Kolom Ganggas Yusmoro: WAJAR, JIKA IBU IRIANA KESENGSEM SAMA JOKOWI (Melihat Episode Debat dari Perspektif Berbeda)

0
501

Pagi ini, apalagi Minggu Pagi, warung Mbak Ngatemi selalu ngumpul buanyak orang. Di warung kopi ini entah kenapa menjadi jujugan untuk ngobrol. Untuk Eyel-eyelan membicarakan soal apa saja. Namun, yang pasti, di wrung ini boleh ngutang secangkir kopi. Itupun syaratnya harus kerlik cangkir cilik. Alias separo dari yang biasa.

” Jadi bagaimana tanggapan sampeyan soal debat tadi malam, Mas?” Itu pertanyaan banyak orang ketika saya nggabung dengan mereka.

“Wajar jika Ibu Iriana kesengsem sama seorang Jokowi.”

” Lhoo, apa hubungannya ?”

“Begini. Debat hanyalah soal dimana seseorang hanya sebatas menunjukkan kepiawaiannya soal ngomong. Soal adu argumentasi. soal bersilat lidah. Namun, sampeyan semua harus tahu, ada yang lebih penting dari itu semua,” jawabku berhenti sejenak sambil nyeruput kopi kerlik.

“Sampeyan semua pernahkah berpikir seorang wanita yang manis, yang sederhana, yang meski sekarang jadi ibu negara tapi tetap sederhana? Tetap tidak neko-neko. Malah, jika diperhatikan, Ibu Negara kita kali ini adalah ibu negara yang paling luar biasa. Jatuh hati pada seorang pria kerempeng yang bernama Jokowi?”

Semua menggeleng.

“Konon, saat itu, seorang Jokowi adalah pemuda kebanyakan. Hidupnya pas-pasan. Ketika wanita muda bernama Iriana menjatuhkan pilihannya pada seorang Jokowi, tentu banyak hal sehingga wanita manis itu jatuh cinta, alias kesengsem. Apakah karena seorang Jokowi muda pandai nggedabrus dan merayu? Saya rasa bukan.”

“Saya yakin seorang wanita muda tersebut berbicara dengan hatinya. Dengan insting, dengan intuisinya. Saya yakin Ibu Iriana melihat ada semangat, ada keteladanan, ada tanggung jawab dan ada jiwa pejuang dalam diri seorang Jokowi.”

“Lalu, apa hubungannya dengan debat semalam?”

“Integritas serta kapasitas seorang Jokowi dalam managerial di semua bidang di kurun waktu 4 tahun lebih telah menunjukkan siapa sebenarnya Jokowi. Barangkali, seperti halnya Ibu Iriana, kita-kita ini sebagai simpatisan Jokowi tentu menilai Jokowi dari hati, dari insting dan intuisi, bahwa Jokowi itu orang baik. Orang yang akan membawa negeri kita ke arah yang lebih baik. Meski tidak ada debat sekalipun, saya yakin hati kita tidak akan berpaling ke Capres yang lain. Ya, to?”

Semua diam.

“Orang-orang baik mendukung Jokowi. Ulama-ulama yang membuat sejuk ada di barisan Jokowi. Kita-kita ini, meski bukan manusia baik-baik Amir, tentu juga selalu kepingin mempunyai pemimpin yang baik. Bukan gerombolan para maling!”

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.