Skip to toolbar

Kolom Sanji Ono: AHOK, CCTV DAN DALANG KERUSUHAN

0 0
Read Time:2 Minute, 3 Second

Keberhasilan Polri menangkap 442 Tersangka Aksi Kerusuhan 22 Mei salah satunya adalah berkat adanya 6000 CCTV pendeteksi wajah yang dipasang di Era Ahok Yang tersebar di seluruh Jakarta. CCTV berhasil merekam beberapa kejadian penting seperti terekamnya sebuah mobil ambulans milik salah satu Partai Tuhan, partai yang berinisal GERINDRA, yang mengangkut batu dan para perusuh, pembagian amplop yang duduga bayaran untuk aksi demo.

CCTV juga merekam kejadian penembakan para pemdemo dari jarak dekat oleh oknum penyusup.

Masih banyak kejadian lainnya yang menjelaskan kepada kita ada aktor intelektual di balik kerusuhan 22 Mei kemarin, Aktor biadab yang menginginkan Indonesia hancur lebur seperti Syria, Lybia, Mesir dan negara-negara di Timur Tengah lainnya yang porak-poranda karena perang saudara.

Di benak kita pasti muncul pertanyaan besar, aiapa aktor biadap tersebut?

Gua memiliki sebuah keyakinan Big Bos terbesarnya sulit utuk diungkap. Alasannya bukan karena polisi tidak mampu mengungkap, tapi karena bukti-bukti dan saksi di lapangan hanya mengarah kepada pelaku kerusuhan dan orang yang memerintahkan mereka. Tidak sampai pada siapa aktor intelektual teratasnya. Seperti kartel narkoba yang biasanya mata rantainya putus hanya sampai pada pengedar. Tak sampai menyentuh pemilik pabrik narkobanya.

Aktor kerusuhan 2 Mei lalu hanya martir yang rela mati demi menutup rapat siapa atasan mereka.

Majalah Tempo mengupas tuntas kronologi siapa di balik aksi 22 Mei. Mulai dari penyelundupan senjata dari Aceh hingga mobilisasi massa, pemetaan lokasi rusuh, dan lain-lain. Tapi, sekali lagi, Tempo hanya bisa mengusut sampai sebatas dalang di balik kerusuhan 22 Mei. Bukan The Big Bos, aktor intelektual perusuhnya.

Dik Nur nyeletuk: “Emang siapa sih, mas, The Big Bos Aktor Intelektual kerusuhannya?”

Dengan nafas berat, karena melihat es campur di atas meja, gua jawab: “Yah, yang pasti ngak jauh-jauh dari orang-orang yang sering meneriakan narasi kecurangan Pemilu, orang yang hobby lempar handphone dan gebrak meja, orang yang nanya arah kiblat ke mana padahal dia sedang berada di rumahnya,”

Sekali lagi, waktu membuktikan kalau sebuah prestasi itu tak dapat dibeli. Sejarah membuktikan, Ahok adalah salah satu Gubernur terbaik yang pernah dimiliki Jakarta. Dia bukan hanya menyelesaikan masalah yang ada di depan mata seperti macet dan banjir, tapi juga telah memikirkan masalah-masalah yang akan timbul jauh di kemudian hari. Terbukti ribuan CCTV lebih berguna dari ribuan UPS bernilai milyaran rupiah yang dia hapus dari usulan anggota dewan.

So, untuk semua ribuan CCTV yang terpasang di Jakarta, yang berhasil mengungkap ratusan pelaku kerusuhan, mari kita ucapkan: “Terimakasih, Pak Anies!”

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Sanji Ono: AHOK, CCTV DAN DALANG KERUSUHAN

  1. KOMENTAR
    Lanjutan Sejarah . . .

    “Masih banyak kejadian lainnya yang menjelaskan kepada kita ada aktor intelektual di balik kerusuhan 22 Mei kemarin, Aktor biadab yang menginginkan Indonesia hancur lebur seperti Syria, Lybia, Mesir dan negara-negara di Timur Tengah lainnya yang porak-poranda karena perang saudara.Di benak kita pasti muncul pertanyaan besar, siapa aktor biadap tersebut?” (Sorasirulo)
    Bisa dikatakan meyakinkan memang, penjelasan dan penemuan aparat keamanan (kepolisian) bahwa dengan fakta-fakta yang sudah ditemukan pastilah ‘dalang intelektual’nya juga akan terbongkar dan ditemukan.

    Kalau kita lihat logikanya, kerusuhan sepertinya dicetuskan atas dasar ‘permusuhan’ antara pendukung capres 01 kontra pendukung capres 02. Maka logikanya juga yang satu dibawah capres 01 jokowi/Ma’ruf kontra satunya dibawah pimpinan capres 02 Prabowo/Sandi. Kerusuhan dan teror ganas pembakaran dan timbulnya kematian 8 orang yang terjadi pagi hari dini 22 Mei di Petamburan jelas bukan dari pihak 01, tetapi logisnya 02, karena selama pertarungan ini tidak ada golongan ke 3. Karena itu yang bertanggung jawab kerusuhan dan teror ganas 22 Mei itu haruslah juga pimpinan 02. Tidak ada golongan ke 3 apalagi struktur pimpinan ke 3 selama konflik pilpres, tidak pernah ada selama itu. Yang selalu berkaok bergairah dan lancang menuduh kecurangan 01 secara sistematis, tersetruktur dan massif, ditambah lagi dengan ‘peoples power’ ialah pimpinan 02 bukan ‘golongan ke 3’ yang tidak ada atau belum ada.

    Tetapi sampai sekarang belum ada pengakuan langsung dari pimpinan 02 kalau massa teror bringas itu adalah massa mereka ataupun pengakuan tegas sebaliknya kalau massa bringas itu bukan massa mereka (02).

    Diteliti secara teori dan praktek selama proses pemilu sampai malam/subuh pagi 22 Mei, hanya ada dua golongan yaitu pendukung 01 dan pendukung 02. Dan logikanya 02 Prabowolah yang bertanggung jawab dalam soal teror ganas yang bikin kematian itu. Persoalannya apakah Prabowo mengakui, atau nantinya pengadilan bisa membuktikan bahwa Prabowo atau 02 lah yang bertanggung jawab dalam perpecahan atau ‘divide et impera’ kali ini, karena tidak ada golongan ke 3. Inilah satu seginya.

    Dari segi lain atau sudut pandang lain, kalau kita bandingkan dengan ‘divide et impera’, teror dan pembunuhan massal 1965. Siapa dalangnya?
    Dalangnya ialah pengadu domba antara komunis kontra anti-komunis. Siapa yang komunis? Pencipta komunisme ialah Marx, dan Marx disewa oleh bankir rentenir internasional (bank kartel) untuk mengarang komunisme yang sekarang sudah diketahui adalah hoax terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Hoax komunisme ini sudah berhasil mengorbankan ratusan juta jiwa manusia termasuk 3 juta di Indonesia 1965 (angka ini menurut pengakuan panglima operasinya Sarwo Edhie – Wikipedia).

    Ini bisa terjadi karena brain wash dan mind control pakai hoax komunisme yang telah berhasil membelah manusia dunia jadi dua bagian yang saling bermusuhan dan dengan suka rela saling bunuh, dan selebihnya hanya tinggal mempersenjatainya saja bagi tuan-tuan ahli pemerakarsa hoax komunisme ini. Kedua golongan sudah siap dengan suka rela saling bunuh, saling menghabiskan sampai ke akar-akarnya! Wow, bicara soal brain wash dan mind control! Masih adakah sekarang yang terkena hoax saling bunuh ini?

    Pada hal manusia adalah makhluk terpandai diantara semua makhluk karena punya struktur otak yang lain dari binatang. Kalau ayam tidak heran bisa di adu domba, dipersenjatai dengan taji pisau dikedua kakinya, ayamnya senang ! (?). Tetapi manusia kok bisa di brain wash jadi ayam laga sampai rela bunuh-bunuhan, habis-habisan pertaruhkan nyawa dan rela mengorbankan jiwanya jadi martir atau pahlawan, karena mau memperjuangkan komunisme atau dari pihak satunya mau menghabiskan komunisme dan komunisnya. Dimana kuncinya?

    Otaknya? Kesadarannya? Pengetahuannya? Artinya ialah bahwa otak manusia pembikin brain wash dan mind control itu jauh lebih ‘encer’ dari otak Aidit, Soekarno, Soeharto, Prabowo, Amien Rais, Rizieq, massa pendemo bringas 22 Mei dst, dan tentu juga rakyat-rakyat negeri-negeri dunia pada umumnya, karena penggagas divide et impera ini berhasil hampir seluruh dunia. Mengapa bisa begitu?
    Jawaban yang tepat tidak bisa dibantah ialah karena Pengetahuan soal Kontradiksi dalam masyarakat telah lebih dahulu dikuasai oleh pencipta divide et impera ini, dan karena itu sangat mulus memanfaatkannya demi tujuan Greed and Powernya. Penggagas brain wash dan mind control itu, atau penggagas divide et impera itu tahu betul dan hafal luar kepala seluk beluk Kontradiksi Utama dan juga seluk beluk berbagai kontradiksi dalam masyarakat di tiap negeri nasional dunia.

    Kontradiksi Utama itu ialah perjuangan kepentingan nasional nation-nation dunia KONTRA kepentingan global neolib yang mau merampok SDA dan mengambil alih tiap kekuasaan nation dunia. Kelebihan perampok SDA ini ialah otaknya lebih ‘encer’ untuk survive dalam mencapai tujuannya yang sangat jahat itu. Kelihaiannya terutama ialah, dia tidak mau langsung mempertentangkan dirinya dengan kekuatan tiap nation, tetapi dia cari atau ciptakan ‘ayam laga’ tersendiri bagi tiap bangsa. Seperti mengulangi lagi, di Indonesia 1965 pakai komunisme dan islam fanatik.

    Dalam pilpres 2019 tukang laga ini tidak lagi pakai komunisme, tetapi pakai radikalisme agama islam seperti HTI, FPI, WAHABI, PKS dll, dilaga atau dipertentangkan dengan ayam laga satunya yaitu KEKUATAN NASIONAL tadi. Dalam prakteknya di tahun 2019 ialah ‘ayam laga’ Prabowo kontra ‘ayam laga’ Jokowi. Sekiranya Prabowo suatu waktu bisa memahami soal ‘ayam laga’ ini, persoalan kontradiksi pilpres 2019 selesai, dia bisa kembali ke Indonesia dengan hati besar, dan bersama maju mengalihkan perhatian ke persoalan bangsa yang sesungguhnya, yaitu KESEJAHTERAAN RAKYAT INDONESIA.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: