Mengapa Pilih Caleg Ini?

0
267

Oleh: Didi Wahyudi

Ayo sahabat-sahabat di Kabupaten Bogor dan yang punya saudara di Bogor… Dalam memilih Caleg jangan sampai membeli kucing dalam karung. Bisa-bisa di dalamnya ada si Zonk!!! Dukung orang baik. Luangkan waktu 10 menit membaca rekam jejak Caleg demi masa depan Kab. Bogor untuk 5 tahun ke depan.

Mengapa harus INDAH PERTIWI NATAPRAWIRA?

Sekilas tentang Indah Pertiwi Nataprawira, Calon Anggota Legislatif (Caleg) DPR RI, dari Partai PDI Perjuangan dengan No urut 3, Daerah Pemilihan Kabupaten BOGOR.

Indah lahir dan dibesarkan dalam rangkaian keberagaman yang nyaris lengkap. Ayah berdarah Priangan dan besar dalam didikan NU yang kental. Ibu berdarah Minang yang dibesarkan dalam didikan Muhammadiyah yang tak kalah kentalnya.

Perpaduan suku dan latar belakang organisasi itu membuat Indah tumbuh besar menjadi pribadi yang sensitif akan budaya dan kebiasaan yang berbeda-beda. Indah terbiasa dengan tatakrama Sunda yang halus, dan kebebasan berpikir dan didikan demokratis ala Minang.

Hal unik lain adalah, Indah mampu menggunakan 4 bahasa daerah dengan baik, karena dibiasakan oleh kedua orangtua dan keluarga besarnya. Indah bisa dengan fasih berbahasa Sunda, Padang, Palembang, dan Bahasa Jawa.

Dari segi pendidikan, Indah terbentuk dari keragaman pendidikan yang dijalaninya sejak SD, SMP, SMA sampai mencapai S1 dan S2. Kesemuanya beragam. Dimulai dengan awal pendidikan di Malang, kemudian ke Jakarta, dan “mondok” di pesantren-pesantren selama Ramadan. Di Pondok Pabelan dan Pondok Suryalaya, misalnya. Kedua pesantren itu dan dari Kyai Haman Dja’far dan Abah Anom yang merupakan sahabat ayah dan kakeknya, Indah belajar dan menjalani hidup ala pesantren yang saleh dan moderat. Al Azhar adalah pijakan pertamanya dalam pembelajaran organisasi.

Indah bukan saja bersekolah di Al Azhar (yang didirikan oleh kakeknya) bersama kakak, adik dan para sepupu dari pihak ibunya, tapi juga berorganisasi di LPK Al Azhar – bersama sesama aktifis yang di kemudian hari berkiprah di dunia politik.

Berkecimpung total dalam dunia sosial, Indah mendirikan sekolah serta mengajar anak-anak jalanan dan pemulung, mendirikan dan mengelola organisasi bagi tunjangan adik asuh. Juga berinteraksi dengan lembaga UNFPA (salah satu badan PBB). Di Al Azhar-lah Indah mulai mengasah kemampuannya berpikir kreatif, mengasah sensitifitas dan empati pada sesama, mengelola organisasi, menghargai ukhuwah islamiyah dan toleransi sedari remaja.

Di tahun 1985, di antara kesibukan belajar dan berorganisasi, Indah yang merasa harus mampu mandiri dan menjaga diri sendiri sebagai perempuan, masuk ke dalam perguruan silat bela diri tangan kosong Merpati Putih. Di perguruan ini, Indah bukan saja belajar tentang bela diri dan menjadi atlet, tapi juga mempraktekkan mengolah ketajaman rasa dan indera, belajar menghargai orang lain, memahami dan memaknai sportifitas, dan pentingnya terus berlatih, melewati jatuh bangun dan bangkit untuk menjadi yg terbaik.

Indah menyelesaikan pendidikan S1 bidang ekonomi di Universitas Pancasila dan S2 di bidang politik Universitas Indonesia. Pendidikan lain di bidang Personality Development di DeBono PR – sebuah pendidikan tambahan yang membuatnya mampu memiliki keluwesan dan tata krama yang diperlukan dalam pergaulan internasional.

Secara profesional, Indah menapaki karirnya di dunia advertising selama 10 tahun. Di dunia advertising ini Indah menjalani kehidupan prosesional yang membutuhkan dedikasi, ketajaman berpikir, penggalian kreatifitas, toleransi terhadap pemikiran orang lain, dan menjawab tuntutan untuk tetap kitis untuk mampu menuangkannya dalam pola kerja dan menerjemahkannya ke dalam kinerja. Peran pengalaman dalam berorganisasi berperan besar di karirnya yang pertama ini.

Panggilan untuk berperan aktif dalam dunia sosial dan pendidikan membuat Indah menjawab panggilan yang sedari kecil sebenarnya telah ditanamkan oleh ayahya, Dahlan AS Nataprawira: pendidikan yang mengembangkan intelektualitas. Maka Indah bergabung di Paramadina – sebuah lembaga yang diperkenalkan oleh ayahnya yang seorang da’i kepada Indah sedari muda.

Di Paramadina, dalam bimbingan Nurcholis Madjid dan Utomo Dananjaya, didukung oleh aktifis-aktifis muda, Indah terus mengembangkan diri menjadi seorang intelektual muslim yang menghargai pemikiran moderat, menumbuhkan pemuliaan pada sesama, menghargai perbedaan dan menjalani kehidupan beragama dengan keluasan dan kelapangan.

Bukan hanya sekedar toleransi dan tepo seliro, tapi kesempatan untuk membuktikan Islam sebagai rahmatan lil alamiin.

Di Universitas Paramadina jugalah Indah kemudian menjadi dosen pada tahun 1999 – 2015 sambil mendirikan Paramaswara – sebuah lembaga seni yang dirintis dan dibesarkannya dengan penuh kesungguhan. Seiring berjalannya waktu, Indah yang selau ingin mengabdi pada agama dan negara seperti ayah dan kakeknya yang merupakan muballigh dan ulama yang berdedikasi tinggi pada agama dan negara, merasa bahwa ia bisa berkiprah lebih luas di dunia yang juga telah menjadi bagian dari darah daging keluarga dari pihak ibunya: politik.

Dari beberapa diskusi, Indah disadarkan bahwa intelektual dan aktifis bisa ikut serta berperan besar dan luas dalam pengabdian pada agama dan negara melalui dunia politik. Dalam bimbingan paman-pamannya dari pihak ibu yang sudah terlebih dahulu memasuki dunia politik, Indah sampai pada suatu kesadaran, bahwa perjuangan tidak harus melalui podium dakwah seperti ayah dan kakeknya, tapi bisa melalui jalur politik.

Setelah melalui pemikiran panjang dan berdiskusi dengan beberapa tokoh, Indah memutuskan untuk bergabung dengan PDIP – sebuah partai yang paling tepat untuk pola pikir dan pola beragamanya serta pola pengabdiannya yang berlandaskan keragaman yang toleransi dan kebangsaan yang tinggi.

Di dunia politiklah sesungguhnya Indah merasa memiliki arti. Kiprahnya yang beragam (mendirikan Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa dan mengabdi di Megawati Institut dan Baitul Muslimin, dll) telah membuat Indah menjadi pribadi yang matang dan kuat.

Tekadnya untuk mengabdikan diri pada negeri yang diatas tanahnya mengalir darah dan keringat keluarga besarnya, telah bulat. Ia wakafkan hidupnya kini dan masa datang, untuk ummat dan Indonesia.

Ia tidak akan mundur. 
Ia tidak bisa mundur.

Baginya,
Ini bukan tentang menang kalah, ini tentang Pengabdian. 
Ini bukan tentang posisi dan kursi, ini tentang Pengabdian. 
Ini bukan tentang ketenaran dan nama, ini tentang Pengabdian. 
Pengabdian pada ummat, rakyat, bangsa, dan negara.

Ini tentang melanjutkan perjuangan ayahnya, kakek-kakek dan nenek-neneknya, yang tidak sanggup ia abaikan. Perjalanan hidup, pendidikan, pengalaman dan intelektualitas serta jabatannya sebagai Direktur Program Megawati Institute, Salah satu Pimpinan Pusat Baitul Muslimin Indonesia, dan Staf Ahli Fraksi PDI Perjuangan MPR RI, adalah sebagian dari kiprahnya yang akan ia lengkapi dengan pengabdiannya di DPR-RI.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.