SEMANGAT HIDUP — Kukelilingi kebun yang Sudah dan Masih Harus Dibersihkan

Angin bertiup. Sepintas, sepertinya kudengar ada yang gemerisik: "Merdekaaaa!"

0
264

Oleh: Frieda Amran

Pk 12.24. Cuaca hari ini di dusunku di Belanda mengalahkan panasnya cuaca di Tanah Air tercinta. Rasanya begitu. 31 derajat Celcius. Beberapa hari lagi, merkuri di termometer akan naik lagi, menjadi 35 derajat Celcius. Bukan main! Aku masih saja berkutat dengan kebun serta bambu dan gulma. Gulma?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, “gulma /gul·ma/ n tumbuhan yang termasuk bangsa rumput yang merupakan pengganggu bagi kehidupan tanaman utama; tumbuhan pengganggu” — Catat! “bangsa rumput”(!!).

Astaga. Gulma di kebunku bukan rumput lagi! Barangkali namanya pun sudah berganti. Entah apa namanya tanaman penganggu kehidupan tanaman lain–yang bukan rumput?!!

Kurasa kebunku sudah menjadi bagian dari setting film model Jurrasic Park dengan tanaman-tanaman liar menakutkan, yang duri-durinya sebesar tusuk gigi dan batangnya berdiameter 2 cm (padahal aslinya hanya 1 mm!). Tanaman-tanaman merambat–nama latinnya Rubus Fruticosis–itu menjulur-julur sampai sepanjang 3-4 meter! Ujung-ujung sulurnya melingkari betisku dan duri-durinya merangkak mencari sudut-sudut di belakang lutut (yang dagingnya empuk dan mudah ditusuk) untuk menghunjamkan diri.

Sungguh, aku tidak terbiasa mencacimaki, Dulu, ketika kecil, Ibu mengancam akan mencuci mulutku dengan sabun kalau sampai terucap kata-kata kotor. Sampai sekarang, aku hampir tak pernah mencacimaki atau mengumpat kalau sedang marah; tetapi, sungguh, menghadapi gulma-gulma raksasa yang kejam itu, kepalaku penuh dengan sumpah serapah. Aku sampai heran sendiri: kok kosa kata sumpah serapah di kepalaku kaya sekali?

Sebetulnya, dengan bermodal sekop, gunting pemangkas besar dan kecil, sarung tangan tebal, gergaji kecil, aku agak-agak merasa seperti Indiana Jones atau penjelajah di ekspedisi Sumatera Tengah beberapa abad lalu. Keringat menetes-netes dan darah mengucur dari luka-luka tertusuk duri dan onak di rimbaku. Ah .. ‘luka-luka’ (“gores kecil,” kata Misoa) dan ‘mengucur’ (“Mana dia darahnya??” kata Kekasihku yang sepertinya makin rabun).

Sembari membabat gulma raksasa, kupikir aku sebetulnya bukan hanya penjelajah, melainkan juga semacam pahlawan kehidupan yang penuh semangat juang! Gulma-gulma raksasa itu adalah musuh yang harus kutumpas! Matilah ia, gulma-gulma itu. Tuntas punah dari muka bumi kebunku!

Aku tiba-tiba serasa ingin berteriak: “Merdekaaaaa!” … tapi ah, cuaca terlalu panas untuk berteriak-teriak lebay.

Istirahat dulu.

Sebelum mulai bercerita di sini, kukelilingi dulu bagian-bagian kebun yang sudah dan masih harus dibersihkan. Pohon plum yang mati sudah harus ditebang. Di batangnya yang agak kelabu, tampak bulatan-bulatan berwarna coklat. Ukurannya kira-kira sebesar jengkol. Apa tuh?

Jamur! Ternyata batang pohon yang sudah mati itu menjadi lahan tumbuhnya jamur! Mati ternyata bukanlah akhir cerita! Mati itu menjadi awal kehidupan baru!

Belum habis heranku, aku terpana lagi di bawah pohon plumeria yang baru saja dipangkas rapi minggu lalu. Pucuk-pucuk daun muda menyeruak di bekas pangkasan di batangnya!

Barangkali seharusnya aku putus asa. Bayangkan! Belum selesai perjuanganku membersihkan kebun sebelah kanan, jamur dan daun-daun baru sudah muncul lagi di kebun sebelah kiri yang baruuuuuu saja dibersihkan. Aku yang merasa menjadi penjelajah dan pahlawan pemberantas gulma raksasa ternyata menghadapi kekuatan yang jauh lebih hebat.

Alam. Superpower. Semangat hidup gulma dan tanaman liar.

Kalau Kekasihku terpikir untuk merayu dan membisikkan bahwa aku merupakan mawar merah atau bunga cantik di taman hatinya, aku akan menolak mentah-mentah. Aku tak ingin menjadi bunga yang sekedar cantik. Aku adalah gulma, yang tak pernah patah semangat. Tak punah terbabat pedang-pedang tukang kebun. Tak peduli pada aturan-aturan dan pola yang pengatur taman.

Angin bertiup. Sepintas, sepertinya kudengar ada yang gemerisik: “Merdekaaaa!” — kurasa gulma-gulma itu yang berteriak demikian.

Tetapi, aku berniat menjadi gulma, superpower juga di kebunku. Gulma memang harus dilawan dengan gulma juga!

Perjuangan ini masih panjang, Saudara-saudara!

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.