Kita sejak lama memahami apa yang terjadi dalam dunia politik tidak ada yang kebetulan. Semua yang kita saksikan sebenarnya sudah didesain sedemikian rupa. Banyak sekali contoh yang bisa kita ajukan untuk menguji teori desain ini.

Misalkan desain soal politik identitas.

Mereka yang sejalur dalam iman biasanya tidak rela dipimpin oleh mereka yang imannya berbeda. Ini terjadi pada warga Jakarta walaupun mereka sebenarnya paham yang mereka dukung kualitasnya jauh lebih rendah dari kandidat yang imannya berbeda tapi kerjanya sudah terbukti beres.

Pada konteks ini politik identitas berdasarkan desain keimanan telah melahirkan petaka bagi mereka sendiri. Pada titik ini saya jadi ingat petuahnya Plato: “The penalty good men pay for not being interested in politics is to be governed by men worse than themselves.

Ternyata, jika berpikir terbuka, kita bisa menentukan siapa saja yang akan menjadi pemimpin dengan memilih mereka bukan berdasarkan politik identitas macam iman yang sama, tapi memilih pemimpin berdasarkan kapasitas Intelektual dan tentu saja track recordnya yang beres.

Saya sendiri tetap melihat Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di Kawasan Asia bisa melahirkan pemimpin yang bisa bekerja dengan beres. Karena kecintaannya pada bangsanya. Bukan sekedar urusan keimanan yang jelas sekali sangat subjektif personal.

Terlalu egois saya kira jika Indonesia rusak hanya karena urusan politik indentitas. Sementara kita sama-sama sadar bangsa bangsa Indonesia sangat beragam. Keragaman itu sifatnya given by nature, bukan kaleng-kaleng rombeng yang bunyinya nyaring tapi kosong.

Advertisements

1 COMMENT

  1. Desain politik yang paling besar pengaruhnya, membagi dunia dan bikin perang ialah hoax komunisme. Desain ini sudah 170 tahun umurnya dan masih belum bisa lenyap sepenuhnya. Di Indonesia bikin 3 juta korban jiwa, di Kambodja, Vietnam dan Laos lebih banyak lagi korbannya. Semua dalam desain komunisme kontra ‘demokrasi’, atau kapitalisme di New York kontra komunisme di Moscow. Desain ini diprakarsai oleh NWO bankir rentenir internaional dimulai sejak Manifesto Partai Komunis Marx 1848 dimana bankir Rothschild menyewa Marx ngarang marxisme/komunisme atau hoax besar itu.

    Sekarang komunisme sudah ‘tidak laku’, digantikan dengan mendesain radikalisme/extrimisme pakai agama yang mungkin didesain atau ditipu, dan efektif imbasnya. Dalam prakteknya jadi politik ‘identitas’. Semua bentuk baru ini dipakai sebagai pengganti komunisme. Di Eropah masih laku pakai ‘sosialisme’ dengan partai-partai sosialis atau partai buruh, yang semuanya dalam rangka perjalanan menuju kebangkrutannya dikalahkan oleh aliran baru sejarah dunia yaitu The revival of nationalism.

    Di Eropah dimulai oleh Brexit, di AS dibawah pimpinan Trump. “I am a nationalist, remember that” kata Trump, dalam rangka mengingatkan, karena selama ini orang-orang sungkan menyebut istilah nationalis atau nasionalisme karena ditakut-takuti oleh political correctness NWO. Sekarang berangsur-angsur dipakai istilah nasionalis menyisihkan istilah populis atau populis kanan yang dipakai pada mulanya gerakan nasionalis Eropah maupun AS Trump.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.