Kolom Asaaro Lahagu: ANDI KORBAN JOKOWI? KORBAN NENEK LU! (Kalak Si Salah Mburak Si Robah)

0
444
Asaaro Lahagu
Asaaro Lahagu

Andi Arief menikmati sabu dan aduhai dengan artis. Andi berfantasi dengan wanita. Terbang ke awang-awang. Menikmati surga dunia di Hotel Peninsula. Setelah Andi tertangkap basah, Waketum Gerindra (Arief Puyono) bilang Andi korban kegagalan pemerintah. Korban nenek lu!

Puyono berlogika bahwa peredaran narkoba di Era Jokowi semakin banyak.

Karena saking banyaknya, maka Andi Arief ikut terpengaruh dan ikut-ikutan sebagai pemakai. Ini berarti karena banyaknya sabu beredar, maka Andi Arief tak bisa menahan diri, lalu ikut tergoda. Digoda nenek lu!

Logika Puyono itu aneh bin ajaib. Logika halusinasi dan tidak jauh beda dengan Andi Arief. Ini pola pikir yang benar-benar 100% kampret. Andi yang menikmati, yang disalahkan Jokowi. Apa-apa saja di tahun politik ini yang disalahkan Jokowi. Salah nenek lu!

Apakah Andi Arief itu anak Balita yang gampang dipengaruhi? Kalau mengikuti logika kampret Arief Puyono, ya. Ia gampang digoda, diiming-iming oleh setan sabu. Andi Arief yang imannya setipis tempe sangat gampang dipengaruhi. Iman setipis tempe nenek lu!

Apalagi sabu di depan Andi menari-nari bersama wanita cantik dan aduhai, maka nafsu Andi Arief untuk menikmati sabu bersama wanita itu tak terkendali. Ia tak kuasa menahan libidonya untuk mencicipi sabu dengan bumbu sedap wanita cantik. Libido nenek lu!

Coba kalau sabu tidak menari-nari di depan Andi dan tidak ada wanita yang bisa dibooking, maka iman Andi dijamin terjaga. Artinya jika di sekitar Andi tidak ada sabu, tidak ada wanita, maka ia pasti tidak ditangkap. Andi pasti selamat. Selamat nenek lu!

Apa yang disampaikan Arief Puyono di atas adalah contoh sikap kekanak-kanakan. Anda yang salah, lalu yang dituding salah orang lain. Sikap kekanak-kanakan itu adalah sikap pengecut. Anda yang berbuat, andalah yang harus bertanggungjawab.

Publik memang tahu kenapa Arief Puyono langsung menyalahkan Jokowi atas tertangkapnya Andi Arief itu. Alasannya ada 3.

Pertama, Kubu Prabowo dilanda kepanikan. Ya, panik. Mengapa? Karena satu demi satu orang-orang di tim pemenangannya semakin banyak yang ditangkap karena tersangkut pelanggaran hukum. Ini jelas membuat Kubu Prabowo gelisah dan bingung cara menyerang Jokowi.

Ke dua, Kubu Prabowo kehabisan akal bagaimana cara meng-counter berita tertangkapnya Andi Arief. Jika dibilang penangkapan Andi Arief itu hoax, arus informasi tak bisa ditutup-tutupi. Jika dikatakan Andi Arief sedang dikriminalisasi, pasti lebih aneh. Jika dibilang Andi Arief masuk jebakan, pasti dengan mudah polisi bisa membuktikannya.

Ke tiga, Kubu Prabowo semakin hari semakin bersumbu pendek. Mereka semakin berperangai pengecut. Tidak mau mengakui kesalahan. Selalu melempar kesalahan kepada orang lain. Jadi apapun yang dilakukan dan bermasalah dengan hukum, maka selalu ditembakkan balik kepada Jokowi. Dan ini cara berpikir pendek, alias bersumbu pendek. Tak usah mikir, semua kesalahan timpakan kepada Jokowi.

Lalu, apakah benar di Era Jokowi peredaran Narkoba semakin merajalela? Sama sekali tidak. Di Era Jokowi peredaran Narkoba sudah bisa dikendalikan. Masih ingat bagaimana Jokowi memerintahkan eksekusi mati terhadap Bandar Narkoba beberapa tahun lalu? Pun berkali-kali Jokowi meminta kepada aparat agar menembak mati langsung Bandar Narkoba.

Di Era Jokowi pemberantasan Narkoba luar biasa menderu. Banyak kasus-kasus besar soal penyelundupan Narkoba terungkap di Era Jokowi. Sudah berapa banyak orang yang tertangkap, tersangka karena penyalahgunaan Narkoba di Era Jokowi. Pemberantasan Narkoba di Era Jokowi pun cukup memuaskan.

Menurut survei Indonesia Development Monitoring (IDM) yang dirilis pada tanggal 24 Mei 2018, pemberantasan Narkoba di Era Jokowi dinilai berhasil.

“Sebanyak 62,6% masyarakat puas dengan kinerja pemberantasan Narkoba di Era Jokowi. Sisanya, 15,8% tidak puas karena masih banyak peredaran Narkoba di masyarakat,” kata Direktur Eksekutif IDM (Bin Firman Tresnadi) di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat [Kamis 24/5].

Selain itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) di era Jokowi dinilai berhasil mengungkap kasus-kasus besar Narkoba.

“Sebanyak 21,6% responden mengaku sangat puas karena BNN banyak membongkar kasus-kasus besar,” ungkapnya.

Bin Firman menjelaskan, banyak responden yang mengatakan di Era Presiden Jokowi, Narkoba sangat sulit untuk didapat. Makanya, banyak orang yang beralih ke minuman oplosan.

“Dulu itu nyari cimeng (ganja) sangat mudah dan murah, sekarang itu susahnya minta ampun. Makanya banyak yang beralih ke minuman oplosan, dan akhirnya mati,” tuturnya.

Tentu saja pemberantasan Narkoba di Indonesia tidaklah mudah. Apalagi pemakainya sudah lebih 3,5 juta di Indonesia. Peredaran Narkoba itu sudah lintas negara. Banyak jalan tikus soal peredarannya di Indonesia. Di samping itu ikut terlibatnya beberapa oknum aparat, turut menghambat pemberantasan Narkoba lebih cepat.

Butuh waktu dan payung undang-undang dari DPR agar pemberantasan Narkoba bisa dilakukan seperti Duterte di Philipina. Tentu tidak segampang membalik telapak tangan atau segampang omong kosong besar mulut ala Fahri Hamzah di DPR.

Apalagi seomong-kosong Waketum Gerindra (Arief Puyono) yang dengan gampang menyalahkan Jokowi soal Andi Arief. Andi yang menikmati, flying sampai ke langit ke tujuh bersama dengan artis cantik, lalu yang disalahkan Jokowi. Anda tidak bisa mengontrol nafsu, lalu orang lain yang disalahkan. Lalu dibilang korban kegagalan Jokowi. Korban nenek lu!

Catatan Redaksi: Ada perumpaan di Suku Karo “kalak si salah Mburak si robah” yang secara harafiah berarti “orang [lain] berbuat salah, Mburak yang harus bertaubat”. Mburak adalah panggilan untuk laki-laki dari clan (merga) Ginting. Terkait tulisan di atas, “Andi Arief yang berbuat salah Jokowi yang dituntut bertaubat”.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.