Kolom Asaaro Lahagu: DOSEN UNJ ROBERTUS ROBERT, HINA ABRI, DITANGKAP DAN TERSANGKA

1
419
Asaaro Lahagu
Asaaro Lahagu

Dosen Sosiologi UNJ (Robertus Robert) menghina dan merendahkan institusi ABRI. Lewat sebuah video yang viral, Robertus mengatakan ABRI tidak berguna, dibubarkan saja, diganti Menwa atau Pramuka. ABRI itu menurutnya, tukang palak. Naik bis kota, makan di warung Tegal tidak bayar. Sadis.

Atas penghinaannya itu, Robertus pun ditangkap pagi hari ini [Kamis 7/3] oleh polisi dan langsung menjadi tersangka. Saat ditangkap, Robertus tidak melakukan perlawanan. Ia hanya pasrah dan mungkin mewek dalam hati.

Sebelumnya, Robertus Robert telah berbusa-busa mulutnya menjelaskan konteks dan maksud ucapannya itu sekaligus meminta maaf lewat sebuah video. Namun publik tetap merasa lagu yang diplintirnya itu telah menghina dan merendahkan institusi ABRI di muka umum. Nama ABRI memang sudah diganti dengan nama TNI-Polri. Namun pewaris ABRI adalah TNI-Polri tetap merasa terhina oleh ucapan Robertus itu.

Saya sendiri sebagai warga biasa, ketika melihat video viral Robertus Robert itu, ikut tersinggung dan bahkan tersenggol hehehe. Robertus dengan semberangan merubah lirik lagu ABRI dengan syair penghinaan. Perhatikan isi lagu yang dinyanyikannya Robert dalam video viral tersebut.

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia

Tidak berguna

Bubarkan saja

Diganti Menwa

Kalau perlu diganti Pramuka

Naik di bis kota tak pernah bayar

Apalagi makan di Warung Tegal

Video lagu Robertus ini direkam 2 minggu lalu saat ia menjadi pembicara. Menurut Robertus Robert, ABRI tidak berguna. Ya, tidak berguna. Kesimpulan ini jelas sangat mengerikan. Seorang dosen, alumni STF Driyakara, S-3 pula, dengan gegabah membuat kesimpulan: ABRI tidak berguna. Saya yakin, Robertus sudah mempelajari logika. Ketika membuat sebuah conclusion maka harus benar-benar didasarkan oleh premis-premis yang valid dan kuat.

Logika Robertus Robert (RR) semakin picik ketika ia mengusulkan ABRI bubarkan saja. Begitu gampangnya kata ‘bubarkan’ meluncur dari mulut RR. Mungkin RR belum merasakan sendiri bagaimana nasib negara Suriah yang diporak-poraknda oleh ISIS saat ini. Hancur-lebur.

Jika ABRI tidak ada, maka saat ini, kaum radikalisme, kaum khilafah sudah leluasa menguasai negara ini. Mereka mungkin sudah berkuasa seperti ISIS. Dan sangat mungkin kita saksikan darah, nyawa, kepala manusia tak berharga dimana-mana. Siapa saja yang melawan mereka, kepala akan menggelinding di got dan di tong sampah.

Entah apa lagi yang ada di kepala RR ketika ia mengusulkan lebih jauh agar ABRI diganti Menwa. Menwa itu adalah Resimen Mahasiswa, salah satu kekuatan sipil yang dilatih dan dipersiapkan untuk mempertahankan NKRI. Jika di negara ini hanya dilindungi oleh Menwa, maka NKRI ini sudah lama bubar.

Cara berpikir RR menjadi kacau ketika ia menginginkan ABRI diganti saja dengan Pramuka, Praja Muda Karana. Yang saya tahu anggota Pramuka itu semua anak sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ditambah para pegawai negeri dan swasta yang berseragam pramuka. Jadi ABRI diganti anak-anak SMA dan para pegawati untuk mempertahankan negeri ini? Bisa kacau, bisa hancur negara ini.

Hal yang paling menyinggung dari lagu RR itu adalah potongan lagu baris terakhir. Ia mengatakan ABRI kalau naik bis kota dan makan di Warung Tegal. Ini sangat menghina institusi ABRI. Sehina itukah ABRI di mata rakyat? Bisa saja memang ada oknum ABRI yang dulunya seperti itu, namun hanya oknum kecil saja.

Setahu saya, ABRI yang sekarang berganti nama TNI dengan tiga mantra: TNI-AD, TNI-AU, TNI-AL dan terpisah dengan Polri, posisinya sangat strategis. Fungsi utama mereka sebagai pertahanan dan keamanan sudah tak bisa ditanya lagi. Saat-saat Indonesia dilanda gempa, maka beban besar untuk membantu selalu di pundak TNI dan Polri. Apa yang salah dengan ABRI di mata RR?

Saya duga ada tiga faktor yang membuat RR berani menghina ABRI.

Pertama, kecenderungan TNI yang di era pemerintahan Jokowi pelan-pelan kembali memainkan dwi fungsinya sebagai pertahanan dan keamanan. Kini memang ada sekitar 300 orang perwira tinggi TNI yang tidak punya job. Ada usul agar mereka itu dikaryakan di berbagai kementerian.

Bisa saja RR mengkritik kecenderungan itu. Namun menghina ABRI dengan lagu jelas tidak cerdas dan bersumbu pendek. Ada banyak bentuk kritik yang bisa disampaikan agar TNI tidak kembali memainkan dwi fungsinya seperti di era Soeharto.

Ke dua, saya curiga RR ini menjadi salah seorang yang sudah termakan provokasi. Maka menjelang Pilpres 2019, RR ikut memperkeruh suasana dengan mengadu-domba ABRI dengan rakyat. Caranya ia menaruh benih-benih kebencian rakyat terhadap ABRI. Nantinya pasca Pilpres, benih-benih itu siap meledak kapan saja jika situasi pasca Pilpres tak terkendali.

Ke tiga, RR mungkin cemburu kepada Rocky Gerung yang lebih terkenal daripada dirinya. Iapun ingin terkenal di sosial media, diliput televisi dan menjadi heboh. Caranya ia menyerang ABRI dengan kedok kritik atas nama demokrasi. Dan memang RR sekarang terkenal diliput media. Namun sayang, ia terkenal karena menghina ABRI dan mengumbar kebencian di muka umum.

Pasca ditangkap dan ditetapkan menjadi tersangka, nasib dan karir RR mungkin hancur. Keluarganya pun menjadi malu. Tidurnya yang nyaman di malam hari kini dihabiskan di tahanan. Di sana ia merasakan nyamuk, kecoa dan bau amis tahanan. Ke depan ia bisa saja diseret di pengadilan untuk diadili.

Apa pelajaran dari kasus RR itu? Siapapun harus benar-benar hati-hati berbicara di muka umum. Kritik dan hinaan itu bedanya sangat tipis, setipis tempe Sandiaga. Saat ini siapapun juga dengan mudah merekam siapa saja dan apa saja yang terlihat aneh.

Menjelang Pemilu 17 April 2019 TNI-Polri yang sudah sangat solid, sudah menaikkan ke batas maksimal rasa kepekaan, daya sensifitas tingkat tinggi mereka untuk selalu mendengar, melihat, mengawasi, waspada sekecil apapun yang berpotensi mengganggu pemilu. Apalagi saat ini kubu Prabowo sedang mempersiapkan skenario kekalahannya. Dan ini sedang dibaca betul oleh TNI-Polri. Begitulah kura-kura.

Catatan Redaksi: Sebuah tulisan pembelaan terhadap Robertus Robert akan menyusul untuk menjelaskan “duduk perkara” yang sebenarnya.


1 COMMENT

  1. Kalau yang dimaksud ABRI Soeharto, jelas sangat memusuhi rakyat ketika itu, dan menjadi alat kekuasaan rezim fasis Soeharto. TNI sekarang bukan ABRI Soeharto.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.