Kolom Eko Kuntadhi: PREDIKSI DEBAT CAPRES (Jokowi dengan Fakta, Prabowo Sibuk Memelintir Persepsi)

0
220

Gimana debat nanti malam, mas?

Seorang teman bertanya pendapat saya. Kata KPU tema debat seputaran soal infrastruktur, pangan, energi, dan lingkungan hidup. Kesemuanya sudah mendapat sentuhan serius dari Jokowi.

“Kayaknya, masih akan sama seperti kemarin. Data disandingkan dengan informasi plintiran. Prestasi disandingkan dengan hoax,” jawabku.

Begini. Saya cuma mau ulas sedikit soal infrastruktur, utang dan harga-harga. Inilah yang sering jadi bahan pembicaraan. Kita tahu, Jokowi sudah berprestasi besar dalam pembangunan infrastruktur. Jalan, jembatan, rel kereta, Bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, irigasi semuanya dikebut.

Tidak ada negara maju tanpa infrastruktur memadai. Problem kita selama ini adalah kekurangan prasarana dasar itu. Makanya pertumbuhan ekonomi selama ini selalu berharap dari konsumsi rumah tangga, bukan dari hasil produksi.

Membangun infrastruktur butuh duit besar. Jangka waktunya lama. Dampak ekonominya juga gak cepat. Nah, sisi inilah yang akan dimainkan Prabowo.

Ia akan fokus soal duit besar itu. Menyoroti utang, misalnya. Kata utang, bisa dipersepsikan berbeda. Rakyat kebanyakan kalau dengar utang, yang terbayang wajah debt collector atau rentenir. Yang terbayang adalah cicilan yang mencekik. Wajar saja. Kalau utangnya digunakan buat konsumsi.

Sementara bagi negara atau perusahaan, utang punya makna berbeda. Memang harus dibayar. Tapi cara mempersepsikannya adalah membandingkan beban utang dengan manfaat. Kalau utang bisa digunakan buat usaha produktif dan hasilnya memberikan kemampuan bayar sekaligus dapat manfaat, justru bagus. Toh, tidak ada perusahaan yang tumbuh membesar tanpa utang.

Begitupun, tidak ada negara besar tanpa utang.

Prabowo memainkan kata utang, karena dia tahu, rakyat punya persepsi berbeda mengenai utang. Bagi negara atau perusahaan, makna utang jauh berbeda dengan utang perseorangan. Rakyat akan menangkap kata utang dengan persepsinya tersebut. Ada tagihan, debt collector, atau jaminan yang disita. Maklum, rakyat kita sebagian besar bukan pengusaha.

Nah, perbedaan persepsi itulah yang akan jadi lahan empuk Prabowo.

Kemudian soal pangan. Tidak ada negara di dunia ini yang bisa menyediakan seluruh bahan pangannya sendiri. Apalagi dengan harga terjangkau. Luas lahan pertanian kita, mungkin gak cukup untuk menyediakan seluruh kebutuhan pangan buat rakyat.

Langkah yang harus dilakukan, tingkatkan produktifitas lahan. Yang tadinya panen setahun sekali, jadi setahun tiga kali. Ini harus didukung dengan prasarana pertanian seperti irigasi, subsidi pupuk atau bibit. Demikian juga permodalan. Jokowi sudah melakukan itu.

Tapi, karena yang harus dikasih makan cukup banyak, mau tidak mau, tetap harus ada bahan pangan yang diimpor. Gunanya untuk menjaga persediaan. Ujungnya menjaga stabilitas harga.

Yang dibutuhkan rakyat adalah pangan tersedia dan harganya terjangkau. Mekanisme pasar inilah yang harus diseimbangkan. Dari petani lokal, pemerintah mematok harga beli lumayan. Dari impor diusahakan agar harga pasar terkendali.

Tapi, lagi-lagi, soal impor ini akan jadi makanan empuk Prabowo. Dia akan teriak, pangan kok impor. Indonesia itu negara agraris, kenapa pangannya impor?

Teriakan itu pasti gak menghitung luas lahan, produktifitas lahan dan total perut yang harus disuapi.

Soal stabilitas harga, selama pemerintahan Jokowi inflasi sangat terkendali. Rerata hanya 3,5% setahun. Artinya kenaikan harga hanya 3,5%. Itulah faktanya. Di sisi lain, daya beli rakyat meningkat 5,9% dan pertumbuhan ekonomi 5,17%. Ada surplus di sana.

Tapi, Prabowo akan memainkan isu hidup makin berat. Itu selalu yang jadi andalannya. Hidup yang berat dan ringan adalah persepsi. Harga naik atau turun adalah kenyataan.

Begini. Dulu seorang bapak anaknya masih kecil, biayanya sedikit. Kini anaknya makin besar, mungkin juga bertambah satu. Ada yang masuk sekolah. Biayanya nambah, dong. Secara riil penghasilan ortunya juga bertambah. Tapi, mungkin penambahan biaya karena anaknya makin besar jauh lebih tinggi ketimbang kenaikan pendapatannya. Apa hidup mereka terasa makin berat?

Iya. Karena ada penambahan biaya yang harus dikeluarkan. Bukan kondisi eksternalnya yang menurun. Tapi kebutuhan internalnya yang meningkat.

Tapi apakah dengan demikian ekonomi kita kacau? Apakah itu sama artinya pemerintah gak memakmurkan rakyatnya? Ya, gak dong. Pemerintah bekerja untuk menstabilkan harga, membuat pertumbuhan ekonomi, memberikan tunjangan sosial. Kalau soal anaknya nambah karena itu biaya jadi bertambah, itu persoalan masing-masing orang.

Apalagi kalau ditambah dengan gaya hidup hidup tinggi. Padahal pendapatan standar. Ya, makin beratlah.

Pemerintah bekerja di sektor publik. Sementara Prabowo akan memainkan persepsi personal seperti ini. Maka omongannya soal hidup makin berat ada yang percaya juga. Artinya ada perbedaan pengukuran. Jokowi mengukur dengan data real. Prabowo mengukur dengan persepsi.

Dalam sejarah kekuasaan Yunani ada adagium sejatinya rakyat hanya butuh roti dan hiburan.

Nah, Jokowi sudah memberikan roti kepada rakyat. Itu faktanya.

“Prabowo melengkapinya dengan memberikan hiburan, mas,” ujar Abu Kumkum. “Dia mungkin akan joget lagi nanti malam.”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.