Skip to toolbar

Kolom Juara R. Ginting: DATA DAN INFORMASI — Kentut Solusi di Pilkada Karo 2020 (Bagian 4)

0 0
Read Time:4 Minute, 0 Second

Terkait dengan janji saya di bagian sebelumnya, Bagian 4 ini saya mulai dengan pemahaman terhadap 2 jenis lumbung padi di Karo: 1. Milik satu keluarga batih (jabu) yang disebut lumbung atau keben dan 2. milik sejumlah keluarga (4, 6 atau 8 keluarga batih) yang disebut sapo page atau batang (kadang disebut juga jambur 9 binangun). Kita abaikan saja perbedaan sapo page dengan batang karena diskusi kita lebih memusatkan diri pada perbedaan antara ekonomi bertahan hidup dan ekonomi untuk surplus.

Dalam hal itu, sapo page dan batang sama-sama mengindikasikan adanya kesatuan lahan bersama.

Walaupun panennya bisa jadi berasal dari lahan-lahan yang terpencar satu sama lain, tapi ada satu spirit yang mempersatukan mereka, yaitu jiwa (tendi) sebuah lahan yang dibuka oleh seorang kemberahen di masa lalu. Lahan-lahan terpencar itu terkait satu sama sebagai:

1. Sembuyak
2. Senina
3. Anak Beru
4, Kalimbubu

Jiwa lahan yang mempersatukan mereka itu disebut Tendi Page atau Beru Dayang.

FOTO: Bangunan kecil di latar depan adalah Sapo Page. Bagian atas bangunan ini dipergunakan tempat penyimpanan padi, bagian bawah tempat orang duduk-duduk bercengkerama atau mengerjakan anyaman atau ukiran atau juga pertukangan. COLLECTIE TROPENMUSEUM

Sepanjang lingkaran hidup padi di salah satu lahan dari suksesor kemberahen diadakan ritual: merdang, mere page (Ngambur-ngamburi Beltek Laki dan Ngambur-ngamburi Beltek Beru), Mutik Page Du[hu]men (Mbaba Page Duhumen ku Sembahen), Rani.

Ikatan bulir padi panen dipanggul oleh seorang pemuda dan diletakkan di sapo page atau batang oleh suksesor kemberahen. Padi itu dihiasi dengan ornamen-ornamen dan dekorasi serta disejukkan dengan Bulung-bulung Simalem-malem Simelias Gelar (12 jenis tumbuhan liar yang juga dipergunakan untuk Raleng Tendi).

Itulah Beru Dayang dibawa dari lahan Juma Buaten ke Sapo Page atau Jambur Siwah Binangan, tempat para pemuda melewati malam.

Di foto-foto dan film-film lama, saya lihat Beru Dayang dibawa dari ladang ke sapo page dengan kereta yang ditarik (lige-lige), mirip kereta yang ditarik saat membawa mayat raja atau kemberahen dari kampung ke pemakaman umum.

FOTO: Bangunan sebelah kiri adalah Sapo Page dan sebelah kanan Rumah Adat Karo. Bangunan sapo page ini bisa kita bagi ke dalam 4 tingkat ruangan. Dari bawah ke atas: 1. kolong, 2. lantai tempat duduk (tanpa dinding), 3. lumbung tempat penyimpanan padi, 4. papan penutup lumbung padi yang dipakai oleh pemuda sebagai lantai tempat tidur di malam hari sehingga Sapo Page ini disebut juga jambur (tempat tidur pria). Terlihat ada sebatang bambu yang digunakan untuk mencapai tempat tidur itu. Tangga ini seperti tangga memanjat pohon nira. COLLECTIE TROPEN MUSEUM

Itulah yang hendak saya tunjukkan di sini, panen yang disimpan di sapo page atau batang adalah surplus (nilai lebih) dari sebuah kelompok sosial yang anggota-anggotanya terkait satu sama lain sebagai Sembuyak, Senina, Anak Beru, dan Kalimbubu.

Jadi, mereka adalah sebuah kesatuan rumah [adat] yang mendiami Jabu Bena Kayu (sembuyak rumah), Jabu Ujung Kayu (anak beru rumah), Jabu Lepar Bena Kayu (kalimbubu rumah), Jabu Lepar Ujung Kayu (senina rumah).

Padi yang disimpan di sini tidak untuk dimakan sehari-hari tapi untuk persedian bila saja anak rumah itu (mereka bisa jadi sudah pencar di rumah-rumah adat yang berbeda) mengadakan upacara besar, terutama perkawinan (edemu bayu) atau kematian (nurun-nurun).

Sapo Page atau Batang juga relevan untuk acara Ngulihi Tudung. Ketika pengantin perempuan mengalami kehamilan 100 berngi, maka diadakan Ngulihi Tudung yang sekalian menjemput bibit padi untuk penanaman pertama di lahan ibunya pengantin pria.

Anak beru senina pulang dengan menjunjung bibit padi yang diambil dari sapo page atau batang ibu pengantin perempuan alias kemberahen.

Pengerjaan Juma Buaten dilakukan tidak dengan sistim aron, tapi serayan. Cucu-cucu dari Kemberahen yang membuka lahan itu bergotongroyong di sana sekalian reuni anak dilaki anak diberu, yang menjadi cikal bakal unit sosial yang disebut Anak Beru Senina (bukan Anak Beru Sembuyak).

Ini beda sekali dengan padi yang di lumbung atau keben. Unit sosial kerjanya adalah keluarga batih (jabu). Produksinya hanya untuk mencukupi bahan makanan setahun satu keluarga batih. Adapun unit sosial sapo page maupun batang adalah sejumlah jabu yang masing-masing punya lumbung/ keben sendiri.

Di sini kita lihat bahwa pertanian padi ladang di Karo Gugung di masa Pre Kolonial mengkombinasikan kebutuhan untuk bertahan hidup dengan kebutuhan akan surplus. Akan tetapi, surplus yang dihasilkan bukan untuk melipatgandakan modal, melainkan untuk menjaga kelangsungan kehidupan sosial, budaya, dan religius.

Dari mana modalnya pakaian-pakaian dan perhiasan logam yang mahal-mahal itu semua? (emas, perak, suasa).

BERSAMBUNG

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: