Kemarin sore, saudara dari Kang Paidi sedang kalap, dengan mata yang memerah sambil membawa sajam berupa samurai. Dalam hati Kang Paidi berkata: “Oh, ternyata dia lagi panas hatinya.” Setelah agak lama, akhirnya saudara dari Kang Paidi ini diajak bicara pelan-pelan tanpa sedikitpun ada rasa bermusuh-musuhan.

“Piye toh Mas ceritane, kok bisa seperti ini?” kata Kang Paidi kepada saudaranya. Dia pun mengungkapkan segala kekesalan beserta uneg-uneg yang dipendam selama ini.

“Woalah gitu, toh? Yo wes kita redam dulu emosinya. Wes tuo, Mas, gak pantes dilihat tetangga apalagi anak Istri. Hidup itu cuma ada dua pilihan, Mas. Sampean tanam kebaikan ya hasilnya bakal jadi kebaikan, dan begitu pula sebaliknya. Uwes, ayo podo sinau bareng-bareng kita belajar untuk meredam emosi, sudah umur gak pantas lagi gontok gontokan.”

Selang beberapa lama bicara dari hati ke hati, akhirnya dia pun bisa keluar dari api amarahnya.

“Ya, kita selesaikan bersama-sama. Sudah …. sudah …. Gak ada masalah, kok. Cuma salah faham saja. Ayo sama-sama hidup rukun, kita tanam kebaikan bareng-bareng. Semua yang terjadi di kehidupan itu adalah ilmu, Mas, ilmu yang membuat kita lebih baik ke depanya. Sampean gak sendiri, ada saya yang akan selalu mendampingi.”

Dan, akhirnya dia menyerahkan samurainya kepada Kang Paidi.

Serentak menjawab: “Alhamdulillah.” Dia pun memeluk Kang Paidi sambil sesunggukan.

So, makna dari kejadian ini adalah, jangan melawan api dengan api, tapi siramlah air karena memang hal itulah yang dibutuhkannya. Hal ini pula yang dilakukan oleh Jokowi sang Presiden kita terhadap lawan politiknya. Politik dari hati ke hati, dan dampaknya akan menghasilkan cinta.

Ciee Ciee Swit Swit.

Namun, bagaimana jika api itu masih saja gak bisa dipadamkan?Solusinya mending usir saja si api agar ngumpul dengan si api-api lainya. Gak lagi nyindir si api yang lagi minggat ke Saudi, lho, ya.

Salam Jemblem..

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.