Kolom M.U. Ginting: PENDUSTA

0 0
Read Time:3 Minute, 42 Second

“Apakah sudah begitu bobrok moral para politisi di negeri ini? Sudah rusakkah Akhlak dan Akidah demi sebuah ambisi dengan tega berbuat nista?”

Kolom Ganggas Yusmoro.

Wow . .  ini pertanyaan yang menarik untuk diteliti lebih mendalam dan lebih luas soal jawabannya yang pada hakekatnya merupakan dasar-dasar dan prinsip yang menentukan perkembangan dunia (eokonomi, politik, finans) pada Abad 20 dan Abad 21.


“Deep state” adalah istilah yang muncul dan jadi populer dengan munculnya Trump sebagai presiden negara Adi Daya AS. Mulanya orang-orang pada sungkan memakai istilah ini, karena dianggap atau diisukan berbahaya bagi existensi AS, dan juga tidak benar atau dikatakan tidak ada atau tidak mungkin terjadi di AS. Tetapi, sebulan 2 bulan Trump menjabat sebagai presiden, istilah ini jadi populer dan semakin terus terang diskusi dan perdebatannya di kalangan publik AS.




Media pada umumnya sudah mengakui terpecahnya AS jadi 2 kubu yaitu kubu Trump dan kubu anti-Trump yaitu kubu deep state. AS sudah jelas terpecah dua dan semakin jelas tiap hari berlalu. Sekarang, sudah jelas bagi populasi dunia di mana perbedaannya. Lebih jauh dari situ, semakin populer di kalangan publik AS bahwa deep state adalah pencipta fake news yang secara sistematis bertujuan mengacau dan kemudian bisa menjatuhkan Trump.

Diteliti lebih mendalam seperti terlihat sejak kampanye Pilpres bahwa ‘perbedaan’ antara dua calon presiden itu ialah antara ide nasionalisme (Trump) kontra ide globalisme/ internasionalisme neoliberal (Clinton).

Soal deep state ini yang pada mulanya didefinisikan sebagai aslinya di Timur Tengah, khususnya Turky adalah segerombolan manusia bagian dari administrasi/ birokrasi negara yang berdiri sendiri dan bertindak di luar pengetahuan exekutif itu sendiri. Pada zamannya, golongan ini bikin dan pakai tindakan kekerasan menghabisi lawan-lawannya di negara bersangkutan. Tetapi cara ini dirasakan tidak mungkin dijalankan di AS sekarang ini, dan deep state AS pakai cara lain yaitu pakai FAKE NEWS secara sistematis dan besar-besaran, dengan sasaran tertentu dan pasti. Dilakukan pula oleh Main Stream Media milik neolib, seperti CNN yang disebut oleh Trump sebagai CFN (Center Fake News). Karena itu juga Trump bilang kalau Main Stream Media sebagai ‘the enemy of the American people’.

Mengenai penjelmaan deep state ini di AS seorang penulis di The Economist pernah bilang:

In its present avatar, “deep state” seems set to go the way of “fake news” in American discourse, a once-useful term rendered meaningless by promiscuous repetition, often in reference to quite different things.”  Inilah cara baru yang sudah ditetapkan dan dijalankan oleh neolib internasional (sekarang deep state) kalau dibandingkan dengan cara lama dengan kekerasan atau berbagai pembunuhan (JFK) bahkan pembunuhan massal seperti Indonesia 1965.

Siapakah orang-orang di dalam deep state?




Di belakang deep state terutama ialah dari top level finance and industry dan organisasi inteligen negara (lihat Wikipedia). Soal finans atau duit, ‘siapa yang mengusai duit, dia menguasai dunia’ sudah sering kita dengar. Soal organisasi inteligen ini kekuatannya ialah dalam kerahasiaannya, dan telah menjadi ‘kekuasaan ke 4’ di AS, di samping 3 kekuasaan lainnya yaitu eksekutif, legislatif, judikatif.

Dalam prakteknya ‘kekuasaan ke 4’ the fourth power ini merupakan kekuatan dan sumber kekuatan penting bagi deep state. Sekarang, deep state ini sudah dikenal publik sebagai momok yang serius terutama karena fake newsnya yang sudah terkenal banyak mengacau dan memecah belah itu, dikenal publik AS sebagai “a clear and present danger to this country and to you.” – Fox News.

Sehubungan dengan usaha keras deep state menghantam Trump sebagai presiden, Edward Snowden ex anggota organisasi spionage NSA (National Security Agent) bilang:

“Don’t fear Trump, fear the surveillance state”.

Snowden atas dasar pengalamannya sendiri mengetahui bahwa yang berbahaya bagi keamanan rakyat, publik AS adalah the fourth power itu (surveillance), bukan Trump yang terpilih secara demokratis, dan seorang nasionalis yang mencintai nation AS.

Semakin jelas bahwa tujuan utama deep state dengan fake newsnya (hoax) yang sistematis itu ialah menjatuhkan nasionalist Trump, dan di Indonesia dengan fake news Saracen, gerakan 411, 212 dsb, bertujuan menjatuhkan Jokowi, presiden nasionalis Inonesia. Semakin jelas bagi publik Inonesia bahwa ‘fake news’ itu bukan fenomena lokal saja tetapi bersumber dari sarang yang sama: deep state atau yang dulu dikenal sebagai globalist neolib internasional yang punya tujuan utama menguasai dunia dan duitnya.

Ayo semua orang Karo dan semua anak bangsa,
be a part of conversation, be a part of solution!
Katakan apa yang harus dikatakan, jika diam saja tidak akan ada perubahan.









Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: