Kolom Edi Sembiring: BEBASKAN ROBET (Sirulo TV)

0
222

edi sembiringRobertus Robet berorasi dalam Aksi Kamisan di Monas, Jakarta [Kamis 28/2]. Robet bercerita tentang lagu yang juga dulu sering dinyanyikan banyak aktivis. Lagu ini bukan Robet yang membuat. Bukan Robet yang mengganti liriknya. Namun beredar potongan-potongan video yang seakan mau menyatakan Robet menghina ABRI dengan lagu ini.

Robet tidak menghina ABRI. Bahkan menyatakan mencintai tentara. Simak saja video lengkap di bawah.

Di dalam video lengkap orasinya, Robertus Robet menyanyikan lagu yang juga dinyanyikan oleh para mahasiswa, pelajar, pemuda, buruh, dan aktivis dari tahun 1994-1998 untuk menumbangkan Rezim Orba.

Beberapa hari ini, ada yang terjebak pada potongan video pendek tanpa mendengarnya secara utuh. Tanpa mendengar penjelasan sejarah lagu ini. Tanpa mendengar rasa kecintaannya pada tentara. Tanpa mendengar utuh orasinya. Seperti kesimpulan pendek ini (Lihat di SINI):

Dan Robertus Robet ditangkap polisi [Kamis 7/3: Dini Hari]. Dia ditangkap karena dianggap melanggar UU ITE ketika bernyanyi dalam Aksi Kamisan di Monas, Jakarta, 28 Februari lalu (Lihat di SINI).

Dan Robet pun sempat memberi penjelasan menanggapi beredarnya video-video yang dipenggal seenaknya oleh orang-orang tertentu.

 

Video orasi Robet yang diunggah oleh akun Youtube Jakartinicus dipotong dan diviralkan oleh pihak tertentu, sehingga Robet dianggap menghina institusi TNI. Padahal, Robet sudah menyampaikan konteks dari orasinya itu adalah refleksi. Dia juga menegaskan bahwa kritik itu disampaikan lantaran ingin institusi TNI tetap profesional.

Isi lengkap refleksi Robet pada Aksi Kamisan tersebut dapat dibaca di SINI.

Apakah para pengedar video yang dipotong itu tak pernah mendengar atau tahu tentang kisah tumbangnya Orde Baru dan lagu ini? Apakah mereka tidak tahu, bahwa lagu ini bersama lagu Darah Juang dan lagu lainnya telah membuat kesadaran dan bangkitnya perlawanan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun melawan Rezim Orba?

Buahnya kini, kita dapat mengecap demokrasi yang lebih baik, adanya pemilihan langsung, berdirinya banyak partai, hingga dijaminnya kebebasan berpendapat. Hal yang tak mungkin kita dapatkan di masa Orba. Lalu, atas dasar kebebasan berpendapat, mengapa harus Robet ditangkap?

Harusnya yang ditangkap adalah para penyebar video yang memotong orasi dari Robet hingga menimbulkan kesalahpahaman penonton akan potongan dari video itu.

Bebaskan Robertus Robet.

TONTON DULU VIDEO LENGKAPNYARobertus Robet pada aksi kamisan berbicara tentang berbahayanya rencana penempatan TNI pada pemerintahan sipil. Dia mengingatkan ini yang terjadi pada Orde Baru dengan istilah Dwi-Fungsi ABRI. Pada orasi itu ia kemudian menyanyikan mars ABRI versi plesetan yang hampir kita semua aktifis 90an khatam. Dan mengingatkan sekali lagi itu adalah kondisi yang terjadi ketika itu. Dan bisa terulang lagi apabila rencana penempatan TNI tidak ditolak. Mereka yang menekan agar Robet diproses hukum adalah 1) mereka yg terhasut dan tidak mengerti konteks dari video yg diedit atau;2) mereka yang berkepentingan politik dengan kembalinya TNI ke pemerintahan sipil. Dan menggunakan kasus ini untuk meredam penolakan masyarakat thd rencana penempatan TNI di sipil.

Posted by Leopold Sudaryono on Wednesday, March 6, 2019

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.