Analisis Harga: MENGAPA HARGA ARCIS BISA MENDADAK MELAMBUNG?

0 0
Read Time:3 Minute, 55 Second

Oleh ELISABETH BARUS (Medan)

Lebih dua minggu lalu [Senin 6/12], harga arcis mendadak melambung dari harga Rp. 20 ribu/ kg ke Rp. 35 ribu/ kg. Kenaikan mendadak harga arcis mengejutkan redaksi sehingga Bang Juara R. Ginting meminta saya membuat tulisan singkat mengenai kenaikan harga arcis saat itu. Terkait dengan kesibukan peliputan harga sayur dan urusan-urusan lainnya, baru kali ini tulisan itu saya rampungkan.

Keterkejutan redaksi atas melambungnya harga arcis lebih dua minggu lalu adalah karena, selama ini, sepanjang tahun 2021 ini, harga arcis selalu datar pada harga Rp. 20 ribu/ kg.

Dalam pemberitaan mendadaknya harga arcis melambung pada tanggal 6 Desember 2021 itu, saya sudah menjelaskan “karena curah hujan tinggi, tanaman arcis dan poileng banyak yang gagal panen karena busuk di lahan.”

Selanjutnya saya menulis “naiknya harga kedua jenis sayuran ini adalah akibat sedikitnya pasokan barangnya ke Pasar Induk Lau Cih (Medan).”

RAWIT HALUS, JENGKI, CAPLAK, PREI, POILENG DAN ARCIS MELAMBUNG — Cabe Merah dan Hijau serta Kol NAIK

Bang Juara merasa belum cukup penjelasan singkat itu karena, katanya, curah hujan sangat tinggi sudah beberapa kali terjadi sepanjang tahun ini tapi harga arcis tidak mendadak melambung seperti saat ini.

“Saya menduga ada hal-hal lain yang perlu kita perhitungkan untuk memahami kenaikan mendadak melambung harga arcis ini,” katanya.

Maka uraian berikut ini adalah dalam rangka memenuhi permintaan Bang Juara yang kemungkinan besar para pembaca juga tertarik mengikutinya.

* * * *

Arcis merupakan satu jenis sayuran yang cukup mahal harganya di pasaran. Pengkonsumsiannya terbatas dan produksinya tidak dilakukan secara besar-besaran bila dibandingkan dengan cabe merah, tomat dan apalagi kol (kubis).

Masing-masing petani menanamnya hanya dalam jumlah ala kadarnya saja. Itupun tidak banyak petani yang menanam arcis.

Di pasar-pasar besar seperti Pasar Roga Berastagi (Dataran Tinggi Karo) dan Pasar Induk Lau Cih (Medan) (Karo Hilir), arcis digolongkan sebagai salah satu diantara beberapa sayuran yang disebut capcai.

Memang arcis sering dipakai juga sebagai bahan capcai, tapi istilah capcai dalam hal ini maksudnya berbagai jenis sayuran yang bisa jadi dijual oleh seorang petani yang sama tapi dalam jumlah sedikit-sedikit.

Di Sumut, arcis hanya ditanam di Karo Julu dan itupun hanya di sekitar Berastagi dan Kabanjahe. Belum pernah terlihat ada kebun arcis seseorang yang luas sehingga produksinya pun kecil-kecilan.

Mungkin juga karena harganya yang lumayan mahal dibandingkan dengan jenis-jenis sayuran lain, arcis kebanyakan dikonsumsi oleh kalangan Tionghoa di Medan sebagai bahan capcai, mie kuah, dan berbagai jenis tumisan. Ini untuk mengatakan bahwa pembelian arcis juga sedikit.

Ini adalah berbagai jenis sayuran lain yang di pasar-pasar besar digolongkan sebagai sayuran capcai: Poileng, jenis jenis selada, asparagus, berbagai jenis labu-labuan (selain labu kuning dan kundur). Daun sop (seledri dan dan daun bawang besar (prei) ikut juga disebut sayuran capcay.

Terlepas dari semua itu, arcis memiliki daya tahan yang rendah. Daya tahannya yang rendah ini sangat mempengaruhi cepatnya penurunan kualitas artis yang sudah dipanen. Curah hujan yang tinggi juga sangat mempengaruhi jumlah hasil panen karena tanaman arcis di lahan gampang busuk.

Singkatnya, curah hujan yang tinggi memiliki korelasi langsung maupun tidak langsung menyebabkan kenaikan harga arcis. Akan tetapi, inilah uniknya pasar, melambungnya harga arcis terutama adalah disebabkan adanya sekelompok kecil konsumen yang tetap akan membeli arcis walaupun seberapapun harganya dibuat oleh pedagang di Pasar Induk Lau Cih (Medan).

Persediaan barangnya memang tidak pernah banyak tapi tetap ada pembelinya yang rutin akan membeli arcis di pasar. Sekelompok kecil orang-orang tertentu akan tetap membeli arcis di pasar walaupun para pedagang menawarkan harga tinggi karena mereka memang sudah harus membelinya.

Dapat kami tambahkan, pada tanggal 8 Desember 2021, harga arcis turun dari Rp. 35 ribu/ kg ke Rp. 30 ribu/ kg. Setelah dua hari berturut-turut berada di harga Rp. 30 ribu/ kg, pada tanggal 10 Desember 2021, arcis naik lagi ke angka Rp. 38 ribu/ kg.

Pada tanggal 13 Desember 2021, arcis semakin melambung ke angka Rp. 45 ribu/ kg.

Jumat 17 Desember 2021, turun dari harga Rp. 45 ribu/ kg ke Rp. 35 ribu/ kg. Sabtu 17 Desember 2021, turun lagi ke Rp. 30 ribu/ kg. Setelah dua hari berturut-turut dengan harga Rp. 30 ribu/ kg, Selasa 21 Desember 2021 harganya melonjak lagi ke Rp. 40 ribu/ kg.

Harga Rp. 40 ribu/ kg bertahan hingga pagi tadi [Rabu 22/12]. Bagaimana harganya esok Pagi? Nantikan laporan harga sayur dari Pasar Induk Lau Cih (Medan).

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: