Kolom Eko Kuntadhi: CEBONG-KAMPRET vs KADRUN!

0 0
Read Time:2 Minute, 34 Second

Tidak ada jabatan yang pantas diperjuangkan dengan menumpahkan darah. Kata Gus Dur, saat ia, dengan santai melenggang turun dari kursi Presiden RI. Gus Dur menahan pendukungnya yang mau masuk Jakarta. Di kali lain, Gus Dur berkisah. Jika persoalannya menyangkut masa depan bangsa. Menyangkut masa depan negeri ini. “Nyawapun akan saya berikan,” ujarnya tegas.

Gus Dur adalah orang yang bisa membedakan. Mana berjuang untuk posisi politik. Mana berjuang untuk bangsa.

Saat berpolitik, kontestasi itu biasa. Perbedaan dalam merebut suara adalah lumrah dalam demokrasi. Karena hanya sekedar kontestasi politik yang ujungnya adalah jabatan. Maka perlakukan saja seperti permainan. Jangan diambil hati. Apalagi sampai harus dipertahankan dengan darah.

Kontestasi politik bukan pertarungan ideologis. Seperti pertandingan olahraga, menang kalah itu biasa. Tapi jika menyangkut bangsa. Menyangkut negara. Itu yang harus diperjuangkan secara ideologis. Bukan lagi sekadar kekuasaan politik. Nyawapun jadi taruhannya.

Maka ketika Jokowi memasukkan Prabowo-Sandi dalam kabinetnya sekarang. Kita biasa saja. Di mata Jokowi, sama seperti Gus Dur. Kontestasi politik hanya cara. Bukan sesuatu yang mati-matian.

Pilpres hanyalah tradisi lima tahunan di Indonesia. Kita juga gak perlu misuh-misuh. Persaingan Jokowi vs Prabowo, meski keras, tetap bisa dibaca dalam bingkai pertandingan olahraga. Kalah menang santai saja. Yang menang girang dapat piala. Yang kalah dapat sertifikat, setidaknya tetap juara ke dua.

Jadi, di Pilpres kemarin, Prabowo-Sandi gak kalah. Mereka cuma juara ke dua saja. Kemenangan dalam politik bisa saja tidak zero sum. Maksudnya, jika satu kelompok menang, yang lain harus musnah.

Akan berbeda jika pertarungannya berbentuk zero sum. Ini yang pantas kita pertahankan dengan darah. Sebab, jika mereka menang, kita musnah. Bayangkan jika gerombolan khilafah menguasai secara politik. Anda semua yang menentangnya akan dianggap lawan. Bagi mereka lawan layak dimusnahkan. Dibunuh. Atau halal darahnya.

Jadi, bertarung dengan kelompok-kelompok seperti ini amat pantas jika kita mengerahkan seluruh energi kita. Sebab jika mereka berkuasa, leher kita jadi taruhannya. Sudah banyak contoh negeri banjir darah ketika gerombolan seperti ini mulai menguasai. Tidak ada ruang rekonsiliasi. Siapa saja yang berbeda dianggap musuh. Layak dihancurkan.

Iya, kita tahu, saat Pilpres lalu. Gerombolan ini mendompleng Prabowo-Sandi melancarkan aksinya. Makanya kita waktu itu serius berdiri di belakang Jokowi-Amien. Sebab saat itu, kita hampir memandang Pilpres sebagai pertarungan ideologis. Bahkan, seperti juga Gus Dur. Nyawapun bisa kita pertaruhkan. Jika masa depan bangsa sebagai taruhanya.

Tapi, kita tahu, Jokowi meredakan anggapan itu. Sebab pertarungannya dengan Prabowo-Sandi memang hanya pertarungan politik. Sekadar kontestasi rutin. Lain soal pertarungan kita dengan gerombolan radikal. Kaum menyebar fitnah. Mereka bahkan didoktrin untuk membenci sampai ke tulang sumsum.

Kepada kelompok ini, harua kita akui, Jokowi punya sikap lebih tegas. Sudah satu periode gerombolan mereka diberi ruang untuk berbaik-baik. Tapi makin ke sini, makin betingkah. Hukum diinjak-injak. Mereka merusak negeri ini. Pada kelompok inilah akhirnya Jokowi harus mengambil langkah tegas.

Mereka gak bisa dikasih hati. Akan makin ngelunjak. Sekarang prinsipnya : Now or never. Jika sekarang dibiarkan, maka mereka gak akan bisa lagi dihentikan. Taruhannya adalah masa depan negeri ini.

“Mas, sekarang Cabong dan Kampret bersatu melawan Kadrun,” ujar Abu Kumkum.

Iya Kum. Semoga kampretnya bisa mikir panjang.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: