Kolom Panji Asmoro: ADI BATAK DAN DAGING ANJING (Kisah Nyata)

0
402

Ketika Paus Fransiskus berkunjung ke Abu Dhabi [Minggu 3/2], yang membuahkan kesepakatan agar Vatikan dan Dunia Arab berhenti membawa-bawa Tuhan dan Agama demi mengukuhkan perdamaian dunia, entah kenapa aku teringat kisah dengan seorang teman SMA-ku puluhan tahun silam. Nama panggilannya Adi Batak (aku lupa nama lengkapnya).

Dia dipanggil Adi Batak karena berasal dari Suku Batak. Asyiknya, dia tidak masalah dipanggil demikian.

Aku dan si Adi ini lumayan akrab. Setiap lebaran dia selalu datang ke rumahku. Demikan juga setiap hari raya natal aku datang ke rumahnya. Teman SMA satu angkatanku dulu cukup banyak yang non muslim dan umumnya mereka memang berasal dari Suku Batak.

Nah, dari kawan-kawan Suku Batak yang non muslim lainnya, temanku ini lebih dikenal karena kegemarannya makan daging anjing. Suatu ketika, saat istirahat jam pelajaran, seperti biasa, kami ngumpul di kantin yang berada di luar sekolah. Sebagaimana remaja pada umumnya, waktu istirahat selalu kami isi dengan bercandaria.

Seingatku waktu itu, aku dan beberapa kawan tengah bincang-bincang tentang daging apa yang paling enak rasanya. Ada yang mengatakan daging sapi. Ada yang mengatakan kambing dan hewan halal lainnya. Bahkan ada pula yang mengatakan yang paling enak itu daging perempuan, karena tanpa dimasak dan dibumbui saja rasanya sudah lezat.

Si Adi yang sedari tadi hanya mendengar pembicaraan kami sambil menikmati sebatang rokok tiba-tiba nyeletuk. Dengan wajah serius dia berujar: “Wooyyyy!!! Kelen semua tu salah! Yang paling enak tu bukan daging yang kelen makan, tapi yang paling enak tu daging anjing. Kelen jangan bantah dulu! Kalau kelen tak percaya nanti biar mamakku kusuruh masakkan daging anjing buat kelen. Trus kelen makan, abis tu baru kelen kasih komentar.”

Sejenak kami pun terdiam. Lalu aku pun menimpali perkataannya: ”Woy, Batak! Tobatlah kau! Berhentilah makan daging anjing tu… Kulit kau tu dah kendor dan mukakmu pun dah kayak anjing!”

“Mendingan kayak anjing. Daripada mukak kelen udah kayak sapi dan kambing!” balasnya.

Dan…….???

“Bhua ha ha ha haaa….!!!!” Kami pun serentak tertawa terpingkal-pingkal.

Selain kelakar tak bermutu seperti di atas, aku dan beberapa kawan, baik yang sesama muslim maupun non muslim, juga sering bertukar anekdot yang berkaitan dengan perilaku agama.

Dari banyak anekdot, dua diantaranya yang kuingat sampai kini misalnya tentang kisah seekor kambing yang melahirkan anak manusia yang akhirnya diketahui bahwa bapaknya adalah seorang ‘pak haji’, dan kisah tentang untung ruginya menjadi ustadz dan pastor.

Entah kenapa tidak ada pada waktu itu rasa amarah di hati kami meski gurauan kami mungkin terlihat agak kasar dan menyerempet-nyerempet keyakinan.

Apakah kami adalah remaja-remaja yang tidak diberi hidayah oleh Tuhan kami masing-masing? Aku tidak tahu,

Yang jelas tidak seperti remaja masa kini yang kulihat komen-komennya di media sosia. Bila terkait masalah agama, sekecil apapun itu, jika dianggap menyinggung keyakinan lantas siap menumpahkan darah orang lain dan siap melakukan perang suci.

Apakah benar seperti itu yang diinginkan Tuhan? Atau mungkin benar bahwa semakin fanatik seseorang semakin dekat dia dengan gangguan jiwa? Wallahu A’lam!

Bagiku akan lebih terasa aneh lagi rasanya jika Tuhan tersinggung dengan manusia, lantas meminta umat-Nya untuk membela harga diri-Nya.

Terkait kesepakatan Vatikan dan Dunia Arab agar berhenti membawa-bawa Tuhan dan Agama demi mengukuhkan perdamaian dunia, di sini aku hanya ingin mengisahkan bahwa aku dan teman-teman kurang lebih 30 tahun yang lalu telah melakukannya dengan berdamai pada prinsip keyakinan kami masing-masing.

Hal yang dirasa semakin ‘mahal’ di era kini, dimana sesama ajaran langit ternyata dapat membuat hubungan antar manusia semakin berjarak dan menjauh.

Nb: Syalom temanku Adi Batak dan semua Alumni SMAN 4 DKI (Daerah Kulim Indah) – Pekanbaru

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.