Kolom Ganggas Yusmoro: BELAJAR MENJAGA KEPERCAYAAN DARI LELUHUR CHINA

0 0
Read Time:1 Minute, 57 Second

Masih begitu ingat, saat saya masih kecil, seringkali orangtua menyuruh belanja keperluan sehari-hari selalu ke toko Nyah Mbun. Kadang jika yang dicari tidak ada, bisa ke toko Nyah Petruk. Suatu ketika, karena kedua toko China tersebut agak jauh, apalagi harus mengontel sepeda, saya komplain.

“Mak, kenapa belanja harus musti ke tokonya Nyah Mbun atau ke toko Nyah Petruk? Toh di warung atau toko dekat-dekat sini ada yang jual.”

“Mereka lebih bisa dipercaya,” itu jawaban emak singkat.




Dalam berjalannya waktu, ketika saya bergaul dan mempunyai temen-temen dari semua etnis, seringkali memang saya merasakan bahwa temen WNI keturunan China lebih bisa dipercaya. Soal waktu juga sangat menghargai. Jika sudah janji, ada sebuah kepastian. Sangat bisa dipercaya.

Tidak ada kalimat “jika Tuhan menghendaki.” Sebuah kalimat absurd yang seringkali menjadi bahan untuk berkelit jika janji itu tidak ditepati. Alias meleset.

“Kepercayaan adalah segalanya,” itu ucapan seorang temen WNI Keturunan suatu ketika.

Saya jadi maklum, ketika era kompetitif seperti sekarang ini, usaha apapun menjaga kepercayaan adalah sebuah asset. Tidak main-main. Ini sudah dilakukan oleh mereka. Sudah menjadi darah daging. Sudah trade mark mereka bahwa dasar untuk sukses adalah menjaga kepercayaan!

Hebatnya, warisan kepribadian nilai-nilai eksistensi agar bisa dipercaya tetap dipegang teguh.

Jika sekarang ada pemimpin yang malah menebarkan isu rasis, ini adalah tragedi buruk. Sebuah kemunduran di era manusia untuk meraih sukses dan tetap bisa eksis dan survive. Mestinya seorang pemimpin memberi semangat agar rakyat ini bekerja lebih keras. Lebih jujur. Dan bersaing sehat dalam kompetisi. Landasannya adalah tetap menjaga kepercayaan.

“Maklumlah, Mas. Jika kekuasaan diraih dengan pedang, maka kekuasaan itu juga dijaga dengan pedang. Demikian juga, jika kekuasaan dicapai dengan rasis, tentu akan dijaga dengan rasis,” ini ucapan temen suatu ketika.

Saya tercenung. Terdiam lama. Yang jadi soal adalah, kenapa yang suka rasis justru mereka yang sok ngerti agama seperti halnya ustads Tengku? Saya jadi maklum, jangankan di Indonesia, di kolong langit, di dunia sekarang ekonomi dikuasai China. Karena faktanya memang, orang-orang China di samping pekerja keras juga lebih bisa dipercaya.

Apakah bangsa ini bisa berkompetisi dengan orang China?

“Susah, Dul. Selama pikirannya belum waras dan masih rasis. Apalagi susah dipercaya.”

“Lho, tapi kan mengaku sok paling beragama?”

“Haalllaaaahhh… mbelgedheeeeeeeess …”








Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: