Kolom Ganggas Yusmoro: PILPRES 2019 TEST CASE BAGI BANGSA INDONESIA (Mengapa Demikian?)

0
236

Ganggas Yusmoro 4Ketika Jokowi “dicemplungkan” dan terpilih menjadi Presiden RI, konon Kas Negara nyaris seperti kantong kosong glondangan. Hutang negara warisan Pak Mantan yang tidak produktif untuk mensubsidi BBM, yang terbukti hanya untuk golongan menengah ke atas, di samping subsidi lain seperti halnya BLT dan subsidi listrik yang membuat bangsa ini jadi malas.

Tentu saja, jika diteruskan, Indonesia akan kolaps. Ambleg. Indonesia akan berjalan di tempat. Indonesia akan semakin tertinggal. Yang pasti, Indonesia saat itu sedang dalam keadaan sakit kronis.

Di banyak daerah pelosok, belum tersentuh listrik. Akses infrastruktur menjadi kendala sehingga keseimbangan harga kebutuhan pokok meloncat-loncat tidak terkendali. Jalan-jalan di perbatasan sangat memalukan. Papua dibiarkan menjadi pulau besar nan angker namun SDA alamnya dikuliti habis-habisan.

Keberanian Jokowi adalah, Indonesia harus bangkit. Tidak boleh ketinggalan dengan negara tetangga. Indonesia harus diobati sesegera mungkin.

Kebijakan dilematis Jokowi dengan mencabut subsidi yang langsung bersinggungan dengan kebutuhan dasar kehidupan manusia membuat pro kontra. Yang memaklumi sadar sesadar-sadarnya bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah kewajiban semua komponen bangsa. Kesadaran berbangsa bahwa kita adalah indonesia. Indonesia yang sebagian saudara saudara kita masih hidup papa dan menderita.

Recovery butuh pengorbanan, kerja keras dan tepat sasaran. Itu yang menjadi tujuan dari kebijakan Jokowi.

Persoalannya adalah, apakah kebijakan Jokowi tersebut juga diterima oleh masyarakat luas dengan lapang dada?

Bagi orang-orang berpikir, ketika subsidi listrik dicabut, mereka mencari solusi.mengadakan penghematan. Lampu diganti dengan yang hemat energi. Alat listrik yang tidak dipakai dimatikan. Colokan kabel dicabut.

Nah, bagi orang-orang yang tidak mau mikir, mereka ngamuk-ngamuk. Tidak mau mencari alternatif solusi agar biaya listrik bisa ditekan. Ngamuknya hingga sekarang. 4 tahun lebih.

Yang pakai mobil juga demikian, bagi yang waras, mereka hanya memakai mobil jika betul-betul perlu. Biar hemat. Bagi yang suka seenaknya, mereka sampai sekarang masih nggrundel. Masih suka ngomel-ngomel.

Cerita di atas adalah yang terjadi secara umum di masyarakat, namun ada hal yang lebih urgen kenapa Pilpres 2019 sebagai test case bagi bangsa Indonesia. Jika Jokowi kalah, Ideologi Khilafah akan diberi ruang kembali. beranak pinak. Ini tentu sangat berbahaya bagi masa depan anak cucu. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dipertaruhkan!

Belum lagi Orba, para mafioso dan kaum feodali yang sekarang “nyangkruk” di kantor-kantor instansi pemerintah. Jika Jokowi tumbang, tentu Indonesia akan seperti Zaman Penjajah. Rakyat hanya dijadikan sapi perah. Dikit-dikit pungli.

Jika merunut bahwa kemenangan Jokowi tahun 2014 hanya selisih 2,5%, sejatinya Bangsa Indonesia terdiri dari 2 golongan. Golongan orang yang berpikir, yang berjiwa nasionalis sejati, versus golongan orang-orang yang egois. Yang memikirkan perutnya sendiri, kelompoknya sendiri dan golongannya sendiri!

Sekali lagi, jika Jokowi kembali meraih kemenangan, bisa diasumsikan itu kemenangan bagi Bangsa Indonesia. Kemenangan kaum Nasionalis, bangsa yang mempunyai wawasan. Kemenangan orang-orang waras seluruh indonesia.

Jika kalah, entahlah. Kegelapan, awan hitam akan bergulung-gulung di langit Bumi Pertiwi ini. Ibu Pertiwi akan semakin menangis pilu bersusah hati.

Itu kenapa Jokowi musti didukung kembali. Raih kemenangan! Dua periode! Mau Indonesia dikelola oleh orang-orang yang mau merusak? Saya tidak mau.

#TetapJokowi


Jetpack

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.