Kolom Andi Safiah: MBS (Miskin, Bodoh, Sombong)

0 0
Read Time:1 Minute, 48 Second

Kebencianmu pada Ahok akhirnya melahirkan malapetaka bagi dirimu sendiri. Makanya jangan mau menjadi manusia bermental MBS. Tau kan MBS ini adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh seorang kawan BH saat masih bergulat di forum-forum intelektual. Gelar itu cocok untuk rakyat Jakarta yang sukses memberikan tahta bagi seorang pembohong dan penipu kelas ulung.

Akhirnya kalian harus menikmati akrobat-demi- akrobat dari penipuannya yang luar biasa menipu akal sehat.




Inilah ekspresi dari masyarakat yang bermental MBS. Mereka membuat penilaian bukan atas dasar realitas, bukan atas dasar fakta-fakta empiris, tapi kesadarannya dikendalikan oleh otoritas yang bernama “iman”.

Akhirnya yang mereka saksikan saat ini adalah seorang pemimpin yang beriman. Caranya menjawab soal-soal real diserahkan sepenuhnya kepada Allah sang imaginari supranatural being. Lihat saja ketika Jakarta dihantam oleh hujan dan banjir adalah langganan serius, maka mari sama-sama kita berdoa kepada Allah agar tidak menurunkan hujan, solusi yang super genius.

Bagi saya ini adalah cara seorang pemimpin dalam menipu rakyatnya yang bermental MBS.

Sekarang Jakarta harus kehilangan manusia yang sanggup membangkitkan arena “dialektika” dalam ruang-ruang publik, karena karakter yang meledak-ledak bagaikan kembang api. Tau kan kembang api hanya akan tampil cantik jika dia mengeluarkan bunyi-bunyian yang khas. Ahok juga begitu. Dia doyan mengeluarkan bunyi-bunyian yang khas sehingga merangsang lahirnya dinamika publik.

Kebencianmu pada dia justru berbalik arah. Kamu tidak akan menyaksikan kembang api yang indah lagi. Sekarang otakmu diminta untuk kembali diam dan bersembunyi di balik tembok-tembok ratapan. Film yang diputar di layar tancap saat ini sudah berbeda. Tidak seperti dulu lagi; dulu kamu bisa ikut terlibat dalam setiap pertunjukan, sekarang peranmu sedang coba dikembalikan pada posisinya semula, yaitu DIAM.

Sebagai warga negara Indonesia, saya cuman ingin menuliskan refleksi ini, bahwa mentalitas MBS harus segera kita tinggalkan. Itu jelas merugikan kita semua. Sudah saatnya berjalan di atas natural rule and orders. Bukan hasil rekayasa manusia untuk menguasai manusia lainnya.

Kita sebagai bagian dari spirit bangsa ini jangan mau diam di atas penindasan dan pembodohan yang dilakukan oleh siapapun yang sedang berkuasa.

#Itusaja!








Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

2 thoughts on “Kolom Andi Safiah: MBS (Miskin, Bodoh, Sombong)

  1. “rekayasa manusia untuk menguasai manusia lainnya.” . . . wow, luar biasa memang usaha ini, dan sudah berjalan ribuan tahun pula, selama sudah adanya kekuasaan. Jadi teringat rahasia atau rekayasa rahasia yang dijalankan oleh berbagai organisasi rahasia privat atau secret societies terutama di AS. Perlawanan total terhadap organisasi ini dan kegiatannaya baru muncul setelah era keterbukaan lahir di dunia, sebagai akibat tak terelakkan dari kemajuan teknik digital itu.
    Dalam menjalankan niatnya menguasai/mendominasi manusia lain ada 3 alat utama yang dipakai yaitu
    1. covert means,
    2. sexual exploitation,
    3. fraudulent accumalation of wealth and power. lihat disini: http://www.thrivemovement.com/encouraging-look-forward.blog

    Menguasai dan mendominasi manusia atau grup manusia dibutuhkan 3 alat utama itu, yaitu alat pertama, dengan cara rahasia atau kerahasiaan yang ketat, kedua, dengan sexual exploitation atau sekarang disebut juga sex trafficking, dan ketiga dengan duit, duit, duit, yang dimiliki dan diakumulasi dengan cara curang dan penipuan, seperti mengeruk miliaran dolar dari SDA Syria dan Irak dengan bantuan teroris ISIS, sebuah organisasi yang menurut Trump sengaja dibangun oleh Obama/Clinton sebagai presiden boneka neolib internasional atau yang sekarang disebut deep state. Juga termasuk mengeruk triliunan dolar dari SDA Indonesia setelah bikin adu-domba dan merekayasa pembunuhan 3 juta jiwa orang penduduk Indonesia 1965.

    Bankir-rentenir internasional menghasut terorisme, dan berbagai perang, termasuk perang dunia 1 dan 2, meminjamkan duit untuk beli senjata atau bikin senjata, dan setelah habis perang pinjamkan duit untuk pembangunan kembali. Bikin utang besar-besaran bagi banyak negara, terutama bagi negeri berkembang sangat mencekik. Betapa banyak tambah duitnya bankir besar rentenir internasional penghasut teror dan perang ini tiap kali ada sengketa besar atau perang. Kalau tidak ada perang, atau rakyat aman-aman saja, berbahagia dan tenang, bankir rentenir ini sebaliknya sedih tidak senang, seperti kepala IMF Christine Lagarde pernah bilang: “When the world around the IMF goes downhill, we thrive. We become extremely active because we lend money, we earn interest and charges and all the rest of it, and the institution does well. When the world goes well and we’ve had years of growth, as was the case back in 2006 and 2007, the IMF doesn’t do so well both financially and otherwise.” — Christine Lagarde
    https://www.globalresearch.ca/imfs-christine-lagarde-when-the-world-goes-downhill-we-thrive/5518214

    baca juga artikel menarik soal bankir rentenir itu disini:
    https://nationalvanguard.org/2016/07/all-wars-are-bankers-wars/

    Diantara 3 alat diatas, bisa kita duga-duga bahwa cara kerahasiaan adalah yang paling kuat dan menentukan. Dan kerahasiaan itu pulalah sekarang yang telah jadi sasaran utama dari pihak publik dunia dalam menentang usaha mendominasi kehidupan manusia lain itu. Alat penting kerahasiaan itu telah menjadi alat yang sangat rawan dan crucial, karena dunia sudah memasuki era keterbukaan. Alat Rahasia itu kuat dan menentukan hanya didalam era ketertutupan abad lalu dan abad-abad sebelumnya juga. Seperti kita lihat bahwa semua organisasi-organisasi rahasia, sekarang sudah mulai berkurang kekuatannya karena sudah bisa dibuka oleh publik. Organisasi ini tadinya kekuatannya memang ada dalam kerahasiaan yang berlaku di dunia lama, sedangkan dunia baru, kekuatannya ada dalam keterbukaan.

    Faktor yang sangat melemahkan juga bagi organisasi-organisasi rahasia ini ialah partisipasi publik yang semakin luas lewat media alternativ atau media sosial internet ikut menelanjangi. Publik yang ingin tahu semakin banyak dan semakin luas yang membikin organisasi kuat itu jadi lemah dan tidak berarti. Pengetahuan dan informasi membikin yang kuat/busuk jadi lemah dan yang lemah/baik jadi kuat. Itulah kekuatan sejati dalam era keterbukaan, artinya kekuatan dalam kejujuran, keadilan dan keterus-terangan.

    Di AS organisasi inteligen AS seperti CIA, FBI, NSA dsb pernah disebut sebagai the fourth power atau kekuatan/kekuasaan nr 4 setelah badan Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif. Dan mana yang terkuat diantara 4 powers ini, dalam prakteknya adalah the 4th power itu. Yang lain secara individu bisa pada ketakutan, mundur, menyerah atau bernasib seperti JFK atau Lincoln. The forth power inipun sekarang tidak luput dari penelanjangan dari publik, termasuk disini harus disebutkan yang banyak berjasa seperti Edward Snowden ex NSA dan Julian Assange WikiLeaks.

    Ribuan tahun sudah dominasi human lives ini tanpa perlawanan yang berarti atau perlawanan yang pernahpun selalu berakhir dengan kematian individu yang melawannya. Ribuan tahun juga sudah umur alat sexual exploitation ini, karena permainan sex sebagai alat kekuasaan bukan baru, sudah dipakai sejak mulainya sejarah kemanusiaan, dan yang sekarang sex trafficking berbentuk seperti ‘meet single women’ dengan wajah cantik badan menggiurkan, paha belalang. Walaupun dulu tidak ada fotonya, tetapi t.s.t. saja (tau sama tau) dikalangan penjual beli kekuasan.

    Alat Duit juga bukan baru, Aristoteles sudah mengeritik penggunaan duit yang tidak jujur, dan di Bibel juga disebutkan sebagai sumber kejahatan. Paus Fransiskus dizaman modern bilang ‘the dung of the devil’.
    Lebih jauh soal organisasi intel ini juga bukan tidak mungkin sudah ada pemakainnya sejak ribuan tahun, dalam bentuk yang lain, mulai setelah ada kekuasaan. Weber bilang kalau kekuasaan (negara) punya tentara dan mata-mata supaya bisa hidup dan bertahan. Jadi begitu ada kekuasaan sudah ada juga badan intelnya, seperti CIA, NSA, FBI di AS atau BIN di Indonesia. Kemudian organisasi (rahasia) mana atau kekuatan politik mana yang mendominasi badan resmi intel itu. Di AS sudah jelas bahwa deep state mendominasi badan resmi intel itu.
    Di Indonesia siapa? Pertanyaan terakhir ialah apakah masih diperlukan badan-badan gelap (rahasia) untuk menjaga negara dalam era keterbukaan? Bukankah semua kekuatan ada dalam keterbukaan?
    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: