Siapapun tahu, perang Bharatayuda adalah tentang kekuasaan, tentang angkara murka, kebencian, kemunafikan, kebiadaban hingga Amoral vs Kebaikan nilai kemanusiaan, moralitas dan menegakkan keadilan dalam ruang harmonisasi berbangsa dan bernegara.
Kurawa yang didukung oleh manusia-manusia culas, manusia yang ingin menang sendiri dalam segala hal, menjungkirbalikkan rasionalitas.

Dia begitu ofensif melakukan serangan bertubi-tubi dengan segala cara.

Mulai dari fitnah, ujaran kebencian hingga menutup mata hatinya dari sisi Humanisme. Selalu dan selalu berusaha menyingkirkan Pandawa. Sepertinya, ini persis apa yang mereka lakukan terhadap Jokowi beserta orang orang baik di Republik ini.

Jokowi yang berusaha mati-matian mengejar ketertinggalan Indonesia dari negeri tetangga. Jokowi yang berusaha keras membangun negeri. Jokowi yang telah berhasil merebut asset bangsa dari cengkeraman asing. Dipandang sebelah mata. Bahkan dianggap tidak punya prestasi. Dianggap hanya main-main.

Jika dirunut sejak Jokowi terpilih pada 2014, Koalisi yang katanya permanen berusaha nyrimpeti, merongrong dan menjegal. Saat itu, target mereka adalah 2 tahun Jokowi harus tumbang. Harus lengser.

Jika Kurawa secara jelas didukung oleh manusia-manusia culas, Jokowi didukung oleh orang-orang baik. Orang-orang yang beintegritas. Orang-orang yang berprestasi dan pekerja keras dengan orientasi demi Bangsa dan Negara. Demi kesejahteraan semua penduduk negeri.

Seperti halnya Kurawa, di sana ada Sengkuni yang didukung oleh tokoh agama yang radikal dan intoleran. Tokoh super culas. Super licik dan super munafik. Mereka melakukan hasutan pada anak bangsa. Mulai Jokowi ora iso opo-opo, dianggap PKI hingga sekarang Jan Ethes, anak balita, anak yang bicaranya saja masih pelo, masih cedal, harus dikuyo-kuyo oleh mereka. Oleh yang berpenampilan gamis.

Bahkan yang lebih miris, seorang Ibu Sri Mulyani yang jelas-jelas sangat berprestasi tidak diakui sama sekali.

Adakah manusia Sengkuni di kubu Jokowi? Tidak ada! Adakah tokoh agama yang mendukung Jokowi suka menghasut dan memprovokasi umat? Tidak ada. Adakah ulama yang mendukung Jokowi mengajak umat untuk demo soal salib, soal lampion, soal sandal jepit yang ada tulisan Arab? Tidak ada.

Pendukung Jokowi lebih bermoral. Pendukung Jokowi lebih rasional. Buktinya adalah, pendukung Pak Wowolah yang ditangkapi polisi karena ujaran kebencian dan melakukan hoax. Melakukan kabar bohong. Itu fakta!

Dari narasi sederhana di atas kita semua bisa menyimpulkan bahwa Pilpres 2019 tidak main-main. Kelangsungan Bangsa dan Negara kita pertaruhkan.

Apalagi di golongan pendukung Pak Wowo ada penumpang gelap yang bernama HTI, golongan intoleran dan radikal, plus Orba. Komplit sudah bahwa kita semua yang sekarang mendukung Jokowi adalah pasukan “perang” melawan kebathilan dan nafsu angkara murka.

Perang mempertahankan bangsa dan negara. Perang mempertahankan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dan itu semua demi anak cucu kita kelak.

Jika pilpres 2019 seperti Perang Bharata Yuda, tidak salah, bukan?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.