Boen Syafi’i

Gara gara anaknya dikatakan tukang sandiwara, ibu dari Cawapres pasangan Bowo mencak-mencak karena anaknya dibully oleh para netijen. Ah, di manapun juga, reaksi dari para ibu jika anaknya dibully sama dan demikian adanya. Marah dan sedih.

Namun, sikap yang diambil itu terkadang tidak sama.

Ada yang langsung melabrak orang yang bersangkutan. Ada pula yang malah mengajari anaknya arti spiritualisme di saat cobaan sedang menyapanya, dengan hanya berkata: “Sudah, biarkan, nak. Gusti ALLOH mboten sare, ntar Tuhan sendiri yang membalasnya.”

Karakter ibu spiritualis itu seperti halnya ibunda dari Presiden Jokowi, yakni Ibu Sujiatmi.

Bayangkan, bukan lagi ratusan, melainkan ribuan kali anaknya difitnah, dihina, dicacimaki bahkan cucu dan keluarganya pun tak luput dari hinaan pula. Namun, ibunda dari sang Presiden hanya kalem menanggapi, sambil menasehati anaknya untuk tetap sabar serta bertawakkal kepada Tuhan.

Sejatinya karakter dari ibunda Pak Jokowi inilah karakter asli para leluhur NUsantara tercinta.

Nah, kasus ibunya Sandi ini termasuk karakter seorang ibu yang langsung melabrak, tanpa banyak cincong. Ambil jalan pintas dengan langsung menyeruduknya. Maklum, naluri seorang ibu pasti ingin selalu melindungi anak-anaknya

So, mulai hari ini, stoplah membuly ibunya si Sandi. Fokuslah, jangan melebar ke mana-mana. Karena yang kita bully itu cukup anaknya saja yang suka bersandiwara, jangan ibunya.

Ya, kan, Bu Mien Uno?

“Loh berarti sampean setuju kalau anak saya dibully, dong, Cak?”

“Ya, begitulah hukuman bagi orang-orang yang gemar menebar hoax dan suka bersandiwara, seperti halnya anak anda, Bu.”

“Ho’oh leres, Cak.”

“Lho, duoobol kowe yo, Cak? Sampe wani bully anakku. Bakal tak gawakne danganan sapu kowe, yo!”

“Minggatooo Cakkkk”.

Salam Jemblem..

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.