Muhammad Nurdin

Kemarin. Saya menelpon sekretaris RT. Menanyakan soal C6 yang tak kunjung datang. Kebetulan si ibu yang membantu mengurus KTP saya. Katanya. Nama saya dan istri tidak tercantum dalam DPT. Padahal, KTP istri saya sudah keluar. Dan KTP saya ada sedikit masalah sehingga hingga kini belum terbit.

Tapi, si ibu meyakinkan, gak apa-apa datang aja, cuma masuk ke daftar pemilih khusus jam 12.

Saya masih belum yakin nama kami belum ada. Hari ini, pagi-pagi saya cek ke TPS, ternyata benar, nama kami berdua tidak ada. Cukup mengelus dada. Tapi, ya mau gimana lagi. Ikut aturan yang ada saja. Jadi harus mendaftar pemilih khusus.

Ternyata, masalah tak berhenti disitu. KTP istri tertinggal di kampungnya. Dan identitas yang saya miliki hanya Surat Rekam E-KTP. Jam 11 saya datang lebih awal. Siapa tahu bisa daftar lebih awal. Saya terangkan segala sesuatunya. Mulai dari kami yang tidak terdaftar, sampai KTP istri yang tertinggal.

Saya membawa KK sebagai identitas lain, sebab, memang dalam Peraturan KPU boleh membawa identitas lain untuk mengonfirmasi kependudukan setiap warga negara. Sayangnya, perwakilan Panwaslu menolak KK. Ia beralasan dari juklak yang diterima, hanya memperbolehkan E-KTP atau Surat Keterangan.

Cukup lama berbantahannya. Dan saya kira ini sangat tidak esensial, sebab identitas faktual hanya sarana, yang paling penting seorang warga memang berada di lingkungan tersebut. Tapi saya memilih untuk mengalah. Dan meminta alternatif lain agar kami bisa tetap memilih.

Akhirnya, Kepala TPS memberikan alternatif. Yaitu, KTP yang tertinggal difoto, kirim via WhatsApp lalu print dan copy. Di kampung, hanya keponakan yang pegang HP. Alhamdulillah, sedang online juga. Disuruhlah ia mencari KTP, lalu memfotonya.

Hasil jepretannya bikin gregetan. Dicoba terus dapatlah hasil terbaik. Masih tetap miring tapi lebih kebaca. Jam 12 tepat. Kami dengan dua bayi menembus pekatnya panas Tanjung Priok, menuju TPS.

Dalam hati saya merenung, di Belanda beberapa waktu lalu. Ada seorang WNI yang menceritakan kisah tak mudahnya memilih disana. Mulai dari penyelenggara yang tidak siap menghadapi kumpulan orang, hingga harus mengantri berjam-jam. Lalu, cuaca ekstrim yang harus mereka lalui.

Tiba di TPS, kami kira akan baik-baik saja. Saya sudah menyiapkan Suket dan foto KTP istri. Ternyata, masalah baru muncul. Istri saya lolos seleksi. Ia kelihatan sumringah saat mencoblos, meski diganggu sama si bungsu yang kelihatan tak nyaman.

Dan… Suket saya tidak diterima. Karena sudah terlampau lama, ya, sejak 2017. Perwakilan Panwaslu menolak bukti identitas saya. Rekomendasi ini membuat pihak KPPS galau, begitu juga saya.

Saya tak mau banyak berdebat. Saya hanya memohon kebijaksanaan penyelenggara lokal. Sebab, bagi saya ini sangat tidak esensial dengan semangat demokrasi kita.

Pihak Panwaslu lokal terlihat menelpon seseorang. Ia melaporkan kasus ini. Kesimpulannya, Suket saya ditolak. Pihak KPPS juga menelpon, mencari apakah ini adalah akhir dari segalanya? Saya hanya bisa berdoa, agar tidak luput dari pesta demokrasi ini.

Telpon ditutup. Saya dipanggil. Suket saya tetap ditolak. Tapi saya disarankan untuk ke Kelurahan.

Kelurahan? Ngapain kesana. Tidak jelas apa yang harus ditempuh disana. Dan… Setengah jam lagi TPS ditutup. Kami bergegas ke kelurahan. Menembus terik matahari ini makin mencubit kulit. Dan para “krucil” sudah mulai rewel karena lapar.

Please…. Nak… Ayah gak boleh pulang dengan jari tetap bersih.

Sampai di kelurahan. Seorang pria berpakaian non-formal, langsung menyuruh ke lantai 3. Seolah ia tahu, setiap warga yang datang masalahnya cuma satu. Saya pun setengah berlari. Sampai di lantai 3 ngos-ngosan. Menunggu seorang pria yang tengah memperjuangkan suaranya, karena ia sedang dalam dinas luar daerah.

Ia pun selesai. Wajahnya terlihat sumringah. Sepertinya, jarinya akan ternoda juga, seperti kebanyakan orang. Saya langsung menyerahkan Suket yang ditolak. Si ibu yang sepertinya sudah kelelahan menerima banyak aduan dari warga, langsung membubuhi stempel plus tanda tangannya, yang kini lebih berharga dari tanda tangan Messi sekalipun.

Tertulis dengan font yang tak beda dari resep dokter, tapi terlihat begitu indah, layaknya kaligrafi: “terdaftar DPK, jika surat suara masih ada”

Syukurku tak henti-hentinya kepada-Nya. Nyaris sekali, suara yang 5 tahun sekali ini menguap bersamaan uap panas di Pesisir Jakarta. Hanya beberapa menit lagi menjelang akhir pemilihan. Saya menjadi yang terakhir, yang mencoblos dengan adrenalin yang masih bergelora.

Tangan bergetar saat memegang paku. Betapa tenangnya, saat memandangi sesosok pria kecil mungil, tengah tersenyum dengan sangat bersahajanya. Kutusukkan paku di daerah yang takkan mengurangi apapun. Hingga kusadari, betapa harus berjuangnya untuk memilih seorang pemimpin.

Advertisements

1 COMMENT

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.