Syahdan, di sebuah desa di pucuk gunung tempat Yu Waginem dan Kang Paidi berada. Tinggallah seorang remaja tanggung yang sangat nakal, tengil, dan suka usil terhadap warga sekitar. Nama remaja itu adalah Bowo. Hobinya membuat keributan dan kebohongan saja. Suatu ketika, Bowo bermain-main ke dalam hutan dan, lantas, dia mendapat ide untuk mengerjai warga sekitar dengan drama yang akan dibuatnya.

Drama pun dimulai. Bowo keluar dari dalam hutan menuju pemukiman warga sambil berteriak: “Tolong ….. tolong …… saya dikejar harimau. Tolong …. tolooong …..”

Gegerlah warga sekitar. Mereka pun berkumpulah untuk mencari seekor harimau yang diceritakan oleh Si Bowo tadi. Setelah warga berkumpul, Si Bowo dengan entengnya berkata sambil tertawa: “Ya, aku berhasil membohongi kalian semua. Huaa ….. haa …. haa….”

Walhasil warga pun kembali lagi ke rumahnya masing-masing sambil menggerutu hatinya.

Satu minggu kemudian, Si Bowo pun membuat cerita kebohongan yang sama, dikejar lagi oleh seekor harimau. Seperti biasa, warga pun berkumpul kembali untuk menangkap si harimau. Namun, lagi-lagi Si Bowo menertawakan mereka karena mempercayai cerita bohongnya.

“Kalian kukerjai lagi. Emang enak dibohongi?” kata Si Bowo sambil tertawa puas.

Satu bulan kemudian, Si Bowo kembali berteriak-teriak di pemukiman warga dengan sangat kencang: “Toloongg …. toolooong …. saya sedang dikejar harimau. Toloonggg …..”

Anehnya, kali ini tidak ada satupun warga yang keluar rumah untuk menolongnya, karena mereka tidak mau dibohongi lagi untuk yang ke tiga kalinya. Keesokan harinya, warga sekitar dikagetkan dengan penemuan jenazah yang tubuhnya robek dan penuh dengan cakaran. Ternyata jenazah itu adalah Si Bowo yang kemarin sore berteriak minta tolong.

Kesimpulanya adalah: “Kebohongan yang sering disebar tidak akan merugikan orang lain, namun kebohongan tersebut akan memakan penyebarnya sendiri”

Kemarin, gerombolan Monaslimin mengklaim telah memukan adanya “kecurangan” yakni, surat suara yang tercoblos di Malaysia. Namun, sengotot-ngototnya mereka meyakinkan masyarakat, maka semua itu tiada akan pernah ada artinya. Karena rekam jejak mereka sama seperti Si Bowo, yang sering melempar kebohongan di masyarakat, yang ternyata adalah ulah dari mereka sendiri.

Seperti Oplas Ratna Sarumpaet yang diklaim hasil tindakan penganiyaan, dan hoax 7 kontainer yang saat ini terdakwanya sudah berada di dalam penjara. So, mau benar ataupun salah, stempel pembohong untuk gerombolan Kamvret Monaslimin tiada akan pernah bisa terhapus jejak nya.

Ahsudalah.

“Bohong bohong apa yang disukai banyak orang, Pakne?”

“Bohong kok disenengi orang toh, Bune? Emang bohong apa, lho?”

“Ada Pakne, jawabe keripik bohong.”

“Weladalah, iku keripik pohong Bune, ayo combantrine diombe dulu?”

Salam Jemblem..

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.