Kolom Boen Syafi’i: INDONESIA TURUT BERDUKACITA

1
247

Boen Safi'iParty, let’s begin,” begitulah ucapan pertama saat memasuki pintu masuk Masjid, dari Brenton Tarrant sang teroris biadab (28 tahun) asal Australia. Ya, dialah pelaku utama dari penyerangan terhadap para jamaah di sebuah Masjid, kota Cristcrucht Selandia Baru. Aksi dari tindakan brutalnya ini pun mengakibatkan 40 orang meninggal dunia, dan 22 orang lainya luka-luka. Si teroris pun mengakui dia pengikut setia Donal Trump sang Presiden AS, yang terkenal rasialis dan anti terhadap humanity.

Atas terjadinya insiden tersebut, lantas siapakah dalam hal ini yang patut disalahkan?

Ya, yang patut disalahkan bukanlah agamanya. Melainkan para penganut-penganutnya yang terlalu “kenthir” dalam memahami kesucian dari ajaran agamanya. Inilah bukti kuat, bahwa tindakan teror itu bukan hanya milik satu agama saja, namun ternyata banyak agama juga melakukan hal yang serupa.

Mereka mengira Tuhan lah yang disembahnya. Namun, sayangnya, bukanlah Sang Maha Kebaikan itu yang mereka sembah, tapi setan yang penuh dengan keangkaramurkaan, dan juga kebencian, yang bersarang di dalam dadanya. Padahal, sisi kemanusiaan itu lebih tinggi tingkatannya dari semua agama apapun yang berada di dunia.

Ahsudalah.

Wong agama itu seperti semvak, tidak perlulah dipamer-pamerkan keberadaannya. Jika isinya lebih nikmat, kenapa juga harus meributkan semvaknya? Seluruh agama di Indonesia turut berdukacita atas insiden biadab yang terjadi di New Zaeland. 

Semoga para korban yang meninggal dunia, diberi kenikmatan sorga di kehidupan yang selanjutnya.

Amiin.

Salam Jemblem..

1 COMMENT

  1. Pengetahuan terorisme
    Tulisan soal terorisme serta pengetahuan yang semakin luas soal terorisme, sangat aktual saat ini. Belakangan terlihat terorisme semakin ganas, tetapi juga terlihat tanda-tanda kebalikannya, semakin redup, seperti ISIS, setelah Obama dan Clinton keluar dari Gedung Putih. Menurut Trump, Obama dan Clinton adalah founder dan co-founder dari ISIS.
    Terorisme memang sudah jelas adalah masalah besar dunia, gangguan keamanan dan kesehatan, karena bikin pembunuhan, pemboman ditempat-tempat rame, seperti yang terakhir penembakan di dua masjid Christchurch Selandia Baru itu (15/3).
    Dan masalah-masalah besar dunia memang tidak bisa terpisah dari soal politik, politik apapun namanya. Karena itu terorisme pastilah punya tujuan dan agenda tertentu (politis), oleh kelompok tertentu pula. Ini terutama terlihat kalau kita baca-baca peryataan dan kesimpulan ahli-ahli dunia soal terorisme. Dari situ bisa dibaca dan terlihat jelas dan tidaklah diragukan kalau ada unsur politik didalam aksi terorisme, walaupun sebagian berpendapat kalau tidak ada niat politis dalam aksi terorisme. Melihat terorisme tidak dari segi politiknya, sangat menguntungkan bagi penggagas terorisme itu sendiri, dan itulah juga memang maksud sampingannya yang sangt penting, supaya publik tetap ‘buta’ soal terorisme, soal tujuannya dan sasaran utamanya.
    “Prominent academic and author Dr Michel Chossudovsky warned that the so-called war on terrorism is a front to propagate America’s global hegemony and create a New World Order.
    Dr Chossudovsky said terrorism is made in the US and that terrorists are not the product of the Muslim world.”
    Bisa digoogle judul ini; Terrorism is “Made in the USA”. The “Global War on Terrorism” is a Fabrication, A Big Lie

    Tulisannya ini pertama dipublikasikan bulan Maret 2015. Jadi yang ‘berkuasa’ di Gedung Putih ketika itu ialah presiden ‘sosialis’/globalis Obama. Sejak Januari 2017 penguasa Gedung Putih adalah nasionalis Trump. Seorang nasionalis anti-globalis menurut pernyataannya sendiri.

    Dengan masuknya Trump ke Gedung Putih, polarisasi publik AS semakin jelas antara kaum nasionalis kontra kaum globalis anti-nasionalis, yang Trump sebut juga ‘the establishment’, penguasa dibelakang Gedung Putih selama Obama. Penguasa sesungguhnya yang berada dibelakang layar ini
    disebut juga ‘the secret government’ (istilah prof Glennon Tuft University)
    atau belakangan oleh publik AS dinamai juga ‘Deep State’. Trump sebagai seorang nasionalis anti globalis, anti the establishment, tidak mau dan tidak bisa lagi dikendalikan dari belakang layar seperti Obama, termasuk bikin ISIS di Timur Tengah ketika dia berada di Gedung Putih. Karena itu juga ‘the establishment’ sekuat tenaga dan dengan segala jalan mau mengusir Trump dari Gedung Putih, termasuk dengan cara ‘Mueller probe’, atau ‘golden shower’ dsb.

    “Terrorism is made in USA, and the war on terrorism is a fabrication, a big lie” kata prof Chossudovsky. Pernyataan ini ketika Obama di Gedung Putih. Meredupnya ISIS dan meredupnya teror diberbagai tempat (Eropah/AS) banyak tergantung dari siapa di Gedung Putih, orang globalis atau orang nasionalis. Meredupnya ISIS buatan Obama/Clinton tidak heran juga, dengan hilangnya Obama dari Gedung Putih.

    Tidak heran juga kalau teroris Christchurch ngaku atau disuruh ngaku ‘pengikut Trump’ mengingat Trump adalah anti-globalis anti NWO. Pengakuan ini penting dalam rangka usaha-usaha besar belakangan ini di AS untuk menjatuhkan Trump dan mengusirnya dari Gedung Putih. Neolib NWO bankir/rentenir internasional yang Trump sebut ‘the establishment’
    ingin mendudukkan kembali boneka-bonekanya di Gedung Putih type Obama atau Clinton.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.