Kolom Andi Safiah: BISAKAH BANGSA INI MENJADI BANGSA YANG BESAR?

0 0
Read Time:54 Second

Jika dilihat dari pola interaksi dalam ruang-ruang publik, nampaknya tidak.

 

Kita tidak layak disebut sebagai bangsa yang besar ketika mentalitas yang beredar dalam ruang-ruang publik lebih banyak bernuansa sentimen daripada penghargaan (apresiasi). Mengapa sentimen lebih dominan?

Karena memang dirawat, dijaga bahkan dilestarikan sejak lama. Lihat saja pada skala sederhana, bahwa sentimen lebih dominan dalam masyarakat kita. Paradigma suka dan tidak suka lebih kental dari pada paradigma “apresiasi”.

Kita selalu cenderung ingin tampil dominan walaupun kapasitas kita terbatas. Ibarat flash disc yang kapasitasnya cuman 32 GB tapi memaksakan diri untuk menampung data 64 GB. Ya, jelas tidak bisa.

Model interaksi “terpaksa” inilah yang kemudian sukses merusak tatanan. Bisa jadi karena demokrasi yang kita saksikan adalah demokrasi “transaksional” sehingga kita secara sadar menabrak etika dan moralitas sebagai prinsip hanya untuk sampai pada tujuan.

Rusaknya tatanan yang kita imaginasikan sebagai bangsa inilah yang menyebabkan kita tidak layak disebut sebagai bangsa yang besar. Kalau yang besar slogannya, mungkin iya.

#Itusaja!








Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Andi Safiah: BISAKAH BANGSA INI MENJADI BANGSA YANG BESAR?

  1. Bisakah bangsa ini menjadi bangsa yang besar?

    Pertanyaan yang sangat menggelitik memang. Penasaran juga cari-cari jawabannya yang lebih mendekati kebenaran.

    Kalau kita teliti kejadian 1965 dimana bangsa kita berhasil diadu domba oleh pihak luar neolib internasional yang sekarang disebut juga deep state, sampai kita siap atau bangga saling bunuh sesama anak bangsa sendiri, dan tanpa disedari kecolongan SDAnya, jelas tidak bisa dikatakan bangsa besar, karena kepandaian pihak luar atau orang-orang neolib internasional itu jauh lebih tinggi dari kepandaian bangsa kita sendiri.

    Kalau tadi kepandaian bangsa kita lebih tinggi tentu kita tidak mungkin diadu domba serendah itu, artinya kalau bangsa besar. Kalau deep state neolib itu mengadu domba bangsa ini dengan gerakan 411, 212, Saracen, tetapi bangsa ini bisa menangkis dan malah menghancurkan gerakan pecah belah itu, berarti kepandaian deep state atau neolib itu sudah tidak lebih tinggi dari kepandaian bangsa kita. Tetapi pecah belah itu bisa dikatakan berhasil hanya separuh jalan, tidak sepenuhnya berjalan seperti 1965- Ini menandakan bahwa kekuatan pengetahuan dikedua belah pihak sudah berimbang, tinggal melihat kedepan siapa diantara dua kekuatan itu yang akan lebih maju atau lebih kuat atau lebih tinggi pengetahuannya.

    Kalau nanti sudah lebih tinggi pengetahuan bangsa ini dari pengetahuan deep state neolib pemecah belah itu, berarti kita sudah menjadi bangsa besar, karena sudah tidak ada yang berhasil menipu disiang bolong karena kebodohan atau tingkat pengetahuang yang sangat jauh berbeda. Disini nanti model pecah belah 411, 211, Saracen, tidak akan jalan biar separuh juga. Itulah definisi atau tepatnya ciri utama bangsa besar . . . artinya bangsa yang tidak bisa lagi dibodohi oleh siapapun terutama deep state neolib itu. Tetapi ini berlaku hanya dalam tingkat kontradiki pokok dunia sekarang ini ialah antara kepentingan nasional nation-nation dunia kontra kepentingan neolib internasional deep state. Dalam kontradiksi baru nanti kita masih akan melihat situasi perubahan konkretnya lagi.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: