Kalau Prabowo jadi Presiden ada dua gerombolan yang menari gembira. Pertama adalah para penganut mazhab kekerasan. Mereka yang mau mengubah Indonesia jadi negara agama.

Yang ke dua adalah para koruptor.

Beberapa kali pernyataan Prabowo di depan publik sangat ramah pada korupsi. Dengar saja ketika Jokowi menanyakan kenapa partainya mencalonkan Caleg bekas narapidana korupasi.

“Korupsinya juga gak seberapa kan? Gak apa-apa,” ujar Prabowo yakin.

Maksudnya orang yang nyolong duit negara puluhan milyar baginya gak masalah. Belum seberapa dosanya. Mereka harus diberi kesempatan lagi menempati pos strategis. Makanya Gerindra kencalonkan kembali para koruptor untuk duduk di legislatif.

Lalu bagaimana kalau mereka korupsi lagi?

Kalau ketahuan KPK lagi ya, mau gak mau harus diproses. Tapi ingat, kata Prabowo, gak semua hasil korupsinya harus dikembalikan ke negara. Sisakan 5% buat pensiunnya. Jadi, kalau orang korupsi Rp 100 milyar, lalu ketahuan, gak usah dibalikin semua. Masih bisa menikmati Rp 5 milyar.

Enak, kan, jadi pendukung Prabowo. Colong saja uang negara. Ambil yang banyak. Kalau gak ketahuan, bisa nikmati semuanya hasil korupsinya. Kalau ketahuan, kembalikan saja sebagian. Negara ikhlas. Lumayan. Secara hukum. Duit yang tadinya haram karena hasil colongan bisa berubah jadi halal. Hebat, kan, cara berfikirnya?

Pemimpin model begini sama saja beternak maling. Padahal semua orang tahu korupsi adalah musuh bangsa. Di China koruptor dihukum mati. Sama Prabowo koruptor malah dikasih uang pensiun. Gimana gak enak?

Bagaimana agar rakyat gak protes? Di sinilah peran ulama abal-abal yang tugasnya membius rakyat difungsikan. Jejali rakyat dengan doktrin agama. Keampuhan doktrin mereka selama ini terbukti efektif. Meski semua orang tahu Prabowo cara beragamanya gak jelas, tapi toh dia dianggap sebagai pemimpin umat. Ini berkat jasa tukang stempel.

Ketika Prabowo jadi Capres, stempel saja dengan hasil Ijtima Ulama. Kaum Monaslimin langsung manggut-manggut. Prabowo gak bisa ngaji. Gak masalah. Prabowo gak Jumatan, gak perlu dipikirin. Prabowo salah mengucapkan gelar nabi, gak apa-apa. Bahkan demi Prabowo, orang rela mengubah tata cara ibadah sholat. Jemaah perempuan bercampur dengan lelaki. Posisinya sejajar.

“Gak masalah. Kalau kita sholat di Mekah saja, semua bercampur, kok,” kata pembelanya. Asyik. Karena membela Prabowo, GBK dan Monas bisa setara Makkah dan Madinah.

Kenapa gerombolan garis keras yang tujuannya mengganti dasar negara lebih suka berada di belakang Prabowo? Karena kalau Presidennya Jokowi mereka sudah pasti diperangi. HTI diberangus. UU Ormas mensasar gerombolan yang suka membuat keonaran. Ruang gerak mereka bakal menyempit.

Nah, hanya dengan mengganti Presiden saja mereka punya kesempatan untuk eksis lagi. Menancapkan kukunya semakin dalam di Indonesia. Sebelum nanti ujungnya mengibarkan bendera khilafah.

Bukan hanya dua kelompok itu yang mendukung Prabowo. Kaum LGBT juga baru kemarin deklarasi dukungan pada Prabowo-Sandi. Ingat juga. Lucinta Luna juga pendukung Prabowo garis keras, lho.

“Emang Lucinta Luna masih bisa keras, Mas?” celetuk Abu Kumkum.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.