Pagi yang tenteram tiba-tiba berguncang. Bom bunuh diri meledak di Filipina. Puluhan orang bergelimpangan meninggal dunia. Ratusan luka-luka, mungkin cacat seumur hidupnya. Duka derita bercampur marah dan kecewa. Di rumah ibadah, justru darah tumpah. Sekeji itukah monster atau binatang? Tidak. Itu kebuasan manusia yang pengecut dan sakit jiwa. Dan, ternyata, yang sudah sangit itu terindikasi orang Indonesia. Damn. Pilu dan malunya kita…

Kenyataannya, radikalisme dan fundamentalisme terlihat di sekitar kita dengan skala ringan sampai mengkhawatirkan.

Bibit-bibit ajaran tekstual, kaku, bahkan aneh bertebaran. Seorang teman misalnya, merasa terganggu dengan perilaku keponakannya. Remaja yang baru masuk sebuah sekolah, menolak solat di rumah hanya karena ada pajangan foto-foto keluarga di figura.

Pernah juga viral sebuah video seorang bersarung dan peci mencuri. Saat diinterogasi petugas mini market, dengan penuh keyakinan namun bodoh dia justru menantang silahkan lapor polisi. Dia keukeuh merasa tidak salah. Bagi dia, apa yang dilakukannya itu sebuah kebenaran dan perjuangan: Mencuri adalah bagian dari cara menghancurkan produk-produk kafir… 

Bodoh tapi nyata. Agama sebetulnya banyak menyebut bahwa logika dan akal itu utama. Tapi prakteknya, banyak orang mengutamakan ‘pokoknya’ titik. Tidak mau tahu. Pokonya tempe. Akal sehat dan nurani mendadak mati, saat tidak butuh pertimbangan lagi. Pokoknya dia menista agama, titik. Ini bukan politik, titik. Ente munafik, hubbudunya. Ingat saat mati nanti butuh ulama. Mau, jenazahmu nggak disolatkan… Adduh!

Bila sudah fanatik buta, agama ya milik sendiri dan kalangan terbatas saja. Bukan lagi jalan keselamatan dan kemaslahatan umum universal. Ego sektarian yang di depan. Ada aroma pesimis pada dunia, sinis dan curiga pada yang beda. Merasa gang sempitnya adalah jalur utama menuju surga. Sampai lupa yang nyata di depan mata adalah peri kehidupan ini. Cerita surga dan neraka sejak dahulu kala tetap saja misteri.

Bagi sebuah peradaban, tipis harapan bila manusianya berhaluan Takfīrī. Mereka mudah menuduh Muslim lainnya dan penganut ajaran Agama lainnya sebagai kafir dan murtad. Paling rendah, dia akan menjadi munafik: benci dan anti pada kafir, tapi memanfaatkan temuannya, teknologinya, dan fasilitasnya, saat dibutuhkan. Paling ekstrim ya seperti di Filipina, pura-pura mau ibadah ke gereja lalu meledak!

Maka, saya termasuk yang tidak berminat larut dalam lautan gerakan turun ke jalan apapun itu judulnya, bertakbir kibar bendera tauhid. Unjuk kekuatan atau unjuk kelemahan. Saya menghargai orang-orang yang tak pamer agama, tetapi bekerja keras untuk kemandirian dirinya dan menunjukkan perhatian, penghormatan, dan kasih sayang pada sesama.

Di atas itu semua, tentu kita pun tahu, ada kepentingan luar yang mengincar. Bila bangsa ini terpecah-belah mereka senang karena bisa menancapkan pengaruh dan mengekpoitasi lebih leluasa lagi. Caranya, antara lain mereka mendorong tumbuh kembang paham radikal. Semua agama berpotensi dibuat radikalisasi. Sesudah siap petik dan matang, terjadilah benturan bahkan perang. Kalah jadi abu, menang jadi arang. No. Jangan sampai!

#religion_humanity

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.