Skip to toolbar

Kolom Andi Safiah: GEN EGOIS — Benarkah Gen Bersifat Egois?

0 0
Read Time:3 Minute, 6 Second

Sejak diterbitkan pada tahun 1976, “Selfish Gene” yang ditulis oleh seorang ilmuan sekaligus seorang yang dicap sebagai atheist level radikal (Richard Dawkins), buku ini langsung mendapat sambutan meriah dan penuh dengan kontroversi. Terutama pada judul yang kesannya “merendahkan” moralitas manusia, khususnya manusia-manusia yang selalu mencap dirinya suci karena tuhan memang menakdirkan binatang manusia sebagai binatang yang suci diantara binatang-binatang lainnya.

Tapi, klaim itu sebenarnya sudah diruntuhkan lebih awal oleh Charles Darwin dengan mengajukan sebuah teori Evolusi dan seleksi alam.

Tujuan Evolusi dan seleksi alam menurut Darwin hampir mirip dengan yang ingin disampaikan oleh Richard Dawkins dalam selfish gene; bahwa Gen manusia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan berbagai klaim atau konsep yang datang dari agama. Gene adalah seperangkat mesin duplikasi yang bekerja secara buta, yang tujuannya tidak lain adalah urusan bertahan hidup. Jika mesin ini rusak maka agenda betahan hidup bisa pupus.

Pada sisi lain, selfish gene juga melahirkan semacam interpretasi baru yang dikenal dengan nama “Dystopia Nihilistic”, sebuah pandangan yang menggambarkan realitas itu semacam ilusi saja. Apa yang kita sebut kenyataan (realitas) sebenarnya tidak ada. Inilah yang membuat banyak ilmuan agamawan sedikit jengkel dengan argumen-argumen yang diajukan oleh Richard Dawkins.

Tapi, jika diuji di laboratorium, begitulah aktivitas gen. Kerjanya memang hanya semacam mesin foto kopi, membuat duplikat-duplikat dirinya sendiri dengan satu tujuan yang jelas, agar terus bertahan dalam suasana dan jenis lingkungan apapun.

Apa alasan di balik istilah “Gen Egois” oleh Richard Dawkins?

Selain terinspirasi dari William Hamilton, saya kira Richard Dawkins banyak terpengaruh oleh teori evolusi Darwin terutama pada urusan “seleksi alam”. Karena urusan kompetisi ternyata tidak cuman pada level organisme hingga species, tapi juga pada level genetik juga prinsip kompetisi ini berlangsung. Gen berusaha mereplikasi dirinya sendiri secara “brutal”. Bisa jadi inilah yang dimaksud “Egois” oleh Richard Dawkins, bahwa pada dasarnya mental-mental egois pada diri manusia memang terbangun secara alamiah pada level genetika dan sekali lagi ujungnya adalah bertahan hidup.

Mesin replikasi yang terus menerus bekerja secara konstan adalah bukti bahwa gen sekalipun tidak ingin punah. Untuk itulah gen akan senantiasa melakukan kerja-kerja replikasi. Terdengar ngotot tapi memang begitulah “mesin” ketika program yang sudah ditanamkan dalam dirinya A maka itulah yang terus menerus diproduksi, seperti halnya manusia atau species lain, mereka yang berhenti melakukan kerja produksi akan punah.

Menurut saya, selain alasan-alasan scientific, ada alasan-alasan lain di balik “gen egois” yang memang sengaja dipilih sebagai judul dari buku fenomenal Richard Dawkins. Misalkan alasan-alasan “Keyakinan” bahwa memang hidup di atas planet ini, selain karena alasan natural selection, tidak ada alasan-alasan fiksi semacam tuhan ikut campur tangan dalam urusan eksistensi manusia.

Alam dengan hukum-hukum yang berlaku di dalamnyalah yang membentuk semuanya. Semua yang kita sebut hidup.

Gen Egois menggambarkan mental Egois pada diri manusia.

Bisa jadi sifat egois yang kita tampilkan sehari-hari adalah aktivitas Gene Selfish yang melekat dalam diri kita karena alasan-alasan kompetisi. Karena mental Egois dan Gen memang selalu ingin tampil dominan. Tombol egois muncul secara spontan. Kadang kita pun menyadari bahwa mental tersebut datang begitu saja tanpa diperintah.

Perilaku ini dipicu oleh alasan-alasan bertahan hidup (survive). Saya terkadang membayangkan gen yang bekerja agak mirip dengan sebuah aktivitas kota besar yang padat, dimana masing-masing gene (manusia) bergerak sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Tapi ujung dari kepentingan tersebut tetaplah sama, agar dirinya bisa bertahan hidup.

Bahkan Richard Dawkins juga sempat menyinggung soal “Gene In Conflict”. Ya, sekali lagi agak mirip-mirip dengan konflik yang ada dalam kehidupan manusia sehari-hari. Mereka bersaing untuk tujuan-tujuan menjaga agar gen replika tetap prima dan berkualitas. Konflik juga bisa membuat gene tampil dominan.

Pertanyaannya, bagaimana bisa pada level gene perilaku itu terlihat sama dengan level peradaban manusia?

* Penulis adalah salah satu produk Gen Egois

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: