Kolom Asaaro Lahagu: ANALISA KENAPA MA’ARUF AMIN GAGAL KEREK ELEKTABILITAS JOKOWI (Sirulo TV)

0
303

Saat Jokowi memutuskan Ma’aruf Amin sebagai Cawapresnya, publik terkejut. Apa keunggulan dan keistimewaan Ma’aruf dibanding Mahfud MD yang santer disebut Cawapres Jokowi sebelumnya? Semua jawaban yang muncul di benak publik tetap masuk akal. Ada yang mengatakan bahwa Jokowi ditekan oleh PKB, PPP serta NU untuk memilih Ma’aruf yang notabene dari NU.

Demi keutuhan koalisi, Jokowi akhirnya mengikuti maunya PKB, PPP dan NU. Alasan ini juga masuk akal.

Ada juga yang mengatakan pemilihan Ma’aruf adalah win-win solution diantara partai-partai koalisi Jokowi yang pasti akan berebut Capres 2024 mendatang. Pada tahun 2024, Ma’aruf sudah tidak mungkin lagi maju sebagai Capres. Agar partai tidak saling cemburu, maka Ma’aruf didorong berpasangan dengan Jokowi.

Selain 2 alasan di atas, ada juga alasan lain yang tetap masuk akal. Jokowi yang sudah paham akan diserang lagi isu anti ulama, anti Islam, maka ia mengambil bosnya ulama. Ma’aruf adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jadi, dia adalah bosnya ulama yang jika dipasangkan dengan Jokowi, maka mampu menangkal isu-isu agama yang dilempar kubu lawan.

Dari 3 alasan di atas, ada 1 alasan lagi yang secara diam-diam diharapkan oleh Kubu Jokowi, yakni mengerek elektabilitas Jokowi terutama pemilih di kalangan Muslim. Lalu berhasilkah Ma’aruf Amin mengerek elektabilitas Jokowi di kalangan pemilih Muslim? Jika melihat hasil survei Denny JA, maka peran Ma’aruf Amin bisa terbilang masih gagal.

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA teranyar menunjukkan elektabilitas Calon Presiden Inkumben Joko Widodo atau Jokowi turun di 2 kantong pemilih, yakni pemilih muslim dan terpelajar. Tren penurunan ini tercatat selama 5 bulan masa kampanye berlangsung.

Di kantong pemilih muslim, tingkat keterpilihan Jokowi turun dari angka 52,7% di Agustus 2018 menjadi 49,5% di akhir Januari. Sebaliknya, pemilih muslim Prabowo-Sandi untuk survei pada waktu serupa malah naik dari 27, 9% menjadi 35,4%.

Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menjelaskan, tren penurunan itu terjadi lantaran pasangan Calon Presiden nomor urut 01 ini masih dianggap tak ramah terhadap Islam.

“Selain itu, ada pula framing isu terkait hal tersebut yang muncul ke publik. Sentimen Islam masih lekat,” kata Adjie di kantornya, Jakarta Timur [Jumat 8/2].

Kendatipun Jokowi sudah melakukan sejumlah upaya untuk menepis berbagai sentimen negatif bernuansa agama dari lawan politiknya, elektabilitas Jokowi di kalangan pemilih muslim belum tampak menggembirakan.

Lalu, apa masalahnya? Mengapa Jokowi yang memiliki Cawapres berlatar belakang ulama, didukung Ormas NU, partai berbasis pemilih muslim seperti PBB, PPP, PKB; dan gencar melakukan kegiatan keagamaan di istana negara justru tampak kewalahan menggarap pemilih muslim?

Ada beberapa catatan yang mungkin menjadi alasan mengapa Ma’ruf Amin gagal mengerek elektabilitas Jokowi.

Pertama, efektivitas kampanye. Selama ini kampanye Ma’ruf relatif terpusat di kalangan pesantren. Ma’aruf hanya mengunjungi kelompok Islam yang selama ini cukup dekat dengan dirinya tetapi tidak mencoba menyasar kelompok-kelompok lain.

Ma’aruf masih belum mampu merebut suara di basis lawan. Padahal, sebagai ulama, ia sebetulnya punya potensi merangkul kelompok 212 yang doyan berdemo di Monas. Masih ada banyak sebetulnya kelompok-kelompok Islam di luar NU yang mesti dirangkul.

Ke dua, kampanye Sandiaga Uno. Sandiaga terlihat relatif efektif karena dilakukan di berbagai lapis masyarakat. Ia menemui kalangan pesantren, anak-anak muda, pedagang di pasar, hingga korban bencana.

Ke tiga, serangan hoax yang masif tertuju kepada Jokowi. Elektabilitas Jokowi merosot di kalangan pemilih Muslim karena Jokowi banyak diserang hoax oleh lawan politiknya. Jokowi terus-menerus diframing sebagai Capres yang anti ulama dan anti Islam.

Ke empat, titik kelemahan Jokowi ada di kalangan Islam modernis. Basis pendukung Ma’ruf Amin adalah Islam tradisional, Nahdliyin, bukan Islam modernis. Tren merosotnya pemilih Muslim kepada Jokowi-Ma’aruf sangat mungkin terjadi pada kelompok Muslim modernis. Nah, selama ini ada gelagat di istana sedang menjauhkan Jokowi dari kelompok Islam modernis.

Lalu, apa yang dilakukan oleh Ma’aruf Amin ke depan di sisa 2 bulan kampanye? Saya sarankan agar Ma’aruf sebagai bosnya ulama berusaha lebih keras mendekati kelompok-kelompok Islam di luar NU. Ma’aruf perlu mendatangi dan menyapa kelompok Muslim yang selama ini tidak tersentuh oleh Jokowi terutama Islam modernis. Begitulah kura-kura.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.