Kolom Eko Kuntadhi: TUMBAL ITU BERNAMA RATNA

0
300

Apa pasal yang didakwakan Jaksa kepada Ratna?

Eko Kuntadhi 4“…. Telah melakukan perbuatan pidana dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan individu dan/ atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku agama, ras dan antargolongan ….”

Jadi, masalahnya adalah menyebarkan informasi bohong untuk menimbulkan kebencian. Dalam hal ini agar orang membenci Pemerintahan Jokowi.

Jika merujuk pasal itu, bukan hanya Ratna yang harus diseret. Prabowo juga mesti diseret ke pengadilan. Fadli, Dahnil atau Hanum Rais. Semuanya menyebarkan berita bohong untuk menimbulkan kebencian. Sumbernya dari kasus Ratna itu.

Bukan hanya menimbulkan kebencian. Mereka justru berharap mendapat keuntungan politis. Tapi, kebohongan Ratna sudah terbongkar. Orang yang tadinya berharap mendapat keuntungan politis, semua cuci tangan. Ratna dijorokin sendiri.

Bahkan Andre Rosadie, jubir Prabowo yang kebetulan ke gedung kehakiman ketika persidangan Ratna dimulai. Melepeh Ratna sambil ‘meludah’. “Saya gak ada urusannya dengan sidang Mak Lampir,” ujar Andre. Dia beralasan ada keperluan lain.

Dengarlah, Ratna disebut Andre sebagai Mak Lampir. Saya heran. Kenapa bukan Nenek Gayung? Tapi Ratna adalah Ratna. Dia perempuan keukeuh. Di depan persidangan ia menunjukan jari tanda dukungan pada Prabowo.

Ratna tahu Tikus hanya bisa bergabung dengan tikus. Ular hanya berkumpul dengan ular. Sebagai penyebar hoax, Ratna paham dengan siapa dia harus bergabung. Gerombolan yang mana yang cocok dengan karakternya.

Jadi, Ratna bukan satu-satunya. Selain Ratna, dulu pernah ada Asma Dewi. Dedengkot Saracen. Ditangkap polisi juga. Dia pendukung Prabowo. Ada Bagus Aswana, penyebar hoax 7 kontener surat suara. Dia ketua organ relawan Prabosan. Nasibnya sama. Meringkuk di penjara.

Baru saja kemarin 3 ibu-ibu di Karawang ditangkap polisi. Terkena ancaman hukuman 6 tahun penjara. Menyengsarakan keluarganya. Anak dan suaminya. Kasian.

Mereka semua satu gerombolan. Berada dalam sebuah barisan: Mendukung Prabosan. Mirip penyakit menular. Perilaku penyebar hoax dan fitnah bisa mewabah dalam satu komunitas. Penularannya cepat. Siapa saja yang berdekatan beresiko terpapar.

Lihatlah di sekiling kita. Penyakit itu mewabah. Di WAG keluarga. WAG alumni. WAG pengajian. Bahkan di mimbar masjid. Penyakit penyebar fitnah, hoax dan penganjur kebencian merajalela. Semua punya kesamaan dukungan politik. Sekali terpapar mereka akan terus mengunyah-ngunyah daging saudaranya sendiri.

“Harusnya emak-emak pendukung Prabosan belajar dari Syahrini. Dia gak perlu menjelekkan Luna Maya untuk menggaet Reino,” ujar Abu Kumkum.

Tapi oplasnya, sama Kum…


Jetpack

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.