Palu hakim diketuk. “Glotak!” Ahmad Dhani dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara. Hari itu juga lelaki berkepala plontos ini digelandang ke sel. Dimasukkan ruangan, tidur bersama narapidana lainnya.

Dhani divonis karena ujaran kebencian yang diunggah di akun medsosnya.

Musisi ini memang sering berkata kotor. Karena itulah ia cocok bergabung dengan tim Prabowo-Sandi. Habitatnya sama.

Tapi Dhani memang selalu silau dengan popularitas. Ia mabuk ketenaran. Segala tindak tanduknya, yang menghadirkan kontroversi, bagi saya semata karena ia ingin dibicarakan orang. Ia suka dengan popularitas. Meskipun harus dengan jalan kontroversi.

Dulu Dhani memposisikan dirinya sebagai pengikut Gusdur. Bukan karena mendalami dan meyakini ide-ide Gusdur. Tapi karena Gusdur adalah tokoh paling kontroversial yang bisa membantu mengangkat posisi Dhani.

Apalagi saat itu Dhani dimusuhi FPI. Dikafir-kafirkan Rizieq Shihab.

Kontroversi Gusdur bertujuan untuk mencerdaskan rakyat. Ada tujuan mulia dari semua langkahnya. Bagi Gusdur, popularitas sama sekali gak ada dalam kamusnya. Ia gak butuh itu. Ia hanya ingin berjalan dengan nilai yang dianutnya.

Berbeda dengan Dhani. Ia sangat merindui popularitas dan senang mencari perhatian orang. Segala tindak tanduknya mengarah ke sana.

Di ketiak Gusdur, Dhani berlindung dari serangan FPI dan gerombolannya.

Saya sempat terkecoh dangan album Republik Cinta. Di album itu syair-syair bernuansa sufistik sangat terasa. Bahkan ada salah satu video klipnya yang menggambarkan adegan tarian sufi Jalaluddin Rumi.

Waktu itu, saya fikir Dhani adalah musisi dengan ide toleransi yang dilandasi semangat jalan sufistik. Saya sangka nilai Rumi atau Al Ghazali melekat dalam kepalanya. Syair-syair lagunya di album tersebut merefleksikan kedalaman cinta ala Matsnawi.

Bahkan ketiga putranya dinamakan persis seperti tokoh sufi: Jalaluddin Rumi, Al Ghazali dan Abdul Qadir Jaelani.

Tapi, ada unsur lain dalam dirinya. Ia sangat menyukai figur militer. Ia menganggumi fasisme ala Hitler dan Mussolini. Nah, ini sesuatu yang sangat bertentangan dengan jalan sufi maupun nilai yang diyakini Gusdur.

Mana mungkin cinta ala Rumi selaras dengan sikap fasis. Mana mungkin seorang demokrat sejati seperti Gusdur beriringan dengan ideologi ala Hitler.

Sepertinya, dorongan kecanduan pada militer dan nilai fasis itulah yang melabuhkan pilihannya pada Prabowo. Tahun 2014, ia sempat membuat klip kampanye Prabowo-Hatta yang heboh karena menggunakan seragam Nazi.

Dorongan itu yang justru akhirnya membuat Dhani berbenturan dengan penganut nilai toleransi, pengikut ajaran Gusdur dan kaum pesantren yang dekat dengan ajaran Rumi, Ghazali atau Abdul Qodir Jaelani.

Kegandrungan pada fasisme dan pada akhirnya menjadi pilihan politiknya mengharuskan ia malah bergandengan tangan dengan gerombolan FPI, HTI dan sejenisnya. Gerombolan yang membenci jalan cinta. Jalan agama penuh damai.

Kini, Dhani berada di tengah komunitas yang terbiasa memaki dan berkata busuk.

Ingat, Dhani suka dengan popularitas. Ia gak mau jadi anak bawang. Di tengah komunitas seperti apapun ia ingin menonjol. Maka, ketika komunitasnya suka memaki dan berkata kasar, Dhani harus tampil menjadi yang paling kasar. Paling jago memaki. Agar ia dianggap lebih hebat dari yang lain.

Itulah yang akhirnya menyeret Dhani ke penjara.

Seandainya saja ia setia pada nilai sufistik dan ajaran Gusdur, mungkin nasibnya akan jauh lebih baik dibanding sekarang. Dhani korban pertarungan diri yang gagal dimenangkannya.

“Mas, kayaknya pemenangnya adalah Maia,” ujar Abu Kumkum.

1 COMMENT

  1. Tulisan menarik soal kisah seorang pemusik Ahmad Dhani. Kisah yang banyak positifnya pada mulanya, berakhir dengan banyak negatifnya bagi diri AD mupun bagi pandangan publik atas dirinya.
    Publik Indonesia tentu masih mengharapkan AD bisa kembali memainkan peranan positifnya seperti yang lalu-lalu jauh dari intoleransi sesama anak bangsa yang bhinneka tunggal ika ini.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.