Kolom Asaaro Lahagu: TANDA KALAH PRABOWO DI WAJAH FADLI, FAHRI, SANDI, DAN NENO WARISMAN (Sirulo TV)

1
530

 

Asaaro LahaguPendukung Jokowi sudah siap menang, juga siap kalah. Yang namanya Pemilu pasti ada yang kalah dan menang. Jika Jokowi menang, arah ke mana negara ini ke depan sudah sangat jelas. Kemajuan di berbagai bidang sudah di depan mata. Infrastruktur yang sudah banyak dikerjakan akan mulai memancing pertumbuhan ekonomi ke depan. Saat ini saja Bank dunia sudah mengakui bahwa pendapatan perkapita Indonesia sudah masuk golongan menengah atas. Pencapaian itu sungguh luar biasa.

IMF juga sudah memprediksi, pada tahun 2023, pangsa pasar Indonesia akan mengalahkan Inggris dan Rusia.

Ini sebuah lompatan besar. Jika pagelaran moto GP akan digelar di Indonesia pada tahun 2021, itu sudah membuktikan posisi penting Indonesia di kancah perekonomian global.

Lalu, bagaimana dengan pendukung Prabowo? Saya lihat kubu pendukung Prabowo sama sekali tidak siap kalah. Ketika Prabowo kalah, maka para pendukungnya sangat frustrasi. Aura pesimisme masa depan mereka tergambar jelas sejak saat ini.

Kita mulai saja dari Prabowo sendiri. Utang perusahaan Prabowo yang besarnya triliunan dan dicicil selama dua puluh tahun akan terus membebani Prabowo. Perusahaan Sandiaga juga akan kena imbas atas kekalahannya. Saham-sahamnya kemungkinan berguguran.

Selain itu, keluarga Cendana akan semakin tertekan karena dikejar pembayaran korupsi Yayasan Supersmar. Dana mereka yang disembunyikan di luar negeri akan dikejar oleh Jokowi. Para pendukung Prabowo terutama Ormas-ormas akan mengalami musim paceklik mengerikan bersama PAN, PKS, Demokrat. Mungkin Gerindra masih akan selamat karena masuk 3 besar.

Fadli Zon sangat mungkin tidak lagi terpilih sebagai Wakil Ketua DPR. Fahri Hamzah lengser. Neno Warisman juga akan tenggelam bersama Mardani Ali Sera. Amin Rais tinggal merenungi umurnya yang semakin tua dan kurang hoki. Lalu, Rizieq di Tanah Arab tak tahu kapan kembali.

Tengku Zulkarnaen mungkin akan menurun daya nalarnya. Cuitan-cuitannya di Twitter mungkin smakin ngawur. Setelah keluar dari penjara, Ahmad Dhani, Buni Yani, dan teman-temannya akan mengikuti Jonru yang tidak lagi nampak batang hidungnya entah ke mana saat ini.

Pokoknya, jika Prabowo kalah, nasib para pendukungnya semakin suram. Madesu, masa depan suram. Masalahnya, tanda-tanda kekalahan Prabowo itu terlihat jelas di wajah dan ucapan Fadli Zon, Fahri, Sandi dan Neno Warisman. Apa tanda-tandanya?

Perhatikan baik-baik. Jika Fadli Zon terus nyinyir atas prestasi Jokowi, tidak pernah memuji, tidak satupun kebaikan Jokowi dia lihat, maka itulah tanda-tandanya. Tanda-tanda orang kalah adalah jika semua ucapannya, tingkah-lakunya, nalarnya tidak sesuai lagi dengan kenyataan.

Sebaliknya, jika Fadli Zon memuji satu kali saja Jokowi pada bulan Maret-April nantinya, maka itu sinyal kemenangan Prabowo. Mengapa? Di situ nalar Fadli Zon mulai bercahaya. Harapannya mulai bersinar. Dia mulai optimisme dan memiliki kepercayaan diri. Oleh karena itu, dia fair dan mampu memuji Jokowi.

Hal yang sama dengan Fahri Hamzah dan Sandiaga Uno. Jika kedua orang ini terus mengklaim elektabilitas Prabowo terus naik, sementara Jokowi terus turun, maka itulah tanda-tanda kekalahan Prabowo. Artinya kedua orang ini sangat khawatir akan kekalahan Prabowo.

Untuk menutupinya mereka mereka terus-menerus memakai strategi ‘bandwagon effect’. Istilah bandwagon effect dimaksud untuk menggambarkan kondisi psikologis massa yang mendukung politisi tertentu karena merasa politisi itu banyak mendapat dukungan.

Dukungan itu bukan lahir dari kesadaran melainkan dari mental kerumunan karena merasa nyaman jika berada dalam kelompok yang disangkanya mayoritas. Inilah yang terjadi dalam rangkaian kampanye Pilpres 2019 ini. Saling klaim kemenangan dan paling banyak mendapat dukungan adalah kiat politisi massa kini untuk mempengaruhi rakyat agar turut mendukung mereka.

Sandiaga sejak November lalu terus mengatakan mayoritas rakyat di Jawa Tengah mendukungnya. Padahal Sandiaga sebetulnya sadar penuh kenyataannya tidak demikian. Namun ia berharap masyarakat mempercayai pernyataan itu sehingga benar-benar mendukungnya karena merasa dengan itu mereka bagian dari kelompok mayoritas.

Hal yang sama dengan Fahri Hamzah. Jika Fahri terus mengatakan elektabilitas Prabowo terus naik, maka sebetulnya pada kenyataannya tidaklah demikian. Fahri hanya menggunakan psikogis massa yang akan mendukung pasangan tertentu yang elektabilitasnya terus naik. Fahri berharap masyarakat mempercayai pernyataan itu dan memilih Prabowo.

Neno Warisman juga tidak jauh beda. Puisinya yang bernada doa dan mengancam Allah jika tidak memberikan kemenangan, maka tidak ada lagi yang menyembah-Nya, adalah sebuah kefrustrasian akan tanda-tanda kekalahan Prabowo. Lewat puisi doa Neno yang mengancam Allah itu adalah tanda jelas kekalahan Prabowo.

Saya yakin jika Jokowi pada akhirnya benar-benar kalah, maka pendukung Jokowi tidaklah frustrasi. Juga tidak sampai mengancam Allah dan tidak mau lagi menyembah-Nya. Pendukung Jokowi sudah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan, termasuk kalau Indonesia kembali di era otoriter rezim Soeharto di tangan Prabowo.

Pun jika Indonesia hancur di tangan Prabowo, KKN kembali merajalela, Ormas-ormas radikal kembali membangun kekuatan dan benar-benar menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah, pendukung Jokowi juga sudah siap. Sama seperti di Jakarta, pendukung Ahok sanggup dan mampu menerima kenyataan pahit kota Jakarta yang kembali mundur di era Anies.

Saya sendiri siap jika Jokowi menang dan Prabowo kalah. Begitulah kura-kura.

1 COMMENT

  1. Siap kalah dan siap menang, wow . . . cara pikir dan pemikiran yang tinggi. Dan menandakan bawa sudah berusaha keras untuk mencapai kemenangan, dan juga persiapan strategi baru jika kalah. Sangat sportif!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.