Eko Kuntadhi

Beredar pesan WA yang berisi menakut-nakuti orang agar tidak menulis soal Prabowo. Beredar juga video di Makasar, FPI mendatangi karyawan hotel yang mengunggah status soal Prabowo. Pesan WA yang beredar lebih seru. Katanya, pesan dari intelejen. Entah intelejen daerah mana. Mungkin infelejen dari Negara Kertanegara yang ibukotanya Hambalang.

Bagi saya, pesan WA seperti itu strategi nakut-nakutin aja agar rakyat tidak berkomentar terhadap ulah Prabowo dan timnya yang mengumumkan kemenangannya sendiri.

Sementara di sisi lain, teriak kecurangan KPU. Pada kali lain meminta Pemilu ulang. Bagi orang normal, prilaku seperti ini mendekati degil. Pemilu ada aturannya. Hitung cepat ada metodenya. Mana bisa teriak-teriak sendiri, mengklaim kemenangan sendiri, lalu mengancam rakyat yang mempertanyakan klaim kemenangan itu. Kemudian mempersekusinya.

Untuk memperkuat penyebaran ketakutan, dicarilah orang yang paling lemah. Lalu FPI mendatanginya. Biasanya korbannya adalah warga Tionghoa. Itulah yang dilakukan FPI di Makasar.

Pertanyaannya, emang Prabowo itu siapa? Kok segitu mengerikannya gak boleh dikritik? Presiden bukan. Pejabat negara juga bukan. Pensiunan tentara juga gak normal. Hasil pecatan. Lalu kenapa rakyat tidak boleh bereaksi atas ulahnya?

Membangun kehormatan itu dengan perilaku. Dengan akhlak dan sikap. Kalau Prabowo mau dihormati dia juga perlu belajar cara menghormati orang lain. Hormati sistem. Dengan itulah orang menilai. Dan menaruh respect.

Jika Prabowo dan timnya terus melecehkan sistem Pemilu dengan teriak-teriak curang, tapi gak ada bukti yang disampaikan. Jika Prabowo terus mengklaim kemenangan tanpa hitungan suara jelas. Jika mereka gak mau menyelesaikan persoalan hukum Pemilu secara beradab lewat jalur yang sudah disiapkan –ada Bawaslu, polisi sampai MK. Wajar saja kalau rakyat menertawakannya.

Masa dia tampil seperti komedian kita gak boleh tertawa? Masa dia bertindak ngawur kita gak boleh protes? Emang negeri ini punya mertuanya? Wong dia juga sudah gak punya mertua sekarang.

Konsekuensi jadi publik figure harus siap ditelanjangi. Konseksuensi jadi publik figure yang ngaco, harus siap ditertawakan. Gak usah Baper. Semua orang boleh saja menyampaikan opininya soal perilaku Prabowo. Toh, perilaku seperti itu diumbar ke publik. Asal jangan fitnah. Asal jangan merendahkan.

“Tapi, kalau sekadar menertawakan, gak dosa kan, mas?” tanya Abu Kumkum.

Boleh, Kum. Masa FPI mau mempesekusi orang yang ketawa…

“Soalnya, kalau pagi saya sering menertawakan Mr. P, mas. Dia suka bergerak-gerak sendiri…”

Hussshhh!

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.