Skip to toolbar

Kolom Eko Kuntadhi: NENEKKU GAK DOYAN BAKSO

0 0
Read Time:4 Minute, 38 Second

Ini kisah almarhum nenekku. Perempuan Betawi asli, yang lahir di jaman ketika sinyo Belanda masih gemar pakai celana pendek. dibesarkan dalam doktrin kolot. Nenekku buta huruf Latin. Gak bisa baca sama sekali. Tapi ia bisa membaca huruf Arab. Bisa baca Alquran dan Melayu Arab. Kenapa dia gak bisa baca?

Dulu ketika kecil, orangtuanya tidak mengizinkan dia sekolah. “Ntar, lu pacaran di sekolah,” begitu alasannya. Maka dia hanya belajar ngaji. 

Nenekku menikah dijodohkan orangtuanya. Untung dia dapat lelaki keren yang pikirannya melampaui zaman. Mereka menikah. Membangun rumah tangga, punya anak 12. Maklum dulu gak ada hiburan lain kayaknya.

Dari 12 anak, dua orang meninggal saat bayi. Nah, kedua anak mereka dibesarkan dengan cara berbeda. Bukan lagi seperti ketika nenekku dibesarkan. Kakekku adalah seorang demokrat sejati. Pikirannya terbuka. Ia mendorong anak-anaknya sekolah. Menikmati bangku pendidikan dan bergaul seluas-luasnya.

Mamaku, misalnya, menikmati bangku sekolah dengan baik. Dia dibebaskan bergaul dengan siapa saja. Dunianya luas dan terbuka. Dunia mamaku jauh berbeda dengan dunia ibunya. 

Dalam soal makanan, nenekku amat sangat termakan doktrin. Tahu gak? Dia sama sekali tidak makan mie ayam, bakmie, bakso, dan sejenisnya. Katanya, dulu dia didoktrin jika jajanan itu mengandung babi. Jadi, memang dia gak makan sama sekali. Ia lebih suka memasak Supermie ketimbang jajan mie ayam. 

Tapi anehnya anak-anak nenekku bebas saja mengkonsumsi bakso atau mie ayam. Ibunya tidak melarang. Nenekku hanya meyakini doktrin untuk dirinya sendiri. Dia tidak menularkan keyakinannya ke anak-anaknya.

Aku pernah bertanya saat kecil. “Kenapa Ibu (panggilanku ke nenek) gak mau makan bakso?”

“Dulu engkong (orangtua nenekku) selalu ngomong, bakso itu ada babinya,” jawabnya. 

“Tapi kok, Babeh (panggilanku ke kakek) doyan bakso?”

“Babeh lu dulu sekolah. Ibu gak sekolah,” begitu saja jawabnya.

Jadi, ibuku sadar, sekolah bisa mengubah pandangan seseorang. Hanya saja kecintaan pada orangtuanya membuat dia tidak mau mengabaikan nasihatnya dulu. Meski, dia tahu, nasihat itu ternyata gak sesuai kenyataan. Ibu lebih memilih memegang nasihat orangtuanya ketimbang mengikuti pengetahuannya. 

Ibu tahu Babeh suka makan bakso. Tapi yang menarik, babeh gak pernah makan bakso kalau ada istrinya. Dia menghormati kekolotan yang ada di kepala istrinya. Kalau mau jajan bakso, dulu babeh suka mengajakku naik sepeda. Menjauh dari rumah.

Sebagai anak Betawi asli, nenekku punya warisan tanah yang besar. Babeh membangunnya menjadi beberapa rumah petakan untuk dikontrakan. Salah satu pengontraknya adalah pedagang bakso. Artinya, nenekku tahu, proses pembuatan bakso. Tahu bahan yang digunakan. Gak ada babinya sama sekali.

“Ibu lu, gak sekolah. Tapi dia baik. Dia gak doyan bakso, karena dilarang orangtuanya dulu,” ujar Babeh.

“Tapi, kenapa ibu sampai sekarang gak doyan. Kan udah tahu bakso gak pakai daging babi?” tanyaku. 

“Karena dia menghormati nasihat orangtuanya. Itu tandanya ibu lu orang baik,” jawab babeh singkat. 

Toh, meski ibu gak mau makan bakso atau mie ayam, keyakinannya itu tidak diturunkan ke anak-anaknya. Semua tante dan omku suka bakso kayaknya. Bahkan dulu ketika mereka makan bakso, banyak ledekan ke ibu.

“Ibu gak doyan bakso, karena mengira bakso ada babinya. Padahal gak ada. Enak loh, bu,” ledek omku sekali waktu. 

“Engkong lu, dulu melarang. Sekarang engkong lu udah meninggal. Kan, ibu gak tahu, apa engkong lu udah membolehkan ibu makan bakso apa masih dilarang? Kalau ibu makan, entar kualat gak dengerin nasihat engkong,” jawabnya. 

Sampai sekarang jawaban itu selalu terngiang di kepalaku. Ibu memang gak sekolah. Tapi ketakjiman dia kepada orangtuanya, terasa kuar biasa.

Saya jadi ingat jawaban Kyai Mustofa Bisri dalam wawancara Kick Andy. Dulu Gus Mus pernah didorong untuk jadi Ketua PKB. Semua orang sudah setuju, Gus Mus mengkomandoi partai besutan Gus Dur. Tapi Gus Mus kita tahu, tidak bersedia.

“Kenapa gak bersedia, Gus?”

“Saya tanya sama ibu saya, dia bilang: jangan.”

“Kenapa gak boleh, Gus?”

“Ya, gak kenapa-kenapa. Saya juga gak perlu nanya alasannya. Kalau ibu saya bilang jangan, ya sudah jangan. Itu saja.”

Nenekku mungkin kolot. Ia adalah wajah kekolotan yang paling telanjang. Buta huruf. Gak sekolah. Tapi menariknya, nenekku hanya memegang kekolotan itu untuk dirinya sendiri. Ia tidak memaksakan apa yang diyakininya bahkan kepada anak-anaknya.

Mendengar ada orang yang menutup restoran karena menjual babi di Makasar, saya teringat nenek. 

Iya, bagi umat Islam makan daging babi itu dilarang. Alquran mengharamkan. Tapi kan, itu dilarang untuk Islam. Umat beragama lain, gak termasuk dalam larangan tersebut. Toh, di restoran terpampang informasi isi masakannya. Bukannya sembunyi-sembunyi.

Jadi, kenapa diprotes? Kalau gak mau makan daging babi, jangan datang ke restoran tersebut. Lagi pula untung restoran itu memberi tahu yang dimasak adalah daging babi. Karena itu, harusnya didukung. Bukan malah disuruh tutup. 

Justru informasi yang jelas malah bagus. Karena bagi mereka yang berkeyakinan gak makan daging babi bisa memilih restoran lain. Yang perlu didukung adalah produsen menjelaskan dengan detil informasi bahan yang digunakan. Itu jauh lebih penting.

Menuntut tutup restoran sama saja menghalangi orang berusaha. Perbuatan itu jauh lebih keji ketimbang sekadar menghindari mengkonsumsi daging babi. Mengkonsumsi daging babi hanyalah larang kepada personal. Anda mau mengikuti atau tidak, itu terserah saja. 

Menutup usaha orang akan membuat orang itu disusahkan. Itu melanggar hak orang lain. Bahkan meminta umat lain tidak mengkonsumsi babi –padahal hanya dilarang bagi umat Islam– adalah tindakan ngaco. 

Kayaknya untuk masalah toleransi, orang-orang itu perlu belajar dari nenekku. Sebab agama ujungnya bukan soal pengetahuan. Tapi lebih pada soal kearifan. Soal akhlak. Tidak menyakiti orang lain jauh lebih penting ketimbang niat menegakkan ajaran. 

Tidak perlu sekolah tinggi untuk menghargai hak orang lain. Cukup memahami bahwa sama seperti dirimu, orang lain juga punya hak yang sama untuk hidup sesuai dengan keyakinannya.

Ibu. Babeh. Jumat ini, cucumu mengirim sebait alfatehah. Semoga Allah meluaskan kuburmu. Semoga syafaat kanjeng Nabi tercurah kepadamu.

Alfatehah…

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: