Kolom Eko Kuntadhi: MK HANYALAH MENUNDA KEKALAHAN (Sirulo TV)

0
304

“Hidup hanyalah menunda kekalahan,” tulis Chairil Anwar.

Kita tahu, penyair itu tidak sedang menyindir siapa-siapa. Sebab ketika puisi itu dibuat, Prabowo belum mengajukan gugatan ke MK. Tapi, benar kata Chairil, sesungguhnya kehidupan hanya melompat dari kekalahan yang satu ke kekalahan yang lain. Betapapun kita keras melawannya.

Ratna Sarumpaet berusaha melawan kekalahan usia.

Ia mereparasi wajahnya. Tapi sehebat apapun dokter kecantikan, mereka toh, tidak ada yang sanggup menghentikan jarum jam. Usia adalah usia. Penampilan lain lagi.

Karena itu, nasihat yang baik hari-hari belakangan ini adalah tentang kesiapan orang menerima kekalahan. Sebab, seperti kata Chairil, itulah sesungguhnya kehidupan.

Bagaimana jika ada orang yang tidak siap kalah? Sesungguhnya ia sedang merusak kehidupan.

Saya tidak ingin bicara memgenai Pilpres. Dalam pertandingan ada menang ada kalah. Itu biasa. Jokowi memenangkan Pilpres, itu lumrah. Prabowo kalah lagi, itu sudah suratan. Begitulah kehidupan berjalan.

Kadang suara untuk Jokowi berada di atas. Kadang suara buat Prabowo posisinya di bawah. Begitulah roda kehidupan.

Bagi Prabowo sekarang, tinggal lagi bagaimana kekalahan itu bisa ditunda. Gunanya agar suasana pura-pura menang bisa sedikit diperpanjang. Buat apa sujud syukur, jika suasana pura-pura menang itu cuma sebentar.

Kita gak perlu memberi tahu Prabowo bahwa sesungguhnya dia kalah Pilpres. Itu sangat menyakitkan buatnya. Saat ini ia sedang ada dalam suasana bathin yang galau.

Orang di sekelilingnya meyakinkan Prabowo bahwa dia menang dengan angka 62%, eh, 52% ding. Eh bukan, 54%. Dia bertanya, kalau memang menang, kenapa suasananya begini?

Gak ada satupun pemimpin dunia yang memberi selamat padanya. Gak ada satupun media asing yang mengulas kemenangannya. Semua malah sebaliknya.

Hanya Rizieq saja orang dari luar negeri yang mengucapkan selamat kepada Prabowo via telepon. Itupun, kita gak tahu, apakah setelah menutup telepon Rizieq akan senyum-senyum sendiri. “Ya, alamat gue melantik pemimpin KW lagi, nih, kayak di Jakarta dulu.”

Rizieq terbayang wajah Fahrurozi yang dulu jadi Gubernur KW versi FPI. Mesti duduk sebagai Gubernur, Fahrurozi kabarnya sering menunggak iuran RT.

Kembali ke Prabowo. “Anda semestinya menang, kalau gak dicurangi,” bisik orang di sekelikingnya.

“Ah, masa. Mana buktinya?”

“Coba buka link berita di media. Itu menandakan Bapak adalah pemenang.”

“Apa saya bisa dilantik jadi Presiden hanya bermodal link berita?”

“Bisa. Kita akan bawa link berita itu ke MK. Lalu meminta bapak diangkat jadi Presiden. Kalau mereka gak percaya sama link berita, mau percaya sama siapa lagi?”

Tapi orang-orang di luar Kertanegara punya prinsip berbeda. Bagi mereka seseorang bisa dilantik jadi Presiden jika dalam Pilpres mendapat suara terbanyak. Bukan karena namanya masuk ke berita online.

Jika ukurannya hanya berita online, Lucinta Luna lebih sering diulas infotainment.

Tapi ada segerombolan orang yang meyakini Tuhan berpihak kepada mereka. Kalau Tuhan sudah berpihak, gak mungkin kalah. Wong, Tuhan. Dia maha segalanya. Bisa berbuat apa saja.

Apa tanda-tanda Tuhan berpihak pada mereka? Adanya Neno di kubu mereka.

Kata Neno, membela Prabowo di jalanan adalah perintah Tuhan. Sebagai pengejawantahan ayat-ayat Tuhan. Dan kita tahu, Neno adalah mahluk Tuhan, yang terlebay, yang pernah ada. Uh, uh, uh… Argh, argh…

Jadi bagaimana prediksi hasil sidang MK nanti?

“Seperti kata Chairil Anwar, mas,” jawab Abu Kumkum. “Hanyalah menunda kekalahan…”

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.