Kolom Eko Kuntadhi: PRABOWO CUMA BERANI DI BELAKANG JOKOWI

0
295

Nanti malam bakal ada Debat Capres lagi. Ini adalah debat ke empat. Saya tadinya membayangkan debat, ya debat. Adu argumentasi. Saling melempar ide dan narasi. Saling menyanggah. Saling memberi jab, hook, dan pukulan telak. Tentu dengan data dan gaya komunikasi yang tepat. Jika kita perhatikan narasi yang disampaikan oleh Prabowo di masyarakat, sepertinya sangat keras mengkritik Pemerintahan Jokowi.

Bahkan dia berani bilang, kalau dirinya gak terpilih, Indonesia bakal punah. Emangnya Indonesia Dinosaurus?

Di depan rakyat yang hanya melongo, Prabowo selalu berapi-api bicara mengenai ekonomi kita yang, menurut Prabowo, semakin rusak. Mengenai ketidakadilan yang katanya makin dalam. Mengenai rakyat yang makin susah. Mengenai harga-harga yang katanya mahal.

Kalau bicara itu di depan pendukungnya, sepertinya dia yakin dengan apa yang disampaiknnya. Sepertinya jika omongan itu dibawa ke forum debat, Jokowi akan tidak berkutik. Ditekuk-tekuk. Dihujani kritik.

Bayangkan, kata Prabowo, Indonesia ini seperti menjelang kiamat. Sudah gak ada beres-beresnya sama sekali.

Pokoknya begini, kalau bicara di hadapan pendukungnya, Prabowo seperti macan lapar yang mengaum. Galak. Tapi, dari dua debat yang mempertemukan Prabowo dan Jokowi, saya justru melihat sebaliknya. Di depan Jokowi kegalakan Prabowo menghilang. Dia bukan macan lapar yang mengaum. Dia hanya cicak yang merayap di dinding.

Ketika debat pertama, boro-boro bicara soal elit-elit yang menyengsarakan rakyat. Prabowo biasanya lantang bicara hal tersebut. Dia malah gak berkutik ketika Jokowi bertanya, kenapa Partainya paling banyak mencalonkan Caleg mantan Napi koruptor.

“Kalau korupsinya gak seberapa sih, gak apa-apa,” bela Prabowo. Rakyat pun ngakak.

“Kok kayak kucing kesiram air es, sih. Mengkeret?” celetuk Abu Kumkum, saat Nobar debat bersama.

Coba perhatikan debat ke dua. Prabowo sok-sokan membawa narasi soal ketidakadilan pembagian lahan. Wah, ini seru. Tajinya mulai keluar. Gak kayak ayam betina lagi, pikirku. Dijawab sama Jokowi. “Saya tahu bapak menguasai lahan 120 ribu hektar di Aceh. Juga 220 ribu hektar di Kalimantan. Lahan itu dibagi bukan pada pemerintahan saya.”

Ayam yang tadinya, mau keluar tajinya. Kini petok-petok. Seperti hendak bertelur. Paling dia ngeles. “Saya akan kembalikan lahan negara itu,” ujarnya. Kapan? Nanti kalau dia terpilih jadi Presiden.

Enak aja. Mengembalikan lahan 340 ribu hektar minta ditukar dengan lahan seluruh Indonesia.

Setelah itu, tim suksesnya merengek-rengek. Kenapa menyerang soal pribadi? Soal lahan kan, itu urusan prabadi. Kayak minta dikasihani, gitu.

Eh, Mblo. Lu pikir tanah 340 ribu hektar yang luasnya 5 kali Jakarta cuma urusan pribadi?

Bukan hanya itu. Ketika Jokowi menjelaskan soal data pembangunan, Prabowo cuma manggut-manggut. “Saya setuju. Iya. Saya setuju,” ujarnya malu-malu.

Entah, ke mana larinya kegarangan Prabowo selama ini. Kalau dia bicara mengkritik pemerintah di belakang Jokowi, kayaknya galak banget. Pas di hadapan orangnya langsung. Dia kicep. Mingkem. Manggut-manggut. Gak berani.

Kenapa Prabowo tetiba lebih mirip anggota JKT 48 jika di hadapan Jokowi ketimbang sebagai Jenderal militer? Entahlah. Mungkin karena memang selama ini orang seperti Prabowo hanya berani bicara di belakang. Hanya berani ghibah.

Ketika berhadapan langsung nyalinya seciut lintah dibuburi tembakau. Katanya Macan Asia, nyatanya cuma Winny the Pooh.

Atau mungkin saja kritik Prabowo tentang pemerintah selama ini hanya omong kosong. Gak pakai data. Dan ngelantur. Omongan jenis itu hanya cocok disampaikan kepada pendukungnya yang dianggap bodoh dan punya cara mikir terbalik. Jadi, Prabowo gak berani menyampaikannya di panggung debat yang ditontonoleh orang yang punya otak.

Berbeda dengan Jokowi. Di hadapan rakyat dia santun. Bicara soal program. Kalau ada kritik pada Prabowo, justru disampaikan langsung di panggung debat. Dia bertindak layaknya seorang ksatriya. Bukan tukang ghibah.

Jadi, nanti malam, kayaknya kita gak akan menyaksikan debat yang seru. Paling cuma kuliah umum dari Jokowi tentang keberhasilan pembangunan Indonesia. Juga rencana-rencana besar ke depan. Sementara Prabowo hanya berfungsi sebagai pemanis panggung saja. Mirip kayak gapura gitu deh.

“Bukannya pohon palem, mas?”

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.