Kalah debat, Gerombolan Kamvret menyalahkan pulpen yang dipegang oleh Pak Jokowi:. “Itu adalah pulpen canggih untuk telekomunikasi jarak jauh” kata Kamvret yang berbicara ala James Bond agen elpiji di desa saya. Pada akhirnya, Cocokmologi pun dipake.

“Katanya kenapa pulpennya sering dipegangin? Kenapa klak klik pulpen terus?” ditambah segala pertanyaan investigatif bak intelejen gadungan.

Lha, kalau Jokowi gak mainin pulpen terus mau mainin apa? Mainin meja sambil dipukul-pukul ala dangdut koplo Monata? Atau mainin si pembawa acara dengan diajak joged barsama-sama?

Cuk, jadi orang kok curigaan banget, vret, Kamvret? Ngaku saja kalau kalah debat, gak usah ngeles kayak Metromini yang lagi rebutan penumpang. Andai Pak Jokowi gak bawa pulpen, terus mau nulis pertanyaan pake apa? Jidatmu yang gosong itu, tah?

Andai pun gak bawa pulpen, mungkin akan kalian tuduh bahwa tangannya bisa bicara sendiri. Kancing bajunya bisa keluar suara. Atau, malah kaos kakinya itu ada chip kecil yang bisa terkoneksi dengan bluetooth dan berfungsi untuk menghipnotis lawan bicaranya.

Hancikkkk ….. dilanjut tah ke gendhengan yang seperti ini? Dilanjut wae, tah, Pilpres yang semakin lama membuat banyak Kamvret menjadi tidak waras jiwanya. Ah, saran saya untuk Pak Jokowi, tolong kalau debat ke tiga nanti jangan bawa pulpen, ya.

Bawa cat air wae, Pak, biar gak dituduh macan-macam sama gerombolan codot yang budiman. Atau bila si codot resek, lemparin wae cat air ke muka mereka. Ah jangan jangan, nanti cat air juga dituduh sebagai alat intelejen juga?

Ahsudalah.

“Kenthir Memang Tak Mengenal Kasta”.

Salam Jemblem..

Advertisements

1 COMMENT

  1. Pulpen pun disalahkan, ‘Itu adalah pulpen canggih untuk telekomnikasi jarak jauh’ (kolom Boen Syafi’i). Pulpen yang dipakai capres 01 Jokowi dalam debat kemarin 17/2 dikatakan alat komunikasi canggih oleh oposisi pro. Ini kalau betul alat canggih memang patut disalahkan, tetapi kalau tidak betul, itu namanya fitnah.
    Melihat serangan bertubi-tubi terus menerus kepada petahana Jokowi, saya jadi teringat perbandingannya dengan serangan-serangan tak henti-hentinya kepada pres Trump di AS dari pihak musuh-musuhnya terutama golongan globalis NWO (deep state). Dalam melukiskan serangan-serangan berupa fitnah, tuduhan palsu tanpa bukti, hoaks, fake news dst dst . . . ditulis secara terperinci sebuah buku oleh seorang penulis Canada bernama Conrad Black. Banyak yang lega dan puas membaca buku itu, terutama yang pro Trump, tetapi juga yang tidak memihak Trump merasa kagum atas sikap Trump dalam menghadapi semua caci maki, fitnah, hoaks, fake news atas diri Trump.

    Seorang pembaca buku Conrad Black itu, yang bertitel “Donald J. Trump: A president like no other” melukiskan dengan kata-kata begini:

    “Reading Black’s detailed account of the massive lies, deceptions, and shenanigans aimed at keeping Trump out of the White House, it is clear that no mere mortal could overcome such an assault without the miraculous support of Almighty God.” bisa digoogle judul ini;
    “God behind Trump’s attempts to slow down New World Order’s ‘evil agenda’ ”

    Kalau kita mengikuti makian, fitnah, mengejek bahkan menghina presiden Jokowi, ‘keluarga komunis’, ‘ndeso’, ‘krempeng’, ‘jelek’, ‘koppig’, bikin utang banyak, ‘mengkriminalkan ulama’, dsb dst, tetapi dia tetap saja segar bugar dan terus saja melaksanakan tugasnya dengan gigih untuk perbaikan nasib rakyat Indonesia. Melihat itu semua bisa juga disematkan dalam teks komentar atas Jokowi karena Tuhan selalu bersamanya, atau “it is clear that no mere mortal could overcome such an assault without the miraculous support of Almighty God.”
    Patut dan masuk akal.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.