Skip to toolbar

Kolom Juara R. Ginting: LIANG MELAS DATES

0 0
Read Time:3 Minute, 33 Second

Tahun 1992, saat saya mengunjungi kawasan ini, warga setempat membagi wilayah Liang Melas ke:
1. Liang Melas Berneh (Lau Baleng sekitarnya)
2. Liang Melas Gugung (Kuta Mbelin, Samperaya, Kuta Pengkih dan Kuta Kendit sekitarnya)
3. Liang Melas Jahe (Bahorok sekitarnya di Langkat Hulu)

Beberapa tetua bahkan mengatakan Liang Melas Jahe memanjang dari perbatasan Karo-Langkat hingga ke Teluk Aru (Selat Sumatra). Dengan begitu, Pulau Kampai, kata mereka, adalah bagian Liang Melas Jahe.

Akhir-akhir ini di media sosial, saya melihat adanya terminologi Liang Melas Dates. Istilah ini dulu itu tak pernah aku dengar. Dari pembicaraan di media sosial itu saya menangkap yang mereka maksud Liang Melas Dates kiranya adalah Liang Melas Gugung.

Issue yang mencuat dari Liang Melas Dates ini adalah soal sarana infrastuktur yang minim atau buruk, khususnya jalan dan listrik. Bahwa ada sebuah issue lain yang membawa wilayah ini menjadi percakapan tingkat nasional hampir tidak ada yang tahu.

Di tingkat Kabupaten Karo, kawasan itu lebih dikenal sebagai ladang ganja (istilah yang agak berlebihan). Tapi, di kalangan pedagang buah hingga ke Jakarta dikenal sebagai penghasil jeruk madu yang terbaik di Indonesia.

Jalan ke Liang Melas Gugung

Ketika saya di sana, saya menemukan jejak-jejak mafia tanah yang mengkombinasikan pembalakan liar dengan dokumen negara (Departemen Sosial RI 1958) yang menyebut Karo adalah suku terasing. Keputusan ini belum pernah dicabut.

Itu yang dijadikan oleh Depsos Provinsi Sumut di tahun 1970an sebagai dasar membuka Pusat Rehabilitasi Masyarakat Terasing (PRMT) di Kuta Kendit, Liang Melas Dates itu.

PRMT itu dikenal juga dengan Translok (transmigrasi lokal) karena warga yang dimukimkan di sana bukanlah warga Liang Melas tapi ada yang asal Tiga Lingga, Tigabinanga, Pancurbatu, dan Binjai. Makanya ada orang-orang Jawa dan Batak di sana selain orang-orang Karo dari Tiga Lingga, Tiga Binanga dan Pancubatu.

Konsepnya PRMT sangat bertentangan dengan Translok. Menurut analisis saya, manipulasi pertanahan dan kehutanan (menyebar ke perbankan dalam arti permodalan/ pinjaman) sudah berawal di sini. Semua atas nama rakyat setempat yang masih melaksanakan perladangan berpindah-pindah (dengan menebang hutan) yang kenyataannya sama sekali tidak benar.

Jeruk madu dari Liang Melas Gugung yang, selain rasa dagingnya manis dan gurih, kulit buahnya tebal sehingga bisa bertahan lama di perjalanan (tahan terhadap cuaca panas dan benturan).

Ketika salah seorang mahasiswa saya bercerita pengalamannya KKN di Kuta Pengkih, saya ajak dia tertarik meneliti tentang PRMT di Kuta Kendit. Pendek cerita, dia kembali meneliti ke lapangan dan menghasilkan sebuah skripsi dengan saya sebagai Pembimbing 1.

Ketika Prof. Dr. Masri Singarimbun (UGM) mengajak saya cakap-cakap di Lona Garden (Medan), saya mengajaknya pula ikut menguji ujian meja hijau mahasiswa saya itu. Dia bersedia. Dan, kami bertiga, memberinya nilai A. Tapi, sebenarnya, di persidangan itu terjadi perdebatan sengit antara saya dan Pak Masri.

Skripsi itu menelanjangi manipulasi Depsos atas belum dicabutnya keputusan Karo adalah suku terasing, tapi Pak Masri bilang: “Biarlah, yang penting ada dana turun dari atas ke Pemerintah Kabupaten Karo. Dia bertahan dan saya bertahan dengan pendapat masing-masing.

Setahun kemudian, Masri Singarimbun menulis di kolomnya di Majalah Tempo penyesalannya tidak mendengarkan peringatan saya. Saat dia menguji skripsi itu, dia sedang mengadakan kunjungan dinas ke Aceh dan Sumut sebagai Ketua Pengawas Proyek Rehabilitasi Suku-suku Terasing di Indonesia.

Dia rupanya mulai sadar bahwa pembalakan liar itu bukan dilakukan oleh warga setempat, tapi oleh mafia yang bekerjasama dengan oknum-oknum pemerintahan.

Kini, di saat menjelang Pilkada Kabupaten Karo 2020 ini, dicetuskanlah janji akan menjadikan Liang Melas Dates satu kecamatan. Saat ini, Liang Melas Dates ini terbagi ke dalam beberapa kecamatan sehingga mereka menempuh jarak yang jauh menuju kantor kecamatan.

Dari suara-suara tim sukses kandidat yang menjanjikan Liang Melas Dates jadi satu kecamatan (bila dia memenangkan Pilkada 2020 ini), tidak ada atau sangat minim penjelasan apa sebenarnya permasalahan di sana sehingga disimpulkan solusinya adalah pembentukan satu kecamatan itu.

Menurut saya, masalah warga yang mencuat ke permukaan adalah jalan dan listrik. Mengapa solusinya pembentukan sebuah kecamatan? Saya belum paham.

Atau ada masalah yang lebih mendasar? Saya sangat yakin, kebanyakan yang berbicara mengenai Liang Melas Dates di media sosial punya pengetahuan yang sangat sedikit tentang kawasan itu.

Kalau kam katakan sering ke sana sedangkan kam labo anak jah, dahndu radu tawa kari kita.

Salam siangkan.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

One thought on “Kolom Juara R. Ginting: LIANG MELAS DATES

  1. Tulisan Juara R. Ginting diatas masih mempunyai arti penting dalam perjalanan dan perjuangan Karo sebagai salah satu suku Bhineka Tunggal Ika, dalam proses mulai dari ethnic/cultural revival dunia bersamaan dengan runtuhnya blok Timur menuju Kontradiksi Baru dunia Perjuangan nasional bangsa-bangsa sampai ke tingkat sekarang era revolusi ‘global’ QAnon Movement.

    “Dia (Prof Masri Singarimbun) rupanya mulai sadar bahwa pembalakan liar itu bukan dilakukan oleh warga setempat, tapi oleh mafia yang bekerjasama dengan oknum-oknum pemerintahan.” Sangat mantap kesimpulan Juara R Ginting! Siapa dalam pemerintahn ketika itu bisa dibaca di tulisan “Suku Karo Ditipu” di wordpress karobukanbatak.

    Di artikel “Suku Karo Ditipu” terlihat juga bagaimana diktator militer Soeharto menggunakan etnis-etnis mayoritas dominan untuk ‘menaklukkan’ etnis/daerah minoritas seperti ‘jawanisasi’, islamisasi, Tahura menjadi Taman Hutan Raya Sisingamangaraja XII, pembatakan Karo, ‘Perang Batak’ yang kemudian diubah jadi ‘Perang Karo’ oleh prof Uli Kozok, dsb dst. Desakan dan tekanan dari diktator Soeharto atas suku-suku minoritas seperti Karo, tentunya tidak bisa dilepaskan dari pengabdian Soeharto terhadap penguasa imperialis AS yang sekarang kita namai ‘Deep State’ atau ‘The Global Power Structure’ (istilah Trump) atau ‘Rezim Globalis’ (istilah komjen Dharma Pongrekun).
    Khusus di Sumut, orang Karo, orang Batak dan orang Mandailing dijamin sudah lebih banyak memahami akal bulus Soeharto/Deep State ini. Apalagi ditambah dengan faktor utama yang sangat penting muncul terakhir yaitu QAnon Movement, sebagai faktor penting dalam perjuangan nation-nation dunia untuk menghabiskan dan mengubur untuk selama-lamanya sisa terakhir penguasa jahat kabalis dunia yang jadi sumber perang dan pertengkaran semua etnis dan semua bangsa yaitu The Global Power Structure atau Rezim Globalis itu.
    Dengan berakhirnya rezim kabalis ini, tingkat baru perjuangan nasional bangsa bangsa dunia akan dimulai dengan tingkat kualitas baru, artinya Kontradiksi Utama yang baru akan muncul dalam wujud baru.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: