Pilpres 2014. Pertatungan seru. Suara Jokowi-JK yang sempat unggul, waktu itu mulai melorot. Kampanye fitnah PKI via Obor Rakyat merasuk ke kampung-kampung. Prabowo senang. Mereka merasa bakal memenangkan pertarungan. Berbagai caci-maki dan fitnah terhadap Jokowi terus dilancarkan.

Bukan hanya tuduhan PKI. Jokowi yang sejak kecil muslim dituduh non-muslim.

Orangtuanya asli pribumi diisukan Tionghoa. Bahkan yang paling brutal, Jokowi dibilang anak pungut. Rakyat yang buta politik memamah fitnah itu. Masjid-masjid dijadikan ajang penyebaran kebencian. Mimbar agama merembeskan kalimat nista. Prabowo disetarakan orang suci yqng wajib dipilih.

Waktu itu Jokowi sedang berkampanye melempar ide tentang Hari Santri. Ide itu langsung disambut Fahri Hamzah. “Ide sinting!” kata Fahri.

Apa yang terjadi? Para santri tersinggung dengan bacot Fahri. Orang PKS yang secara genetis membenci cara beragama ala NU ini, telah menggores luka lebih dalam di kalangan Nahdiyin. Puluhan juta warga NU merasakan betapa sakitnya dibilang sinting.

Sejak saat itu suara Jokowi-JK menanjak lagi. Orang ogah memberikan suaranya pada Prabowo yang dilingkari manusia bermulut tajam.

Kini, Pilpres 2019. Pertandingan ulang Jokowi vs Prabowo. Kemarin Jokowi bertemu Kyai Maimun Zubair di pesantrennya. Tokoh kharismatik ini berusia lebih dari 90 tahun. Ia mendoakan Jokowi.

Tapi lidah tuanya sedikit terpleset. Nama Prabowo disebut. Mbah Moen bilang semoga orang yang duduk di sebelahnya, Prabowo (Jokowi duduk di sebelah Mbah Moen) terpilih jadi Presiden untuk ke dua kalinya. Setelah sadar, Mbah Moen menjelaskan kesalahan ucapannya. Ia menerangkan doanya tersebut untuk Jokowi.

Tapi ada mahluk kurang ajar bernama Fadli Zon. Politisi pembantu Prabowo ini menulis puisi tentang doa Mbah Moen.

“Doa Sakral
Seenaknya kau begal
Disulam kembali
Tak punya moral
Agama diobral…

Orang tersentak. Betapa biadabnya puisi ini. Bagi saya ini bukan puisi. Ini adalah selebaran politik. Ditulis oleh tim Prabowo-Sandi, untuk menistakan seorang kyai besar. Guru yang dihormati jutaan santri.

Kyai yang kekuasaan ilmu dan keindaham akhlaknya ini oleh Fadli disebut ‘begal’, ‘tak punya moral’ dan ‘pengobral agama’.

Tidak kurang dari Alissa Wahid (Putri Gusdur), yang selama ini tidak terlibat gonjang-ganjing politik merasa tersetrum puisi Fadli. Suara protes Mbak Aliyah mewakili rasa sakit umat yang ulamanya dinistakan oleh Fadli Zon.

Saya tidak tahu. Mungkin genetika cara beragama Fadli dan Fahri sejenis. Mereka merasa tidak perlu menghormati santri dan kyai-kyai NU. Makanya bacot mereka seperti comberan penuh kecoa.

Jenis ulama yang mereka hormati seperti Bahar Smith atau Rizieq. Ulama dengan kekotoran mulut yang sama.

Fadli berani terang-terangan menistakan Mbah Moen, hanya karena berdoa untuk Jokowi. Padahal Prabowo juga pernah mengunjungi pesantren Mbah Moen dan diterima dengan baik. Diperlakukan layaknya tamu terhormat. Sebab begitulah Baginda Nabi mengajarkan akhlak pada umatnya.

Puisi Fadli sudah tersebar. Orang tahu bagaimana perlakuan dia terhadap kyai. Orang tahu betapa kurang ajarnya ia pada Mbah Moen.

Tampaknya, yang akan membuat Prabowo nyungsep lagi salah satunya karena dia dikelilingi oleh orang yang gak punya adab. Orang yang lupa bahwa akhlak jauh lebih penting ketimbang bacot.

“Ketika Prabowo didukung oleh Bahar Smith, kenapa Fadli gak bikin puisi juga ya,” ujar Abu Kumkum. Lalu Kumkum menulis puisi.

Bahar Smith ulama gahar
Hobinya gebukin orang
Dia mendukung Prabowo
Yang suka menculik orang

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.