Malam itu [Jumat 26/4], sempat mampir di Posko penghitungan suara Jokowi-Amin. Bersama Abu Kumkum yang malam itu tumben ngintilin saya terus. Di sana, saya bertemu dengan anak-anak muda usia mahasiswa duduk berjejer menginput data dari formulir C1. Formulir dikirim dari para saksi di setiap TPS.

Mereka sudah lebih dari 9 hari siang malam bekerja.

Dari 800 ribu lebih foto formulir C1 yang dikirim ke server, mereka menginputnya satu-satu. Menulis angka-angka dengan teliti. Memasukkan data nomor TPS, Kecamatan, Kelurahan, Kabupaten. Lalu diproses dengan sistem.

Dan, jreng! Keluarlah angka tabulasi.

Saban hari ada 100 orang shift pagi. 100 lagi shitf malam. Mereka bekerja sambil ledek-ledekan. Becanda dengan teman-temannya. Santai. Bolak-balik ngopi dan ngemil.

“Gue makin gendut, nih. Ngemil mulu,” seorang cewek saya dengar ngobrol dengan temannya.

“Bukan gendut. Tapi tambah bohay… Hahahahha,” temannya nyeletuk.

“Asal timbangan lu jangan sampai seberat Fadli Dzon aja,” cowok di depannya menimpali. Semua ngakak.

Asyiknya, ada 4 orang ahli pijat yang disediakan. Buat membantu para mahasiswa-mahasiswi itu merenggangkan badannya. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, saya lihat Abu Kumkum sudah duduk pinta dipijet.

“Tolong kang, kemarin hidung saya keseleo,” keluhnya.

“Keseleo kenapa?”

“Salah nyium orang, kang. Terus saya ditabok.”

Begitulah suasananya. Anak-anak muda yang berdedikasi penuh keceriaan.

Saya juga ikut nimbrung dalam keceriaan mereka. Apalagi setelah melihat angka di layar besar: Jokowi-Amin 57,23%. Prabowo-Sandi 42,77%. Total TPS yang sudah diinput mencapai 40% dari 800 ribu formulir C1 yang dihimpun.

Kata Abu Kumkum, kalau Prabowo masih teriak-teriak menang Pilpres, dia berniat mau ngajak ke sini. Bukan untuk melihat bagaimana tabulasi suara dilakukan dengan serius. Tapi untuk ikut dipijat.

“Prabowo lidahnya keseleo terus, mas…”

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.