Kolom Seriulina Karo Sekali: SETELAH 6 PRESIDEN, KINI DIBANGUN JALAN KE LAJA SIMALEM

1
247

Foto di ataslah yang membuat saya semakin yakin pilih dia sekali lagi menjadi Bapak Negara kita. Kenapa? Saya ini bukan siapa-siapa. Bukan pengusaha apalagi yang kong kali kong dengan petugas pajak dan Depnaker untuk menghindari pajak dan kewajiban terkait karyawan sebisa mungkin. Bukan pula politikus, apalagi yang lebih mementingkan keperluan partai, golongan, dan pribadi.

Bukan juga pejabat, apalagi yang menggunakan jabatannya untuk menyenangkan dan memperkaya diri sendiri.

Saya hanya anak petani kampung yang masih membeli beras, cabe, tahu, tempe, dan kebutuhan lainnya. Anak desa yang mencoba lari ke kota karena menghindari teriknya matahari ketika bekerja ke ladang di siang hari. Memilih jadi jongos pengusaha yang kerjanya di ruangan yang ber-AC tapi seringkali dianggap rendah oleh sebagian orang.

Selain Presiden dan Wapres pertama Soekarno-Hatta, saya sudah hidup di jaman 6 presiden setelahnya. Tapi jujur, baru presiden yang terakhir ini desa tempat saya dilahirkan dan dibesarkan merasakan perubahan yang benar-benar nyata. Apakah ini kebetulan?

Ada yang bilang itu memang sudah program pemerintah dari dulu kala, cuma kebetulan saat ini saja terrealisasi. Why? Apa alasannya? Apa karena pemerintah sebelumnya hobby duduk di kantor dengan dasi yang necis, tanda tangan dan menyetujui proposal-proposal, membuat program, tapi tidak benar-benar dicek bukti di lapangan?

Pembangunan jalan ke Laja (Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deliserdang) sudah hampir rampung/

Korupsi dan suap sudah pasti ikut berperan.Apakah cuma di desa saya saja? Oh, bukan dong. Banyak sekali desa terpencil yang merasakannya.

Masih banyak janji Pak Jokowi yang belum dapat dilaksanakan, tapi bukan berarti tidak dilaksanakan, bukan?

Terkadang, target sepasang manusia yang lagi pacaran akan menikah, akan punya anak, akan beli rumah, akan beli mobil, tapi dalam perjalanannya banyak hal yang terjadi. Bahkan yang tidak kita bayangkan. Sehingga, sesudah menikah 10 tahun, masih belum punya anak, tapi sudah bisa beli rumah. Ada yang punya anak, tapi belum bisa beli rumah dan lainnya. Apa berarti mereka ingkar janji?

Masih banyak memang kekurangan Pak Jokowi, tapi saya melihat ketulusan dan semangatnya untuk benar-benar berusaha mengangkat martabat Indonesia dan meningkatkan kehidupan rakyatnya, terutama yang kurang mampu dan desa terpencil. Saya sebagai rakyat dari desa terpencil dan hidup pas-pasan sangat merasakan perhatian dan perjuangan itu.

Seperti apa yang dirasakan dan diperlihatkan seorang anak ABK dari ekspresinya ketika berteriak sekencangnya memanggil dan kemudian memeluk di gendongan Pak Jokowi. ABK yang biasanya memang sensitivitasnya lebih tinggi (kelebihannya) daripada orang normal, bisa merasakan ketulusan seorang Jokowi.

Saya sampai belasan kali melihat kembali video Raffi Akhmad yang seorang ABK itu. Sampai menitikan air mata haru. Membayangkan jutaan orang yang merasakan apa yang dirasakan anak tersebut. Merasa aman dan nyaman dengan sikap dan semangat kerja Pak Jokowi untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia yang lebih baik.

1 COMMENT

  1. “Masih banyak memang kekurangan Pak Jokowi, tapi saya melihat ketulusan dan semangatnya untuk benar-benar berusaha mengangkat martabat Indonesia dan meningkatkan kehidupan rakyatnya, terutama yang kurang mampu dan desa terpencil.”

    Pernyataan yang objektif dari kenyataan. Bisa saja pak Jokowi bikin rutin biasa saja sebagai jabatan presiden, tak perlu repot-repot, seperti biasanya presiden-presiden sebelumnya dan juga para kepala negara/PM negeri-negeri maju pada umumnya, tetapi untungnya bagi rakyat negeri ini, Jokowi tidak begitu. Dia berusaha, bikin apa saja demi meningkatkan kesejahteraan bangsa ini, terutama rakyat terpencil yang selama ratusan tahun tak pernah digubris seperti desa Laja Simalem ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.