Kolom Asaaro Lahagu: PILPRES 2019, AMERIKA DUKUNG JOKOWI ATAU PRABOWO?

1
489
Asaaro Lahagu
Asaaro Lahagu

Pilpres 2019 akan menjadi ajang persaingan antara 2 orang yang pernah berseteru sebelumnya. Di satu pihak, Presiden Joko Widodo dan, di pihak lain, pensiunan militer Letnan Jenderal Prabowo Subianto sekaligus Ketua Umum Partai Gerindra.

Pemenang dalam Pilpres 2019 itu jelas penting bagi Amerika karena beberapa alasan.

Pertama, Indonesia adalah negara yang berpenduduk nomor 4 terbanyak di dunia dan beragama mayoritas Muslim. Hebatnya, Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara mayoritas Muslim yang berhasil membangun sistem politik yang demokratis.

Ke dua, Indonesia adalah pemimpin 10 negara ASEAN. Negara-negara di kawasan ini telah mulai berhasil membangun perdamaian dan kemakmuran yang patut ditiru di belahan dunia lain dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Kini, negara-negara ASEAN itu sudah menjadi mitra ekonomi utama Amerika.

Ke tiga, Indonesia saat ini telah keluar dari pemerintahan otoriter selama 32 tahun di bawah Jenderal Soeharto. Kini, Indonesia termasuk negara demokrasi terbesar di kawasan ASEAN dan nomor 2 di ASIA setelah India. Pemilu serentak disertai Pilpres langsung adalah bukti kemajuan demokrasi di Indonesia.

Berdasarkan ketiga alasan itu, Amerika menilai Pemerintahan Jokowi lebih selaras dengan nilai-nilai Amerika daripada Prabowo. Gaya kepemimpinan Jokowi yang lebih menghormati hak asasi manusia dan supremasi hukum, lebih cocok dengan Amerika.

trump 2

Sebaliknya, pemerintahan yang dipimpin oleh Prabowo diprediksi akan lebih otoriter. Keterlibatan Prabowo dalam aksi penculikan para akktivis 1998 lalu mengkonfirmasi hal itu. Prabowo sendiri terus menolak untuk menjawab pertanyaan tentang dugaan keterlibatannya dalam menghilangkan puluhan aktifis pro-demokrasi selama hari-hari terakhir Rezim Soeharto.

Terkait penculikan itu, sampai sekarang, Amerika, Inggris, Australia mengatakan No sama Prabowo. Prabowo hingga kini tetap tidak bisa masuk Amerika dan Inggris. Prabowo masih ditolak masuk ke Amerika dan Inggris.

Bagi Amerika, catatan hak asasi manusia Prabowo adalah salah satu yang terburuk diantara para jenderal Angkatan Darat selama Era Soeharto. Jejak hitam Prabowo dalam membungkam para aktivis demokrasi membuat Amerika semakin enggan mendukung Prabowo.

Secara jangka pendek, Prabowo sebetulnya lebih disukai oleh Pemerintahan Trump. Alasannya, karena pendekatan Prabowo yang tegas sekaligus otoriter dalam memerintah. Selain itu Prabowo dikenal dengan kebijakan luar negerinya yang keras.

Akan tetapi, dalam hubungan jangka panjang, Amerika lebih memilih Pemerintahan Jokowi. Amerika memang paham kepentingan Amerika di Indonesia telah ‘diganggu’ oleh Jokowi seperti di Freeport. Namun, Amerika sadar Jokowi fight untuk rakyatnya dan bukan untuk dirinya. Itulah sebabnya Amerika akhirnya memilih diam dan tidak terlalu mengganggu Jokowi soal Freeport itu.

Bagi Amerika, jika Jokowi tetap menjadi Presiden, stabilitas di Kawasan ASEAN tetap terjaga. Hubungan Indonesia-Amerika tidak terganggu. Amerika tahu Jokowi bisa menempatkan posisi Indonesia tetap netral dan berani melawan hegomoni China di Kawasan Asia Pasifik. Bukti keberanian Jokowi di Natuna saat menantang China menjadi kredit poin Amerika untuk Jokowi.

anti trump 2

Alasan lain Amerika lebih mendukung Jokowi adalah soal kebangkitan China. China saat ini dan terlebih di masa depan, menjadi ancaman bagi dominasi Amerika. Lebih baik Amerika mendukung Jokowi yang kelemahan dan kekuatannya sudah diketahui, daripada Capres lainnya yang belum tentu menguntungkan posisi Amerika.

Presiden Trump sendiri secara senyap berhasil diyakinkan oleh lingkar elit pemerintahannya. Kunjungan Menhan Ryamizard Ryacudu ke Amerika beberapa waktu lalu mampu menembus jantung inner circle kekuasaan Trump terutama Menhan AS Jenderal Mattid tentang posisi Indonesia.

Ryamizard mampu meyakinkan Pemerintahan Trump bahwa posisi Indonesia ke depan tetap menjadi bagian dari Indo Pasific bersama Australia, India dan Jepang dalam menghadapi ambisi China dengan konsep BRI.

Bagi Amerika, Jokowi akan lebih baik jika memperoleh kemenangan dalam Pilpres 2019. Nantinya, Jokowi diyakini akan lebih mudah untuk memperbaiki beberapa sistem kelemahan politik demokrasi Indonesia terutama peran parlemen. Dan, arah kemenangan Jokowi itu sudah diketahui oleh Amerika.

Laporan dalam tulisan Voice of America, pada 9 Januari 2019, memuat survei terbaru oleh salah satu lembaga opini publik yang terpercaya di Indonesia memberi Jokowi peringkat persetujuan 55% dibanding 35% untuk Prabowo.

Hasil survei Roy Morgan Poll yang diberitakan juga Bloomberg menyatakan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 58%. Sedangkan Prabowo-Sandiaga di angka 42%. Jika dibandingkan dengan Pilpres 2014, ada kenaikan para pemilih Jokowi di kisaran 6%.

Nampaknya usaha Prabowo, Fadli Zon dan tim elitnya untuk menarik Amerika ke kubunya adalah gagal. Pun usaha menarik Rusia ikut bermain di Pilpres Indonesia dan berada di pihaknya gagal juga.

Tanda kegagalan itu bisa dilihat dari usaha all-out Prabowo merangkul habis Kubu Islam garis keras termasuk akan menjemput langsung Rizieq Shihab. Mengapa? Karena hanya Kubu Islam garis keras itulah yang bisa diandalkannya dalam Pilpres. Begitulah kura-kura.


1 COMMENT

  1. Kepentingan Nasional Bangsa-Bangsa Dunia.

    “Namun, Amerika sadar Jokowi fight untuk rakyatnya dan bukan untuk dirinya. Itulah sebabnya Amerika akhirnya memilih diam dan tidak terlalu mengganggu Jokowi soal Freeport itu.”

    Terlihat memang kalau Trump melihat soal dari kepentingan nasional tiap negeri, termasuk dan terutama tentu kepentingan nasional AS. Trump bersahabat dengan semua negeri, tetapi tetap kepentingan nasional AS diutamakan. America First, jadi semboyannya yang dibanggakan.

    Trump adalah seorang nasionalis, ‘just call me a nationalist’ katanya. Dan dia berusaha menghormati semua nation yang berjuang untuk kepentingan bangsanya/negaranya. Karena itu bisa dipahami oleh Trump kalau Indonesia (Jokowi) mengutamakan kepentingan nasionalnya lebih dahulu dengan ‘menasionalsasi’ Freeport Papua.
    Trump menyatakan soal ini dengan kalimat:

    “We will seek friendship and goodwill with the nations of the world – but we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.”
    Selanjutnya dia katakan:
    “We do not seek to impose our way of life on anyone, but rather to let it shine as an example for everyone to follow.”
    (kutipan dari pidato peresmiannya januari 2017).

    Sikapnya ini terlihat juga dalam menghadapi Korut dalam perundingan terakhir di Hanoi. Trump tidak menmaksakan kehendaknya sebagai negara adi daya dunia, tetapi malah mengatakan: ‘Sometimes we have to walk’ katanya, ketika perundingan tidak menghasilkan sesuatu yang konkret. Jadi sesuai dengan pidatonya: “we do so with the understanding that it is the right of all nations to put their own interests first.”

    Luar biasa memang kalau Trump bisa terus mengikuti garis politik nasionalis yang sudah dia tetapkan dalam pidato peresmiannya itu.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.