Kolom Eko Kuntadhi: PELUKAN RAFI UNTUK JOKOWI (Sirulo TV)

Jokowi menoleh. Mencari suara itu. Suara bocah 8 tahun berkebutuhan khusus. Wajah Rafi berbinar ketika panggilan kerasnya mendapat respon.

0
577

Rafi Ahmad Fauzi, sedari subuh dia bangun. Berkata pada uminya: “Pak Jokowi, mi. Pak Jokowi, mi..” Suaranya selalu antusias. Sama seperti ketika ia menyaksikan wajah Presiden Indonesia dari layar HP milik uminya. Rafi kerap membuka channel Youtube. Memandangi lelaki kurus itu yang sibuk bekerja. Siang itu. Presiden memang sedang kunjungan ke Cianjur, kampung anak berkebutuhan khusus ini tinggal. Presiden mengunjungi rakyatnya.

Menyerahkan surat keputusan tentang Perhutanan Sosial kepada Provinsi Jawa Barat.

Nanti, Pemda Jabar akan membagikan lahan seluas 8,6 ribu hektar untuk dikelola masyarakat. Dulu, penguasa lebih suka membagikan konsesi hutan pada cukong. Jokowi memilih memberikan konsesi pada rakyat. Pada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.

Ia tahu, rakyat butuh ditopang hidupnya. Rakyat kecil tidak mungkin dilepaskan sendiri bersaing dengan raksasa. Pemerintah hadir untuk mendampingi mereka.

Selepas acara rombongan Presiden berlalu. Menyalami satu-satu masyarakat yang berjajar.

Rafi melihat pria ceking itu di depannya. Dia hapal wajahnya. Dia hapal senyum yang selalu tulus. Dari gendongan ayahnya, teriakan Rafi melengking. “Paakkkk…. Pasakkk…”

Suaranya khas. Memecah keriuhan orang yang sedang berebut salaman.

Jokowi menoleh. Mencari suara itu. Suara bocah 8 tahun berkebutuhan khusus. Wajah Rafi berbinar ketika panggilan kerasnya mendapat respon. Tidak sia-sia selama ini ia suka jejeritan.

Seorang ajudan mencolek ayah Rafi, memintanya untuk mendekat. Ayahnya langsung berlari bersama Rafi dalam gendongannya. Menyongsong Presiden.

Sesampai di depan Presiden dia begitu saja menyerahkan anaknya. Tangan Presiden terbuka menyambut anak kecil itu. Rafi memeluknya. Memeluk erat sekali. Seperti berada dalam kehangatan rahim ibunya.

Presiden Indonesia. Menggendong seorang anak. Mendekapnya dengan hangat.

Jarak telah luntur. Sebab dua manusia hanya bisa bicara dengan bahasa manusia. Dua hati yang dipenuhi cinta hanya bisa bicara dengan bahasa cinta.

Jokowi tahu, untuk bocah-bocah seusia Rafi inilah dia bekerja keras. Ia hanya ingin memastikan negeri ini bisa memberikan masa depan terbaik, tempat Rafi dan kawan-kawan tumbuh. Memupuk cita-cita. Dan, tertawa bersama.

Rafi memeluk Jokowi dengan hangat. Melingkari leher berkerah putih itu dengan tangannya yang mungil.

Dalam pelukan yang dalam, Rafi ingin berbisik ke telinga Jokowi. “Pak, teruslah bekerja. Teruslah menebar cinta untuk kami. Di pundakmu ada masa depan dan harapan kami.”

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.