Kolom Nisa Alwis: ORANG INDONESIA

0 0
Read Time:4 Minute, 32 Second

Kemarin seorang ukhti memuji gadis berjilbab di samping saya, sekaligus ia menunjukkan tak ada kompromi baginya apalagi apresiasi pada yang hanya berselendang saja. “Alhamdulillah yang muda malah sudah hijrah” begitu kurleb ungkapannya. Selanjutnya ia bersemangat menunjukkan dirinya agen dakwah.

Intinya, baginya jilbab itu mutlak tlakk!

Ia samakan berjilbab bagai kewajiban ibadah haji, menjaganya bagai kesetiaan orang menjaga pernikahan… Uwong gendheng iki. Kejauhan main atau gimana ini. Mbak! Haji itu rukun Islam, kalau jilbab rukun apa?

Menikah untuk sehidup semati, kalau baju bukannya tiap hari biasa ganti-ganti?

Setali tiga uang ada yang juga serupa, tak senang melihat orang berkebaya. Baginya gamis syar’i adalah tempat berlabuh segalanya. Pusat kesempurnaan dunia (dan akherat tentunya).

Saya ingatkan jangan fanatik amat, sekedar pakaian bukanlah jaminan. Arab Saudi saja sekarang melakukan reorientasi. Tak bergaya ultra-konservatif lagi. Mereka sudah tahu, itu menghambat indeks pertumbuhan dalam negeri. Wanita di sana kini legal saja nampak rambut melepas burqa.

Sila update, apa dan mengapa visi KSA 2030. Ia nggak mau tahu. Malah kirim meme isinya: “Oh, target MBS itu bikin orang NU bahagia ya. Bisa pergi haji pake kebaya”. Haduh. Angel temen tuturanmu.

Saya tidak tahu pengalaman leluhurmu, tapi ini sedikit cerita dari nenek saya. Beliau berangkat haji kala muda di jaman Belanda. Menempuh perjalanan naik kapal berbulan-bulan. Selama di sana dan juga sekembalinya, beliau PAKAI KAIN KEBAYA layaknya orang Sunda, beserta selendangnya.

Rasanya, begitu pun famili jemaah haji yang berangkat sampai era 80an. Itu bukan pelanggaran! Anda jangan berpikir haji mabrur patokannya baju kekinian. Dan hingga akhir hayatnya apakah para nenek kita ada yang hijrah?

Ya nggak lah. Itu kan istilah anyaran dari kelompok tarbiyah. Tobat ya taubatan nasuha, tekad untuk lebih baik dalam sikap dan laku lampah. Itulah akhlak namanya. Sangat sempit jika hijab zaman now lambangnya.

Trend syar’i ini, malah jadi ruang kamuflase bagi para pesakitan yang menarik iba dan simpatik dengan mengubah penampilan di persidangan. Juga tahu kan, bagaimana potret-potret relijius terpampang di mana-mana saat musim Pileg dan Pilkada.

Itu nggak ada hubungannya samsek dengan kapabilitas dan kinerja mereka. Jual tampang saja. Jadi Nis, neneknya ihrom, wukuf, sa’i, pakai kebaya?? Ya nggak, Malih! Pake kancut. Kayak nggak tau aja, orang sini gimana sih kalau ibadah/ solat? Kan pakai mukena!

Andai tidak pura-purra lupa, pastinya ingat. Kapan istilah syar’i menyeruak di sini. Kemarin sore. Para Wali sejak awal nggak kampanye syar’inya baju karena itu bukan prinsip. Nggak penting, bukan syarat sahnya Islam. Yang tidak berjilbab sekarang sering dianggap non-muslim, minimal katanya nir-hidayah.

Etika pergaulan jadi sirna, karena ada yang merasa lebih sempurna. Aurat adalah produk fikih dan soal budaya, hasil ijtihad manusia. Orang-oang sekarang pada ngotot jilbab adalah perintah langsung dari Allah, seolah Ulama dahulu mengabaikan perintahNya. Ini pangkal masalahnya.

Nggak bisa memilah teks dan konteks, tapi merasa asisten Tuhan soal pakaian. Karena dahulu para Ulama bersikap arif dan bijaksana, akomodatif pada kearifan lokal dan khazanah budaya, inilah faktor Islam di negeri ini diterima.

Bayangkan jika sejak semula para dai berkata: “Camkan! Syarat wanita muslimah adalah ketertutupan”. Mungkin akan lain ceritanya. Siapa yang tertarik jika hal lumrah malah dipersusah. Sekarang dengan bangganya jemaah hijrah bilang dahulu wajar saja begitu, kini sudah saatnya kita kaffah. Ngarang!

Jadi orang asing di negeri sendiri itu maksudnya kaffah? Banyak yang mulai tersadar tak mau larut menanggung itu semua. Demi apa, coba?

Penelusuran Gus Nadirsyah Hosen misalnya, menemukan bahwa banyak hadits ancaman neraka dan rambut wanita, itu PALSU belaka. Alias mengada-ada, dibuat untuk menakut-nakuti dan propaganda. Menggemaskan sekali ya. Wanita dianggap apa?

Pengajian dengan spirit IM dan Wahabi biasanya penuh muatan ini. Bagi mereka perjuangan politik antara lain dengan mengikat identitas perempuan. Sedapat mungkin ditundukkan sebagai entitas rumahan. Pakaian wajib dibakukan, tak peduli kata kultur lagi.

Doktrin ini terus merembes ke sekolah-sekolah dan ke rumah-rumah. Nyaris tak ada resistensinya. Fenomena sekarang inilah jadinya… Ulama di seluruh dunia mengecam paham Wahabi yang anti budaya dan gencar gerakannya.

Jika ingin tahu kapan kita mulai terpapar aliran ini, ingat saja kapan para orangtua kita mulai tak nyaman disasak dan dicepol rambutnya lagi. Seni itu semakin pudar dan hilang karena jadi terlarang. Lalu ramai cap bid’ah dan syirik di sana sini.

Mulai marak yang mengharamkan hal-hal mubah, memperumit yang mudah. Bercampur sentimen pada pemerintah, dan banyak tahayulnya. Terhadap kain kebaya, hilang penghargaan, tak ada lagi minat. Bahkan mengenye seolah ia pakaian bangsa durjana.

Baju tradisi orangtua sendiri dianggap tidak manfaat, apa ndak kuwalat? Padahal di sana tersimpan nila-nilai kepribadian dan filsafat. Sejatinya agama hadir ingin memerdekakan manusia. Jilbab di Islam pernah jadi simbol pembeda kelas sosial di era perbudakan.

Semestinya jangan terpaku, sebab praktik jahiliyah itu sudah berlalu. Semua orang kini merdeka, mengapa perempuan malah balik terpenjara? Saatnya menanamkan prinsip bahwa takwa bukan karena bajunya. Fikih aurat 1000 tahun lalu, dengan setting Arabia apakah mutlak harus berlaku hingga sekarang di seantero dunia?

Fair saja. Perempuan-peempuan muda kini bisa kuliah di Mesir sampai Eropa tanpa harus ditunggui walinya. Sistem sosial sudah jauh lebih aman dan maju, mengapa soal baju begitu kaku?

Lahir dan besar berpijak di sini, di bumi khatulistiwa dengan iklim tropis dan kaya warisan berharga. Mau tumbuh jadi apa kita jika malah tercerabut dari akar budaya. Sebagai muslim kita melakukan Ibadah haji ke Mekkah dan Madinah. Tetapi selamanya kita tetap sebagai orang Indonesia.

Jaga dan sucikan juga negeri yang kita huni ini, jangan ngawang-ngawang lupa diri. Pakaian tradisional kita, salah satu manifestasinya. Jika tak lagi engkau kenakan, setidaknya jangan engkau campakkan dan haramkan.

#hubbulwathon

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: