Skip to toolbar

Kolom Muhammad Nurdin: JOKOWI, SI KOPPIG YANG GILA KERJA

0 0
Read Time:4 Minute, 25 Second

Dalam Debat Capres perdana lalu, ada satu hal yang menarik bagi saya. Bukan soal Ratna Sarumpaet yang ternyata oplas, atau soal Jawa Tengah yang ternyata lebih luas dari Malaysia. Yang menarik adalah saat Jokowi menyampaikan “closing statement” di akhir acara.

Jokowi menyampaikan:

“Kami tidak ingin banyak bicara. Kami sudah paham persoalan bangsa dan tahu apa yang harus kami lakukan. Kami tak punya potongan diktator dan otoriter. Kami tak punya rekam jejak pelanggaran HAM, kekerasan dan korupsi. Jokowi-Amin akan pertaruhkan jabatan dan menggunakan kewenangan yang kami miliki untuk kemenangan bangsa ini.”

Tapi, bukan statementnya yang menarik. Yang menarik saat Jokowi mengakhiri kalimatnya, ia langsung melipat-lipat lengan kemeja putihnya. Sebuah simbol yang penuh dengan makna.

Orang dengan kemeja lengan panjang, saat akan memulai pekerjaan (biasanya yang perlu sedikit kerja fisik) akan melipat atau menggulung lengan kemejanya. Kebiasaan itu lumrah terjadi pada setiap orang. Tidak ada yang spesial.

Tapi tidak untuk Jokowi pada malam debat Capres lalu. Ia tengah memberikan sebuah pesan yang kuat kepada lawan politiknya, juga kepada seluruh rakyat yang menontonnya bahwa Jokowi-Amin “sekarang juga” siap untuk bekerja.

Karakter berpolitik Jokowi seperti air yang tenang. Ia tak banyak bicara. Berpidato pun biasa-biasa saja. Apalagi curhat, bukan tipe Jokowi. Ia lebih suka menggunakan simbol-simbol tertentu.

Coba lihat gaya Jokowi saat blusukan. Kemeja putih lengan panjang yang sudah digulung sedikit. Celana jeans lengkap dengan sneakersnya. Jokowi terlihat lebih energik. Sehingga, selaras dengan spirit pembangunan yang sedang digenjotnya. Kerja. Kerja. Kerja.

Pada 8 Desember tahun lalu. Sabtu itu sangat berbeda bagi Jokowi. Ia beserta keluarga besarnya, minus Kaesang, jalan-jalan menyusuri kawasan Istana Bogor. Jan Ethes yang terlihat imut itu selalu menarik perhatian banyak orang. Mereka terlihat haromis dan bersahaja.

Sebenarnya, Jokowi bukan tipe pemimpin yang sibuk memamerkan siapa dirinya. Ia orang yang fokus pada kerja. Sejak menjabat sebagai Walikota Solo sampai menjadi Gubernur Jakarta, jarang sekali terlihat Jokowi menampakkan foto dirinya lengkap bersama keluarga.

Untuk Pilpres 2019, Jokowi perlu simbol yang kuat yang tidak dimiliki lawan politiknya. Ia tidak perlu bersuara lantang untuk menyerang. Ia seperti air yang tenang. Dalam juga mampu menenggelamkan.

Apalagi, masyarakat kita masih sangat klasik memaknai rumah tangga sebagai gambaran dari kemampuan seseorang memimpin. Secara tidak sadar, Jokowi tengah menyampaikan sebuah pesan kuat kepada masyarakat, bahwa ia mampu membangun negeri ini, sebagaimana ia mampu membangun sebuah keluarga yang harmonis.

Dan. Simbol itu hanya penguat. Bukan sebatas pencitraan yang hampa tindakan.

Saya teringat pada tahun 2016 silam. Tepatnya pada tanggal 21 Juni, saat usianya sudah 55 tahun. Saat itu Jokowi sedang meninjau proyek jalan tol Bogor-Ciawi. Wartawan yang meliput ramai-ramai mengucapkan “selamat ulang tahun, Pak”.

Dengan polosnya Jokowi bertanya kepada para wartawan, “Siapa yang ulang tahun?” Sontak hal itu malah membuat mereka cekikikan dan tersenyum malu.

Jokowi pasti tidak lupa kapan ia dilahirkan. Tapi yang harus ia ingat pada Selasa pagi kala itu adalah pekerjaan. Ia tidak terlalu punya banyak waktu untuk sekedar merayakan ulang tahunnya. Apalagi cuma duduk-duduk santai di istana sambil menerima ungkapan syukur dan kegembiraan dari kolega-koleganya.

Tak lama setelah Jokowi ulang tahun. Hubungan Indonesia-China memanas. China mengklaim Pulau Natuna masuk Laut China Selatan.

Jokowi langsung ke Natuna, sambil membawa kapal perang. Di atas kapal tersebut ia menyampaikan, “Saya sampaikan, Natuna itu di daerah teritorial Indonesia. Karena, penduduk Natuna itu 169.000 penduduk Indonesia.”

Ia menekankan, siapapun yang menentang hal itu, Pemerintah RI siap menghadapinya. “Kalau mau ajak berantem, ya kita ramai-ramai, kalau ada yang macam-macam.”

Jokowi yang kalem sewaktu-waktu bisa juga menjadi macan yang menakutkan. Sampai-sampai Yenny Wahid menilai:

“Ada seorang laki-laki kurus menaiki kapal perang, kapal itu mengarungi Natuna. Apa yang dilakukan laki-laki itu? Dia mengambil air wudhu di samudera yang luas. Maknanya apa? Tekad dari pemimpin Indonesia untuk menegakkan territorial bangsa kita.”

Jelas. Jokowi itu koppig. Apalagi jika itu berurusan dengan kedaulatan dan kesejahteraan negeri ini.

Coba perhatikan. Pekerjaan awal yang dilakukan pemerintahan Jokowi-JK adalah pembubaran Petral. Bagi banyak orang, Petral dianggap mempunyai pengaruh besar terhadap siapa yang akan memimpin negeri ini.

Siapa pun yang akan menjadi Presiden, ia tak boleh berseberangan dengan kepentingan Petral apalagi berniat membubarkannya. Seolah-olah Petral punya kuasa yang tinggi terkait kebijakan Migas negeri ini.

Tentu ini sangat beralasan. Dalam sehari, Petral ditaksir memperoleh keuntungan sebanyak Rp. 250 miliar. Siapapun orang di balik Petral mampu menyediakan logistik kampanye yang besar untuk satu pasangan calon presiden dan wakil presiden.

Dan pekerjaan perdana Jokowi adalah membubarkannya. Membubarkan penyedia logistik terbesar Pemilu. Dimana pemimpin yang terpilih nanti akan tertawan dengan beban masa lalunya.

Dalam satu tahun, akhirnya Jokowi bisa membubarkan Petral.

Yang lebih koppig dari seorang Jokowi adalah saat ia merebut Freeport dari tangan asing. Sebuah pekerjaan yang selalu gagal dilakukan para pendahulunya.

Banyak orang mencibirnya. Menakut-nakutinya. Menyimpulkan dengan cepat ia takkan berhasil.

Setelah kita merebut 51$ saham Freeport, muncullah silogisme khas anak-anak kelas bermain, “kita yang punya rumah, kita yang kontrakin, eh kita yang suruh bayar”.

Kalau merebut Freeport semudah logika mereka, kenapa tidak dari dulu direbut? Kenapa pemerintah sebelumnya justru terus memberikan izin perpanjangan kontrak kerja?

Jawabannya sederhana, karena pendahulu-pendahulu Jokowi tidak sekoppig dia dalam menegakkan kedaulatan bangsa. Baginya, kedaulatan itu harga mati. Apapun caranya ia akan tempuh.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: