Asaaro Lahagu

Tekanan kepada Prabowo untuk menang di Pilpres kian besar. Para pendukungnya terus menggenjot Prabowo agar melakukan segala cara untuk merebut kemenangan. Mereka terus membisikkan di telinga Prabowo bahwa hidup-matinya mereka di tangannya. Prabowo pun kembali ke watak aslinya.

Watak emosionalnya yang meletup-letup, grasa-grusu, bicara tanpa data, menggebrak podium dan melarang orang ketawa, bermunculan ke permukaan.

Sama seperti Ahok, Prabowo dengan berapi-api menampilkan diri sebagai pembela sampai mati kepentingan rakyat. Atas nama rakyat, Prabowo membolehkan dirinya memaki dan mengeluarkan kata-kata yang kotor.

Dalam satu kesempatan kampanye, Prabowo mengeluarkan kata ‘bajingan’ untuk menyerang para koruptor dan para elit di Jakarta yang menurutnya tidak membela kepentingan rakyat. Pada kesempatan lain, saat kampanye, Prabowo mengeluarkata kata jorok berbau seks. Prabowo mengatakan saat ini Ibu Pertiwi sedang diperkosa. Prabowo memakai frase kata ini untuk mengekspresikan apa yang memuncrat di pikirannya.

Beberapa hari yang lalu, emosional Prabowo semakin tak terkendali. Lagi-lagi atas nama rakyat, Prabowo marah. Ia menggebrak podium berkali-kali sampai mic pun ikut melonjak ngamuk. Para pendukung bukannya diam, tetapi ikut mendukung emosi Prabowo yang semakin menjadi-jadi itu. Alasannya, pidatonya berapi-api.

Lalu, apa yang membuat Prabowo semakin kasar dan beringas? Seperti yang sudah diungkapkan pada bagian awal tulisan ini, Prabowo saat ini sedang mendapat tekanan yang luar biasa. Apalagi tanda-tanda kekalahan semakin nyata, emosional Prabowo semakin tak terkendali.

Tekanan kepada Prabowo yang pertama datang dari keluarga Soeharto. Sejak tahun 1998, kue lezat kekuasaan, akses ekonomi, akses modal, bagi-bagi proyek di antara mereka semakin kering. Bahkan di Era Jokowi, segala kemanjaan itu hilang sama sekali. Untuk mengembalikan zaman keemasan itu, satu-satunya cara adalah dengan merebut kekuasaan.

Tekanan ke dua datang dari Ormas-ormas radikal. Selama ini Ormas-ormas radikal sebelum Era Jokowi, begitu manja karena mendapat dana-dana Bansos dari pemerintah yang korup. Lewat dana itu, organisasi mereka tetap eksis dan malah semakin besar.

Namun, di Era Jokowi dana-dana itu langsung dikeringkan. Mengamuklah mereka sejadi-jadinya menyerang Jokowi. Apalagi ada Ormas sudah dibubarkan tanpa ampun. Untuk membalas dendam kesumat, mereka ingin mencokel Jokowi lalu mengorbitkan Prabowo.

Tekanan ke tiga datang dari para penyandang dana, terutama dari Sandiaga Uno yang sudah menghabiskan triliunan rupiah duitnya untuk kampanye. Tentu saja para penyandang dana ini ingin dananya dikembalikan. Lalu, bagaimana caranya? Satu-satunya cara adalah hanya dengan perebutan kekuasaan.

Tekanan ke empat adalah tekanan dari Prabowo sendiri. Dikabarkan sebelumnya Prabowo mempunyai utang perusahaannya yang kini masih dicicil. Belum lagi beberapa perusahaannya tak berkembang dan kedap-kedip. Bagaimana cara membayar utang dan mengembangkan perusahaannya? Satu-satunya cara adalah dengan menjadi Presiden.

Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah meraih kursi Presiden. Dan, yang paling ngotot merebut kekuasaan adalah orang-orang di belakang Prabowo. Merekapun menekan dan menggenjot hingga batas terakhir kemampuan merebut kursi Presiden.

Mereka mengiyakan Prabowo semakin kasar, emosional dan kalap untuk menyerang lawan-lawannya. Anehnya, tanpa mereka sedari, serangan yang dilakukan kepada Jokowi, kembali kepada Prabowo. Jika mereka mengatakan Jokowi diragukan keislamannya, sebetulnya Prabowolah yang demikian. Demikian juga Prabowo. Apa yang ia katakan kembali kepada dirinya sendiri.

Jika Prabowo melempar pernyataan tanah di Indonesia dikuasai oleh segelintir orang, maka hal itu sangat benar. Prabowo sendiri menguasai ratusan ribu hektar tanah. Jika ia memaki-maki elit politik yang tidak memperhatikan kepentingan rakyat, Prabowo sendirilah yang seperti itu. Ia membiarkan nasib mantan karyawannya terombang-ambing.

Jika Prabowo mengatakan orang lain ‘bajingan’ maka sebetulnya ia sendiri yang seperti itu. Pada tahun 1998, Prabowo memerintahkan pasukannya menculik dan membunuh para aktivis. Nasib mereka kini tak jelas. Perbuatan menculik dan membunuh adalah perbuatan yang lebih bajingan.

Jika Prabowo mengatakan Ibu Pertiwi sedang diperkosa, maka jawaban Luhut Panjaitan “dia yang memperkosanya” tepat. Prabowo ikut memperkosa Ibu Pertiwi ketika tanpa konfirmasi kepada aparat, ia menyebarkan hoax Ratna dengan melakukan konferensi pers. Ia mengobarkan hoax di tengah rakyat.

Menjelang 17 April, Prabowo terlihat semakin kalap. Tanpa malu, ia beralibi ia bisa menang lawan Jokowi di atas 25%. Target itu harus tinggi karena belasan persen suaranya akan dicuri. Tanpa malu juga Kubu Prabowo memenangkan diri mereka lewat survei pesanan. Bahkan lewat survei internal yang tak jelas, Kubu Prabowo memenangkan mereka di atas 60%.

Jelas para pendukung Prabowo tanpa sadar telah menjerumuskan Prabowo bersikap kasar dengan melontarkan kata-kata bajingan, diperkosa disertai dengan penggebrakan podium. Para pendukung Prabowo tanpa sadar telah meng-Ahok-an Prabowo yang kalah di Pilkada 2017 lalu.

The new Prabowo kini hanya lipstick yang gagal menarik perhatian publik. Justru yang muncul adalah The rude Prabowo. Begitulah kura-kura.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.