Kolom Ganggas Yusmoro: KEGAGALAN JOKOWI VERSI WAKET GERINDRA (Ula Salahi Si La Ersalah)

1
200

Ganggas Yusmoro 4Andi Arief ditangkap karena nyabu, Salah Jokowi. Dianggap gagal memberantas Narkoba. Jangan-jangan Waket Gerindra juga lagi fly. Entahlah. Jika ngikutin logika Waket Gerindra, boleh jadi Ratna Sarumpaet yang suka hoax, yang suka menebar fitnah, itu juga kegagalan Jokowi. Kenapa?

Jokowi gagal dalam mendidik Ratna. Gagal membuat Ratna jadi orang baik-baik. Bahkan dianggap salah Jokowi juga karena I need you Badly tidak kesampaian. Salah Jokowi, to?

Ketika setiap hari Jumat banyak orang menanyakan Pak Wo Jumatan di mana, yang salah juga Jokowi. Kenapa harus ada hari Jumat di kalender? Toh sebagai presiden Jokowi bisa menghapusnya? Salah Jokowi lagi.

Terjadi banjir, gunung meletus, dan bencana alam lainnya barangkali bagi Waket Gerindra juga salah Jokowi. Kenapa tidak bisa mencegah?

Jika banyak orang mengatakan syarat untuk menjadi pendukung mereka ternyata harus Bento dulu, harus Mendo dulu, harus glewo dulu dan harus goblok bin gebleg dulu ternyata kok ya betul, ya?

Catatan Redaksi: Clip di bawah adalah sebuah lagu Karo yang kira-kira isinya “jangalah disalahkan yang bukan bersalah, salahkan lah yang benar-benar bersalah”.

1 COMMENT

  1. “Andi Arief ditangkap karena nyabu, Salah Jokowi. Dianggap gagal memberantas Narkoba.” Wow, Waketum Gerindra Arief Poyuono ngomong ngawur dan kekanak-kanakan. Kalau anak-anak berbuat salah patut memang menyalahkan orang tua karena tanggungjawabnya mendidik anak-anak. Tetapi Andi Arief bukan anak-anak dan karena itu tidak bisa menyalahkan orang tuanya, apalagi . . . presiden negaranya . . . jauh sekali, tendensi yang disasar oleh waket Gerindra. Tindakan Andi Arief adalah kriminal, dan kriminal besar karena Indonesia dalam keadaan darurat narkoba, disampingitu juga dia seorang penanggung jawab partai politik.

    Menurut waketum Geindra juga pemerintahan Jokowi tidak serius menangani peredara narkoba, karena sekarang narkoba lebih banyak, menurutnya. Tetapi tertangkapnya Andi Arief juga kan menandakan keseriusan menghadapi peredaran dan pemakaian nanrkoba.

    “Pernyataan itu jelas tendensius, inisuatif dan bisa dibaca sebagai upaya mengkambinghitamkan pemerintahan Jokowi atas tindakan individual yang dilakukan seorang pengurus partai pendukung kubu Prabowo,” kata Koordinator Ksatria Airlangga Teguh Prihandoko dalam keterangan tertulis, merdeka com Selasa (5/3).
    Kata Teguh juga bahwa peredaran dan pemakaian narkoba oleh para politikus sangat berbahaya bagi kehidupan negara kalau politikus yang bertanggung jawab mabuk narkoba. Ini betul sekali!

    Usaha memabukkan para politikus penanggung jawab suatu negara adalah salah satu usaha neolib NWO untuk merusak sebuah negara dan kemudian menguasainya, pemerintahannya maupun SDAnya, ekonominya dan finansialnya. Narkoba adalah bagian penting dalam usaha itu. Sudah banyak contohnya di Indonesia, politikus dan pejabat masuk penjara. Terorisme adalah alat penting lainnya. Terorisme sudah semakin redup berkat penelanjangan bertubi-tubi dari ahli-ahli internasional dan publik dunia.

    Alat lainnya seperti ‘komunisme’, sudah lama meredup dan dikenal sekarang sebagai hoax terbesar dalam sejarah kemanusiaan.
    Narkoba, sex traffiking, pedofil, feminism, alat perusakan kultur budaya nasional dengan 24/7 hiburan Hollywood dll, semua adalah pengganti komunisme yang sudah gagal itu. Harus juga dimasukkan ‘pengungsi-isme’ buatan George Soros yang sekarang rame diperdebatkan di Eropah.

    Soal narkoba di Eropah, tidak ada satu negarapun dimana narkoba berkurang, membandingkan dengan tuduhan waketum Gerindra kalau di Indonesia narkoba bertambah. Apakah Filipina misalnya narkoba berkurang? Tidak jelas juga memang. Tetapi disana yang jelas pengguna dan pengedar termasuk polisi dan walikota yang memihak peredaran narkoba memang jauh berkurang, karena ditembaki langsung ditempat oleh pasukan pemberantas narkoba Duterte.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.