Hiruk-pikuk pergolakan politik di Venezuela sekarang ini, dan juga di banyak negeri Amerika Latin lainnya, sangat erat kaitannya dengan perubahan perpolitikan dunia; perjuangan kepentingan nasional kontra kepentingan global neolib NWO. Politik meninggalkan arwah lama. Sosialisme digantikan oleh arwah baru nasionalisme.

Sebenarnya di Amerika Latin (AL), dalam kondisi sekarang ini (oleh perubahan dunia ke arah nasionalis tadi), negara-negara nasional AL bisa berangsur jadi negara nasionalis sejati.

Pertama, karena gerakan sosialis di benua ini terlihat jelas memang cenderung mementingkan dan memperjuangkan kebutuhan nasionalnya. Ke dua, pimpinan atau bimbingan ke arah tujuan sosialis internasional (komunisme, internasionalisme) sudah tidak ada. 

Perubahan jaman dan arahnya sudah jelas bagi publik dunia, yaitu menuju terciptanya negara-negara nasional dengan batas-batas yang jelas dan terjaga. Tanpa tembok perbatasan atau dengan tembok perbatasan seperti yang mau dibangun oleh Trump dalam menjaga ‘kebocoran’ perbatasan dengan Mexico, menjaga kedaulatan, keutuhan dan keamanan suatu negara pada umumnya.

Gerakan menuju kedaulatan negara nasional ini sekarang terjadi di seluruh dunia. Terlihat jelas sekarang di Eropah. Kemajuan pesat partai-partai nasionalis yang disebut partai ‘kanan’ populis oleh orang-orang globalis anti-nasionalis.

Partai-partai internasional (sosiais, sosial demokrat, partai buruh) yang selama abad lalu mendominasi sesemua negeri-negeri Eropah, sekarang telah mundur. Tidak lagi menjadi partai dominan terbesar. Sudah tersisihkan oleh partai-partai nasionalis ‘kanan’ populis itu seperti Brexit di Inggris, AfD di Jerman, National Front di Perancis, The Liga Nord di Italia, SD di Swedia, dst. Juga di ex Eropah Timur partai-partai nasionalis ini maju pesat pada awal Abad 21, di Polandia, Hongaria, dll.

Kita bisa saksikan sendiri juga di negeri kita. Aliran pemikiran nasional ini sangat jelas di berbagai partai politik dan juga di figur Presiden Jokowi. Bahkan juga terlihat pada figur oposisinya Prabowo. Tetapi, pada diri Prabowo jadi kabur karena didukung oleh orang-orang radikal Islam, HTI, dsb.

Bisa disaksikan tiap hari sikap dan tindakan nasionalis Jokowi yang selalu mendasarkan atas kepentingan nasional Bangsa Indonesia. Kesederhanaan, dan sikap ndesonya menonjol, tetapi tetap nasionalis. Jokowi termasuk salah satu pemimpin nasionalis terbesar dan tepercaya di Asia.

Kita juga bisa mencatat dan merasakan arah kepentingan nasional bangsa-bangsa lain termasuk China sendiri, juga Rusia. Di AS, Trump adalah pertama di Gedung Putih sebagai presiden nasionalis di jaman modern. Kalau abad lalu sebelum Trump Gedung Putih adalah perwakilan sejati dan merupakan centrum  imperialis perampok internasional NWO deep state, dan ketika itu berlaku kalimat ini:

“And their lust for Third World exploitation, theft and violence is so insatiable that any foreign national leader who actually attempts to practice democratic principles directly benefiting and uplifting their native population is simply not tolerated and through the globalists’ secret private army the CIA that answers to no one in government, that leader is quickly assassinated and/or overthrown,” .

Lihat diweb global research:

Divide and Conquer: The Globalist Pathway to New World Order Tyranny

Pernyataan di atas 100% betul. Kita masih ingat berapa banyak pemimpin-pemimpin nasional dunia yang terkena ‘assassination’ atau ‘overthrown’. Soekarno salah satu contoh korbannya 1965.

Selama Trump di Gedung Putih, pernyataan di atas tidak mungkin diberlakukan, karena bertentangan dengan kepentingan nasional Trump AS. Trump anti globalis, anti NWO, musuh utama deep state. Dia belakangan malah mau menarik pasukannya dari Syria maupun Afganistan. Ini tentu sesuai dengan isi pidato nasionalisnya dalam pelantikannya tempo hari bulan Januari 2017, dia bilang a.l.:

“We see good will with the nations of the world but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their nations first.”

Perubahan drastis dan nyata ialah bahwa the establishment NWO atau deep state ini tidak bisa lagi memakai Gedung Putih menjadi pusat gerakan tujuan NWO seperti terjadi di era Obama atau era-era presiden sebelumnya, dimana korbannya juga cukup banyak seperti pernah dituliskan oleh salah seorang economic hit man John Perkins:  

“Thus the overthrow of Mohammad Mosaddegh in Iran (1953); the Jacobo Árbenz coup in Guatemala (1954); the Salvador Allende coup and murder in Chile (1973); the mysterious airplane explosions that killed Jaime Roldós in Ecuador and Omar Torrijos in Panama (1981); the overthrow and murder of Maurice Bishop in Grenada (1983); the bloody invasion and capture of Manuel Noriega in Panama (1989).” (tulisan John Perkins dalam bukunya ‘New Confessions of Economic Hit Man’).

Dalam huru-hara politik di Venezuela sekarang ini, presiden nasonalis Trump mengakui oposisi Juan Guaido sebagai presiden, dan Maduro bilang:

“Venezuela adalah pusat perang dunia yang dipimpin oleh imperialisme Amerika Serikat dan negara-negara satelitnya,” kata Maduro dalam pidatonya (merdeka.com 27/1). Maduro masih didominasi oleh pemikiran lama imperialis AS tanpa mempertimbangkan kehadiran Trump sebagai presiden nasionalis, tanpa mempertimbangkan Kontradiksi Utama Dunia yang sudah berubah.

Mungkinkah AS Trump mengirimkan pasukannya menyerang Maduro?

Dari segi perubahan arah dunia tadi dan dalam tingkat perkembangan sekarang ini, Trump tidak mungkin melaksanakannya. Tetapi Trump akan menyatakan keberpihakannya kepada semua pemimpin-pemimpin nasionalis Amerika Latin, tidaklah diragukan. Sama juga halnya para ex pemimpin sosialis/ komunis dunia seperti Putin dan presiden Bolivia dll sudah terang-terangan menyatakan dukungannya terhadap Maduro.

Dunia bergolak, dunia berubah, tetapi arahnya sudah pasti!

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.