Pada masa itu, kekejian merajalela. Kaum muslim memang banyak tapi badai fitnah menerpa kehidupan mereka. Mereka bergelimang dalam kedzliman. Seluruh pecinta keluarga kanjeng Nabi dimusuhi. Dipenjara dan disiksa. Sel-sel pengab dipenuhi para pecinta sholawat. Mereka yang hatinya tetap tertambat dengan keluhuran ajaran Rasulullah.

Imam Jafar Assiddiq hidup di jaman itu. Jaman yang kelam.

Jaman ketika hadis-hadis palsu berseliweran. Jaman ketika orang-orang alim dinistakan oleh para politisi haus kekuasaan. Jaman ketika ulama-ulama palsu mendapat tempat di mimbar-mimbar agama.

Cucu keturunan Rasulullah itu menahan sabar dalam hidupnya. Segala derita dia adukan ke hadapan datuknya. Kesedihan dan penderitaanya akan menjadi saksi kelak di hadapan Allah. Ketika keindahan akhlak dan kedalaman ilmu dinistakan oleh orang-orang berperilaku kotor, imam mulia itu membawa derita hatinya ke dalam sujudnya yang panjang.

Setiap saat Imam Jafar melantunkan kepedihan itu. Diadukan pada malam-malam ketika ia bersujud. Diadukan pada siang hari ketika hatinya teriris melihat penderitaan rakyat kecil yang merintih.

Fitnah dan kebohongan telah mengotori agama datuknya. Kebencian dan nafsu kuasa telah merusak ajaran suci yang dibawa buyutnya. Ia mengadukan himpitan hatinya dalam sebuah syair sholawat.

Allahumma sholli ala Sayyidina Muhammad, wa asyghiliz dholimin min dholimin, wa akhrijna min bayni min saalimin, wa ala’alihi wa sahbihi ajma’in.

(Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Nabi Muhammad. Sibukkanlah orang-orang zhalim supaya mendapat kejahatan dari orang zhalim lainnya. Selamatkanlah kami dari kejahatan mereka. Dan berilanlah shalawat kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau)

Siang tadi di Kudus, Jawa Tengah, sebarisan santri melantunkan lagi sholawat yang diajarkan Imam Jafar Assadiq. Mereka mengadukan rasa sakit hatinya melihat ulama yang mereka cintai dinista oleh seorang politisi.

Mbah Maimoen Zubaer pasti dapat menahan sabar atas hinaan seorang politisi yang ditulis dalam puisi yang buruk itu.

Tapi santri-santrinya ikut merasakan kepedihan itu. Mereka tidak iklhas gurunya direndahkan oleh seorang politisi.

Dengarlah, ratusan santri itu mengadukan kepedihan hatinya. Persis seperti Imam Jafar memgadukan deritanya kepada Kanjeng Rasul.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.