Muhammad…

Posted by Eko Kuntadhi on Saturday, January 26, 2019
Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.